09
Jan
11

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SAINS BAGI ANAK USIA DINI YANG MENGALAMI GANGUAN VISUAL

PENDAHULUAN
A. Konsep anak yang mengalami gangguan visual berdasarkan ciri dan karakteristiknya.
Pasal 28c ayat 2 Amandemen UUD 1945 berbunyi “setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”. Tahun 1979, Badan International anak yang disponsori oleh Badan Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menghasilkan Deklarasi PBB terhadap hak-hak anak. Pada butir ke-5 (lima) dan butir ke-8 (delapan) disebutkan “Hak untuk mendapatkan perawatan khusus bila cacat”, “hak untuk mendapatkan hak yang sama, tidak dibedakan dan didiskriminasikan”.
Hak tumbuh kembang anak adalah salah satu kategori hak yang terdapat dalam konvensi Hak-Hak Anak. Konvensi ini merupakan salah satu perjanjian Internasional yang dihasilkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Di Indonesia, konvensi ini dimuat dalam Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention The Rights of The Child.
Sesuai dengan kategori hak-hak anak yang dikeluarkan oleh UNICEF (badan PBB yang khusus menangani masalah anak), hak tumbuh-kembang anak meliputi:
all kinds of education (formal and non-formal) and the right to as standard of living which is adequate for chid’s physical, mental, spiritual, moral and social development.
(semua jenis pendidikan baik formal maupun non formal dan hak terhadap standar hidup yang sesuai dengan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial).
Adanya pengakuan dan perlindungan yang sama, terhadap anak normal dan anak berkebutuhan khusus dalam bidang pendidikan dan pembelajaran bertujuan agar kesejahteraan setiap insan manusia terlindungi dan memperoleh pemenuhan sebagaimana mestinya. Berdasarkan sudut pandang pendidikan Corn (Widjajatin & Hipiteuw, 1994:200) menjelaskan bahwa “low vision is severely visually impaired after correction but can increase visual functions with optical ornon-optical and or with tehnique and environment modifield” (anak yang mengalami gangguan visual merupakan pribadi yang memiliki kecacatan visual yang jelas tetapi masih memiliki sisa penglihatan yang dapat digunakan). Anak yang mengalami gangguan visual perkembangannya berbeda dengan anak-anak yang mengalami gangguan lainnya, tidak hanya dari sisi penglihatannya tetapi juga dari hal lain.
Bagi peserta didik yang memiliki sedikit atau tidak melihat sama sekali, jelas ia harus mempelajari lingkungan sekitarnya dengan menyentuh dan merasakannya. Perilaku untuk mengetahui objek dengan cara mendengarkan suara dari objek yang akan diraih adalah perilakunya dalam perkembangan motorik.

1. Ciri-ciri anak yang mengalami gangguan visual

Ciri anak-anak yang mengalami gangguan visual pada umumnya sama dengan siswa normal lainnya, seperti yang diungkapkan oleh Scoll (1986:24) ”person with visual impairment are diverse group in society. They are thin and fat, tall and short, fun loving and grouchy, they have all characteristics found in any group of people” (orang yang mengalami gangguan visual dalam kelompok masyarakat itu bermacam-macam. Mereka ada yang kurus dan gendut, tinggi dan pendek, periang dan pemurung, mereka memiliki berbagai karakteristik layaknya orang normal dalam komunitas masyarakat).
Peabody (2002 dalam Mangunsong), ciri-ciri umum anak yang mengalami gangguan visual diantaranya adalah:
a. susah mencapai,
b. mudah lelah,
c. mempunyai masalah emosional.

Menurut Widjajantin dan Hitipeuw (1994:10), anak yang mengalami gangguan visual mempunyai ciri-ciri:
a. selalu mencoba mengadakan fixation (melihat suatu benda dengan memfokuskan pada titik-titik benda),
b. menanggapi rangsangan cahaya yang datang padanya,
c. bergerak dengan rasa penuh percaya diri, hal ini karena mereka merasa masih dapat melihat, bahkan tak jarang mereka bangga untuk menuntun temannya yang tuna netra total,
d. merespon warna, terutama warna yang kontras karena pantulan warna tersebut masih dapat ditangkap oleh sisa penglihatan yang rendah,
e. dapat menghadapi rintangan-rintangan yang lebih besar dengan sisa penglihatan mereka,
f. memiringkan kepala jika akan memulai suatu pekerjaan sebagai upaya menyesuaikan cahaya yang ada dan daya lihat,
g. mempu mengikuti gerak badan dengan sisa penglihatannya,
h. tertarik pada benda yang bergerak,
i. mencari benda yang jatuh dengan sisa penglihatannya sebagai bukti bahwa mereka mampu melihat,
j. jika berjalan sering membentur atau menginjak-injak benda tanpa sengaja, terutama benda-benda kecil yang jatuh ke lantai, seperti kapur, pulpen dan lain-lain, dikarenakan mereka sukar melihat
k. berjalan sering dengan menyeret atau menggeser kaki, untuk menghindari benda kecil terinjak,
l. kesulitan menunjuk benda atau mencari benda kecil kecuali warnanya kontras,
m. kesulitan melakukan gerakan-gerakan yang halus dan lembut,
n. selalu melihat benda-benda dengan global atau menyeluruh,
o. koordinasi atau kerjasama antara mata dengan anggota tubuh lemah.

2. Karakteristik anak yang mengalami gangguan visual
Perkembangan kognitif anak yang mengalami gangguan visual secara umum tidak mengalami hambatan berarti, Samuel P,Hayes (1950 dalam Hallahan, 1987:294) menyatakan bahwa ”kemampuan inteligensi anak yang mengalami ganguan visual tidak secara otomatis menjadikan diri mereka mempunyai inteligensi yang rendah”. Daya ingat yang kuat disebabkan mereka mempunyai kemampuan konseptual (conceptual abilities). Menurut Lowenfeld (1948), terdapat beberapa hal yang berpengaruh buruk terhadap perkembangan kognitifnya, yaitu:
a. jarak dan beragamnya pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik. Kemampuan ini terbatas karena mereka mempunyai perasaan yang tidak sama dengan anak yang mampu melihat secara normal,
b. kemampuan yang telah diperoleh akan berkurang dan akan berpengaruh terhadap pengalaman dan lingkungannya,
c. tidak memiliki kendali yang sama terhadap lingkungan dan diri sendiri.

Perkembangan komunikasi anak yang mengalami gangguan visual pada umumnya sangat berbeda dengan anak yang mampu melihat secara normal. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru berkaitan dengan perkembangan komunikasinya antara lain:
a. bahasa akan sangat berguna untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di lingkungannya dengan menanyakan apa yang terjadi dilingkungannya, sehingga orang lain mampu berbicara dengannya,
b. membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengucapkan kata pertama,
c. mulai mengkombinasikan kata-kata ketika perbendaharaan katanya mencakup sekitar 50 kata dan menggunakan kata yang ia miliki untuk berbicara tentang kegiatan dirinya.
d. Pada umumnya memiliki kesulitan dalam menggunakan dan memahami kata ganti orang, sering tertukar antara ”saya” dengan ”kamu”.

Kemampuan taktil yang tinggi pada anak yang mengalami gangguan visual disebabkan adanya dua kemampuan persepsi taktual, yaitu synthetic touch kemampuan untuk melakukan eksplorasi melalui indera peraba terhadap benda-benda yang bentuknya cukup kecil tetapi masih dapat diraba oleh satu atau dua belah tangannya dan analytic touch kemampuan sentuhan dengan indera peraba terhadap beberapa bagian tertentu dari suatu objek.

B. Teori motivasi belajar pada anak yang mengalami ganguan visual
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga Depdiknas Balai Pustaka 2005, pengertian motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu; usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu, tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Motivasi belajar sangat ditentukan oleh keadaan diri dan lingkungannya, maka secara umum Makmun (2001:37) mengemukakan bahwa “motivasi tersebut timbul dan tumbuh kembang dengan jalan:

1. Faktor intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor yang datang dari dalam diri individu itu sendiri tanpa dipengaruhi oleh orang lain atau timbul dengan sendirinya yang potensial dimiliki oleh individu yang bersangkutan sejak dilahirkan. Faktor intrinsik dinamakan oleh Cofe dan Appley (Daryono, 1996:51) dengan istilah “motivasi alamiah (motivasi dalam diri yang tidak disadari)”. Mengambil rujukan dari pendapat Frued bahwa motivasi itu adalah sebuah energi atau kekuatan yang sebenarnya sudah ada dalam diri individu yang mempengaruhi terhadap perilakunya.
Faktor intrinsik ini antara lain adalah minat, bakat, potensi yang dimiliki oleh anak yang mengalami gangguan visual sejak lahir. Faktor-faktor ini apabila dimanfaatkan secara optimal akan dapat mempengaruhi motivasi belajar untuk menggapai tujuan yang diinginkannya, namun melalui proses pembelajaran dan pengaruh pengalaman yang dia dapat dari lingkungan sekelilingnya, faktor-faktor ini dapat berubah dan berkembang ke arah yang lebih baik atau malah sebaliknya.

2. Faktor Ekstrinsik
Faktor entrinsik adalah faktor yang datang dari lingkungan sekitarnya yang sangat dipengaruhi oleh orang lain atau timbul karena ada stimulus lingkungan yang mengarahkan perbuatan tingkah laku seseorang ke arah tujuan yang diinginkan. Faktor entrinsik ini dinamakan pula oleh Cofe dan Appley (Daryono,1996:51) dengan istilah “motivasi yang disengaja (motivasi yang terencana untuk diri dan orang lain)”.
2.1. Lingkungan belajar
Apabila lingkungan belajarnya mendukung dalam pemenuhan aksesibilitas anak, maka ini akan meningkatkan motivasi belajar anak yang mengalami gangguan visual, karena mereka merasa terfasilitasi dalam belajarnya dan begitupun sebaliknya. Yusuf (2002:38) menyatakan “banyak hal yang belum mendukung kemungkinan penyandang tunanetra dapat hidup mandiri. Penyandang tuna netra sebenarnya mampu melakukan kegiatan seperti orang awas, namun karena fasilitas penunjang belum tersedia di lingkungan, seperti tempat penyebrangan khusus, dalam banyak hal mereka masih sering membutuhkan orang lain”.

2.2. Teman sebaya
Surya mengatakan (2003:1) “kelompok teman sebaya atau peer group adalah kelompok individu yang memiliki usia relatif sama”. Keterlibatan remaja ke dalam kehidupan kelompok teman sebaya memberikan manfaat yang dapat dipetik bagi remaja secara individual, yaitu:
a. memberikan rasa aman,
b. memberikan hiburan yang menyenangkan,
c. memberikan pengalaman dalam pergaulan yang cocok dengan orang lain,
d. membantu remaja untuk mengembangkan sikap toleransi dan saling memahami,
e. memberikan kesempatan untuk memperoleh dan mengambangkan keterampilan-keterampilan sosial,
f. memberikan kesempatan untuk menilai orang lain,
g. memberikan pola-pola dan standar perilaku remaja,
h. memberikan banyak peluang untuk mencapai kemerdekaan pribadi dan kesetiaan kelompok,
i. membantu remaja mengembangkan sikap kreatif.

Hurlock menambahkan (1999:215) bahwa “manfaat kehidupan teman sebaya yang ditandai dengan minat yang tinggi untuk terlibat dalam segala kegiatan kelompok teman sebaya dapat dijadikan tempat bagi remaja untuk mengasah keterampilan berinteraksi, sehingga melalui interaksi kelompok teman sebaya tersebut remaja dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan, keterampilan, dan sikap berani mengambil risiko, mengembangkan sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Selain itu juga mereka dapat saling membelajarkan, mengungkapkan ide-idenya dan bersikap secara kreatif.
2.3. Orang tua atau keluarga
Surya (2003:23) mengatakan bahwa “dalam kegiatan operasionalnya pihak sekolah khususnya para guru merupakan salah satu unsur pemerintah dan orang tua merupakan unsur keluarga. Keduanya mempunyai subyek yang sama yaitu peserta didik. Tujuannya pun sama yaitu perkembangan peserta didik demi keberhasilannya di masa yang akan datang. Kasih sayang pada hakikatnya merupakan kebutuhan asasi setiap anak. Dengan perlakuan yang baik, didasari dengan kasih sayang, maka besar harapan anak akan berkembang menjadi sumber daya manusia yang bertakwa dan dengan sendirinya akan menjadi produktif, kreatif sehingga menjadi manusia yang bermakna bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan pembangunan umat secara keseluruhan.
2.4. Guru
Guru yang sering diartikan dengan istilah “digugu dan ditiru” harus menjadi contoh yang baik bagi siswanya, begitupun guru harus berusaha memberikan stimulus-stimulus yang positif pada siswa agar siswa terus termotivasi dalam belajarnya. Oleh karena itu guru menjadi faktor ekstrinsik yang sangat penting dalam membangkitkan motivasi belajar siswa yang mengalami gangguan visual yang belajar bersama siswa yang nomal.

PEMBAHASAN
A. Strategi pelaksanaan pembelajaran sains bagi anak usia dini
1. Pengertian pembelajaran sains

Secara sederhana istilah pembelajaran bermakna sebagai upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui upaya dan berbagai strategi, metode dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan. Pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang mengkondisikan untuk merangsang seseorang atau kelompok orang agar bisa belajar dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Pembelajaran sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip tetapi juga merupakan suatu proses penemuan untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya. Pendidikan sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu memahami alam sekitar secara alamiah. Pendidikan sains di arahkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitarnya.

2. Fungsi dan tujuan pembelajaran sains
Fungsi dan tujuan pembelajaran sains pada anak usia dini :
2.1. Membantu anak usia dini menguasai produk sains :
– Membantu anak dalam pengenalan dan penguasaan :
a. Fakta, yaitu hal yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi.
b. Teori, yaitu pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi.
c. Konsep, yaitu rancangan; ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret.
d. Prinsip, yaitu asas kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir atau bertindak.
e. Hukum, yaitu peraturan atau adapt yang secara resmi dianggap mengikat yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah.
f. Istilah, yaitu kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang khas di bidang tertentu.
g. Proses, yaitu rangkaian tindakan, pembuatan atau pengolahan yang menghasilkan produk.
h. Problem solving, yaitu sebagai pemecah masalah yang dilakukan oleh hasil pemikiran sendiri.
– Membantu anak mengenali, menguasai kumpulan pengetahuan, menjelaskan yang diketahuinya itu secara memadai kepada orang lain dan menyampaikan cara-cara yang digunakannya.
2.2. Membantu anak usia dini menguasai proses sains :
– Membantu anak dalam penguasaan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam menggali sains sehingga anak menguasai cara kerja yang ditempuh dalam menyingkap alam dan menyelesaikan masalah yang terkait di dalamnya.
– Anak secara bertahap dan sederhana diperkenalkan dengan cara atau proses mengungkap sains yang benar, seperti proses :
a. Mengamati, yaitu melihat dan memperhatikan dengan teliti.
b. Menggolongkan, yaitu membagi-bagi atas beberapa golongan.
c. Mengukur, yaitu menghitung ukurannya (pangjang, besar, luas, tinggi, dsb) dengan alat tertentu.
d. Menguraikan, yaitu melepaskan hubungan bagian-bagian dari induk atau pusatnya.
e. Menjelaskan, yaitu menerangkan; mennguraikan secara terang.
f. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tentang alam.
g. Merumuskan problem, yaitu menyebutkan (menyimpulkan) suatu masalah dengan ringkas dan tepat.
h. Merumuskan hipotesis, yaitu menyebutkan (menyimpuklan) sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat, meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan; anggapan dasar.
i. Merancang penyelidikan termasuk eksperimen, yaitu membuat percobaan yang bersistem dan berencana untuk membuktikan kebenaran suatu teori.
j. Mengumpulkan dan menganalisis data, yaitu mengumpulkan dan melakukan penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya
k. Menarik kesimpulan, yaitu mengambil keputusan yang diperoleh berdasarkan metode berpikir induktif atau deduktif, dan sebagainya.
2.3. Membantu anak usia dini menguasai nilai sains :
– Membantu anak secara bertahap diarahkan pada suatu pembentukan pribadi atau karakter, seperti sikap jujur, kritis, kreatif, positif terhadap kegagalan, kerendahan hati, tidak mudah putus asa, keterbukaan untuk dikritik dan diuji, menghargai dan menerima masukan, berpedoman pada fakta dan data yang memadai, hasrat ingin tahu yang tinggi dan sebagainya.

3. Strategi belajar bagi anak yang mengalami ganggguan visual
Dalam mendukung aktivitas belajar anak yang mengalami gangguan visual, guru sebaiknya memilih pendekatan yang tepat dalam pengajaran dengan memperhatikan empat pokok utama yang dibutuhkan dalam optimalisasi sisa penglihatannya yaitu; cahaya, kontras, jarak dan ukuran. Pendekatan yang bisa digunakan guru adalah “pendekatan stimuli penglihatan, pendekatan efesiensi penglihatan dan pendekatan pengajaran menggunakan sisa penglihatan” (Hosni, 2002).
Dengan stimulasi penglihatan diharapkan anak memiliki kesadaran terhadap rangsangan dari luar dirinya baik dalam bentuk cahaya meupun objek. Setelah memiliki kesadaran anak yang mengalami gangguan visual akan memfokuskan perhatiannya, dan ada dorongan untuk mengeksplorasi lingkungan dan objek dan pada akhirnya akan mengenal objek dari wujud aslinya, simbol yang mewakilinya meskipun dalam bentuk simbol abstrak. Dengan sisa penglihatannya yang masih banyak biasanya mereka sudah memiliki kesadaran dan sudah memiliki pengalaman dalam memfungsikan matanya di lingkungan, karena itu tinggal mengefesiensikan penggunaan penglihatannya. Efesiensi penggunaan penglihatan tercipta bila objek yang akan dilihat dan lingkungannya memiliki keempat aspek tadi sesuai dengan yang dibutuhkan penglihatan anak yang mengalami gangguan visual.
3.1. Hosni (2002) menjelaskan keempat aspek yang dapat mengefesiensikan penglihatan dan memfungsionalkan lingkungan pada anak yang mengalami gangguan visual adalah :
1. Aspek cahaya
a. sepanjang masih memungkinkan, manfaatkan cahaya alamiah yang datang dari luar melewati jendela atau genting kaca,
b. menyesuaikan posisi duduk dan kebutuhan cahaya anak yang mengalami gangguan visual dengan datangnya arah cahaya,
c. cahaya yang tidak sesuai dengan kebutuhan, membuat anak akan mengalami kesulitan dan tidak efesien menggunakan matanya dalam membaca serta cepat lelah bila disuruh membaca,
d. menghindari tempat duduk yang menghadap cahaya,
e. cahaya sintesis dapat digunakan apabila cahaya alamiah tidak mendukung,
f. cahaya sintesis seperti lampu listrik, harus memperhatikan pula tentang intensitasnya, arahnya, tidak membuat panas dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
2. Aspek kontras
a. kekontrasan biasanya terlibat di dalamnya masalah warna,
b. kekontrasan berhubungan dengan warna latar belakang, makin menyolok perbedaan warna di antara objek dengan warna latar belakang makin tinggi tingkat kekontrasannya,
c. anak yang mengalami gangguan visual sering kehilangan objek bila objek tersebut berada di latar belakang yang sama atau sedikit berbeda warna dengan objek,
d. warna yang tidak memantulkan cahaya lebih dapat dilihat,
e. pengecetan warna ruangan (tembok, kusen, daun pintu dan jendela) yang memperhatikan aspek kekontrasan akan membuat anak yang mengalami gangguan visual merasa aman, aksesibel, dan fungsional di ruang tersebut.
3. Aspek jarak
a. anak yang mengalami gangguan visual dapat melihat objek dengan jelas bila jarak antara objek dengan penglihatannya sesuai,
b. biarkan anak yang mengalami gangguan visual melihat objek sedekat apapun. Setiap anak yang mengalami gangguan visual mempunyai jarak sendiri untuk melihat objek,
c. bila objek yang akan dilihat terlalu jauh dengan posisi anak yang mengalami gangguan visual, maka dekatkan objek lihat tersebut.
4. Aspek ukuran
a. suatu objek bisa terlihat oleh anak yang mengalami gangguan visual, tergantung dari ukuran objek tersebut,
b. pada sebagian anak yang mengalami gangguan visual, ukuran objek bisa terlihat lebih besar dan jelas bila didekatkan dengan matanya,
c. untuk bahan bacaan, ukuran huruf ditetapkan tergantung pada usia anak yang mengalami gangguan visual, untuk usia TK lebih besar ukuran hurufnya dengan usia kelas 1-3 SD, di atas usia kelas 3 SD ukuran hurufnya makin kecil.
5. Alat bantu untuk anak yang mengalami gangguan visual
Tarsidi (1999:19) “anak-anak penyandang ketunanetraan mungkin dapat terbantu dengan berbagai alat bantu low vision dan sebaiknya didorong untuk menggunakannya baik di rumah, di sekolah maupun ditempat bermain”. Alat-alat bantu tersebut adalah alat-alat proyeksi dan pembesar yang memberi kemudahan berupa lensa khusus, lensa ini dapat dijepitkan pada kacamata biasa atau dapat dipegang (kaca pembesar) yang sangat mudah digunakan dan bermanfaat untuk membaca bahan cetak.
3.2. Pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan visual
Pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan visual akan jauh lebih baik jika pembelajaran tersebut dilakukan dengan mengefesienkan penggunaan penglihatan (efisiency in visual functioning) seperti dijelaskan Corn (1986:99) “siswa low vision dimungkinkan belajar dengan berbagai pendekatan yang memaksimalkan penggunaan kemampuan penglihatannya. Efesiensi dalam penggunaan penglihatan disesuaikan dengan kemampuan penglihatan untuk mengerjakan tugas yang diingikan”. Pendekatan pembelajaran dengan menggunakan penglihatan bagi anak yang mengalami gangguan visual didasarkan pada model dimensi penggunaan penglihatan dari Corn (Corn’s model of visual functioning):

1. Program stimulasi penglihatan (vision stimulation programs)
Program ini digunakan untuk menstimulasi anak yang mengalami gangguan visual yang memiliki sisa penglihatan sangat minim dan tidak berkembang dengan tujuan untuk menstimulasi sisa penglihatan siswa dapat terangsang.
2. Latihan efesiensi penglihatan (vision efesiency training)
Latihan efesiensi penglihatan bertujuan untuk melatih anak yang mengalami gangguan vision agar dapat memfungsikan penglihatannya dalam situasi pendidikan dan interaksi dengan lingkungan.
3. Pengajaran pemanfaatan sisa penglihatan
Pengajaran pemanfaatan sisa penglihatan adalah sebuah upaya untuk mengajari siswa memanfaatkan sisa penglihatannya dengan memberikan bantuan atau alat koreksi (kaca pembesar, dll) sehingga proses pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan visual dapat lebih efektif dengan memaksimalkan penglihatan yang masih dimilikinya.

B. Media pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan visual
1. Pengertian media

Association of Education and Communication Technology atau AECT memberikan batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. Selanjutnya Gagne (1970) mengemukakan bahwa media adalah berbagia jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar.
Dalam proses belajar mengajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, guru menggunakan media pembelajaran untuk mengefektifkan komunikasi dan interaksi dengan siswanya. Media pembelajaran yang digunakan guru secara masal dapat berupa radio, televisi, film, slide, video, dan OHP, sedangkan secara individual atau perorangan guru dapat menggunakan media pembelajaran berupa modul, komputer, radio kaset, dan video recorder (Arsyad, 1977).

2. klasifikasi media pembelajaran
Dalam pengklasifikasian media pembelajaran ada tiga kelompok media, yaitu:
2.1. Media audio
Media yang termasuk pada kelompok ini hanya dapat menghasilkan bunyi atau suara saja, misalnya kaset, tape recorder dan radio.
2.2. Media visual
Media visual yaitu media yang hanya dapat memperlihatkan rupa dan bentuk. Media ini dibagi menjadi dua yaitu media visual dua dimensi dan media visual tiga dimensi. Media visual dua dimensi terbagi lagi menjadi dua bagian media, yaitu media dua dimensi pada non-transparansi yaitu gambar, lembaran batik, grafik, poster dan foto. Media visual dua dimensi pada bidang transparansi seperti slide, film strip dan lembaran trasparansi. Media visual tiga dimensi misalnya model dan benda sebenarnya.
2.3. Media audio visual
Media yang dapat menghasilkan rupa dan suara dalam satu unit, misalnya TV, film suara dan video (Sulaiman, 1988).

Pada hakekatnya media yang beraneka ragam macamnya akan dapat bermanfaat dalam pengajaran apabila mempertimbangkan jenis kemampuan yang akan dicapai sesuai dengan tujuan. Sebagaimana diketahui bahwa tujuan pengajaran itu menjangkau aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam memilih media pembelajaran, kegunaan dari berbagai jenis media itu sendiri harus pula dikembangkan, karena setiap jenis media mempunyai nilai sendiri-sendiri. Selain itu kemampuan guru dalam menggunakan jenis media harus pula diperhitungkan, sebab betapapun tingginya media, tidak akan memberikan manfaat sedikitpun bila berada ditangan orang yang tidak mampu menggunakannya.
Ada sepuluh langkah yang dapat ditempuh dalam memilih media pembelajaran agar dapat sesuai dengan bahan pelajaran yang akan diajarkan pada anak yang mengalami gangguan visual:
1. Merumuskan tujuan pengajaran,
2. Mengklasifikasikan tujuan berdasarkan domain atau tipe belajar,
3. Memilih peristiwa-peristiwa yang akan berlangsung,
4. Menentukan tipe perangsang untuk tiap peristiwa,
5. Mendaftar media yang dapat digunakan pada setiap peristiwa pengajaran,
6. Mempertimbangkan berdasarkan nilai kegunaan media yang dipakai,
7. Menentukan media yang terpilih akan digunakan,
8. Menulis rasional saat memilih media tersebut,
9. Menulis tata cara pemakaian pada setiap kegiatan,
10. Menyimpulkan hasil kegiatan.

3. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi anak yang mengalami gangguan visual dalam pelaksanaan pembelajaran
3.1. Faktor internal
Faktor internal dibagi menjadi empat faktor;
a. faktor kebutuhan primer manusia
Maslow (Slameto, 2003:74-74) menyatakan ada beberapa jenjang kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi, yaitu kebutuhan fisiologis (kebutuhan makan, minum, tidur, kesehatan). Kebutuhan akan keamanan (kebutuha keseimbangan emosi, sehingga perasaan aman dapat tercapai). Kebutuhan akan kebersamaan dan cinta (kebutuhan kasih sayang, diakui). Kebutuhan self-actualisation (kebutuhan yang dapat berguna untuk memenuhi kebutuhan sendiri, image seseorang). Kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti (kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu, mendapatkan pengetahuan, informasi, dan mengerti sesuatu)
b. faktor jasmaniah
Kesehatan dapat mempengaruhi proses belajar apabila kesehatannya terganggu. Cacat tubuh, yaitu kondisi yang menyebabkan organ-organ tubuh tertentu kurang berfungsi atau tidak berfungsi sama sekali.
c. faktor psikologis
intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar dalam situasi yang sama, siswa dengan tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah (Slameto, 2003:56). Walaupun demikian, siswa dengan tingkat intelegensi yang tinggi belum tentu berhasil dalam belajarnya, hal ini disebabkan faktor yang mempengaruhi proses belajarnya. Perhatian menurut Gazali (Slameto, 2003:56) adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu semata-mata tertuju kepada suatu objek atau sekumpulan objek. Minat sama artinya dengan kehendak atau kemauan seperti yang dijelaskan oleh Ahmadi dan Supriono (1991:38) yaitu fungsi jiwa untuk mencapai sesuatu dan merupakan kekuatan dari dalam. Bakat adalah kemampuan untuk belajar yang akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Motif berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai. Kematangan adalah suatu tingkat dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi yang timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan.
d. faktor kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani (terlihat dengan lemahnya tubuh) dan kelelahan rohani (terlihat dengan adanya kelesuan, kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang).

3.2. Faktor eksternal
Faktor eksternal dapat dibagi menjadi tiga faktor:
a. faktor keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
b. faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, metode belajar dan tugas rumah.
c. faktor masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa karena keberadaan siswa dalam masyarakat.

SIMPULAN dan REKOMENDASI
Para pendidik yang menangani anak-anak yang mengalami gangguan visual diperlukan kemampuan mengambil keputusan dalam strategi pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran sains untuk anak usia dini membutuhkan suatu pola tersendiri yang disesuaikan dengan tingkat kepekaannya, oleh karena itu sangat diperlukan pemahaman yang jelas mengenai hal-hal yang kompleks dalam penyusunan suatu program pembelajarannya.
Pembelajaran sebaiknya mengarah pada kemampuan mengkoordinir keseluruhan gerak jasmani dan ketepatan reaksi gerak, kemampuan gerak dengan menggunakan gerak halus atau fine motor, dan kemampuan mengkoordinir daya kekuatan otot-otot gerak sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga anak yang mengalami gangguan visual mempunyai kepercayaan diri, dalam pelaksanaan pembelajaran sains yang lebih banyak berhubungan dengan alam lingkungan dan orang-orang disekitarnya.
Pembelajaran yang disusun oleh pendidik sebaiknya mengarah pada:
1. Kemampuan orientasi mobilitas mengarah pada kemampuan mengkoordinir keseluruhan gerak jasmani.
2. Kemampuan gerak dengan menggunakan gerak halus atau Ifine motor.
3. Kemampuan mengkoordinir ketepatan reaksi gerak.
4. Kemampuan mengkoordinir daya kekuatan otot-otot gerak sesuai dengan kebutuhannya.

DAFTAR PUSTAKA
Delphie, B. (2006). Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: PT. Refika Aditama.
Jain, N. (2007). http://www.idp-europe.org/eenet/newsletter4 indonesia/page34.php.
Lembaga Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPM-ITB). (1999). Dunia Bermain Anak. Bandung: Lembaga Penelitian ITB.
Mubarok Abidin, H. (2006). Motivasi Belajar Tuna Netra Di SLBN-A Citeureup Kota Cimahi. Skripsi S1 pada PLB UPI Bandung.
Nugraha, A. (2008). Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini. Bandung: JILSI Foundation.
Nur Cahyani, S. (2005). Penerapan Metode Jarimatika Dalam Meningkatkan Kemampuan Berhitung Tuna Netra Kelas Rendah. Skripsi S1 pada PLB UPI Bandung.
Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional http://www.puskur.net/inc/mdl/130_model_KTsp_PKhs.pdf.
Ridayani. (2007). Pengaruh Media Foto Berwarna Dalam Pembelajaran Sains Untuk Meningkatkan Hasil Pada Anak Low vision. Skripsi S1 pada PLB UPI Bandung.
Sutejo, B. (2006). Strategi Belajar Yang Digunakan Siswa Low Vision Di Sekolah Dan Rumah. Skripsi S1 pada PLB UPI Bandung.
Wiki Pedia Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/Tuna_netra.

26
Des
10

Penanggulangan Gangguan Ekspresi Bahasa

Kata bahasa berasal dari bahasa latin lingua yang berarti lidah. Awalnya pengertiannya hanya merujuk pada bicara, namun selanjutnya digunakan sebagai bentuk sistem konvensional dari simbol-simbol yang dipakai dalam komunikasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh suatu anggota masyarakat untuk bekerja bersama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri.
Bahasa berarti menyatakan dan menerima informasi dalam suatu cara tertentu. Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk mengerti apa yang dilihat dan apa yang didengar. Bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual (menulis, memberi tanda) atau auditorik. Seorang anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja ia dapat mengucapkan satu kata dengan jelas tetapi tidak dapat menyusun dua kata dengan baik, atau sebaliknya seorang anak mungkin saja dapat mengucapkan sebuah kata yang sedikit sulit untuk dimengerti tetapi ia dapat menyusun kata-kata tersebut dengan benar untuk menyatakan keinginannya.

Ekspresi bahasa memiliki enam komponen, yaitu:
1. Fonem, yaitu satuan terkecil dari bunyi ujaran yang dapat membedakan arti.
2. Morfem, merupakan unit terkecil dari bahasa yang mengandung makna.
3. Sintaksis, yaitu berkenaan dengan tata bahasa bagaimana kata-kata disusun untuk membentuk kalimat
4. Semantik, berkenaan dengan frasa, klausa, dan kalimat.
5. Prosodi, berkenaan dengan penggunaan irama yang layak, intonasi, dan tekanan pola-pola bahasa.
6. Pragmatik, berkenaan dengan cara menggunakan bahasa dalam situasi sosial yang sesuai.

Apabila ada anak yang mengalami gangguan ekspresi bahasa, maka langkah-langkah penanganan yang harus kita lakukan adalah:

1. Mendeteksi atau mengasesmen penyebab gangguan ekspresi bahasa anak, termasuk ke dalam kategori gangguan mana anak tersebut karena penyebab gangguan ekspresi bahasa ada lima kategori , yaitu:
a. Kekurangan Kognitif
1). Kesulitan memahami dan membedakan makna bunyi wicara. Anak sering memiliki problema auditoris, yaitu kesulitan untuk memahami dan membedakan makna bunyi wicara. Kondisi semacam itu menyebabkan anak rnengalami kesulitan untuk merangkai fonem, segmentasi bunyi, rnembedakan nada, mengatur kenyaringan, dan mengatur durasi bunyi.
2). Kesulitan membentuk konsep dan mengembangkannya ke dalam unit-unit semantik. Pemahaman terhadap unit-unit semantik (kata dan konsep) menunjukkan adanya pengetahuan tentang kekeluargaan kata secara tepat. Banyak di antara anak-anak berkesulitan belajar yang merniliki masalah dalam pembentukan konsep dan dalam menghubungkan unit-unit semantik.
3). Kesulitan Mengkiasifi kasikan Kata. Anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan dalam mengelompokkan kata-kata.
4). Kesulitan dalam relasi semantik. Anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan untuk menemukan dan menetapkan kata yang ada hubungannya dengan kata lain.
5). Kesulitan dalam memahami sistem semantik. Banyak anak berkesulitan belajar yang memiliki kesulitan dalam membaca pemahaman, dalam matematika, dan dalam penalaran ruang dan waktu. Kesulitan ini diduga berkaitan dengan adanya kesulitan dalam pemrosesan bahasa auditoris. Anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan dalam bercerita dan penjelasan mereka sering tidak tersusun secara baik dan benar.
6). Transformasi semantik. Anak berkesulitan belajar .sering mengalami kesulitan dalam pembuatan transformasi semantik sehingga mengalami kesulitan dalam menggunakan kata banyak makna, langgam suara (idioms), dan kiasan (metaphors).
7). Implikasi semantik. Anak berkesulitan belajar sering rnengalami kesulitan dalam memahami pepatah, cerita perumpamaan, dongeng, atau mitos.
b. Kekurangan dalam Memori
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa anak berkesulitan belajar sering memperlihatkan kekurangan dalam memori auditoris. Adanya kekurangan dalam memori auditoris tersebut dapat menimbulkan kesulitan dalam memproduksi bahasa. Sering memperlihatkan adanya kekurangan khusus dalam mengulang urutan fonem, mengingat kembali kata-kata, mengingat simbol, dan memahami hubungan sebab-akibat.
c. Kekurangan Kemampuan Menilai
Penilaian merupakan bagian integral dari proses bahasa karena menjadi jembatan antara pemahaman dengan produksi bahasa. Anak berkesulitan belajar sering memiliki kesulitan daiam menilai kemantapan atau keajegan arti dari suatu kata baru terhadap informasi yang telah mereka peroleh sebelumnya. Akibatnya, anak mungkin akan menerirna saja kalimat atau kata yang salah. Anak juga sering mengalami kesulitan dalam mengenal kesalahan-kesalahan sintaksis, dan setelah mereka tahu kesalahan-kesalahan tersebut, mereka juga tidak dapat memperbaikinya.
d. Kekurangan Kemampuan Produksi Bahasa
Produksi bahasa akan dipermudah oleh adanya kemampuan mengingat, perilaku afektif dan psikomotorik yang baik. Karena anak-anak berkesulitan belajar umumnya memiliki taraf perkembangan berbagai kernampuan tersebut secara kurang memadai, maka mereka banyak yang mengalami kesulitan dalam memproduksi bahasa. Ada dua jenis kemampuan produksi bahasa, kemampuan produksi konvergen dan kernampuan produksi devergen. Kemampuan produksi konvergen berkenaan dengan kemampuan menggambarkan kesimpulan logis dari informasi verbal dan memproduksi jawaban semantik yang khas. Kemampuan produksi devergen berkenaan dengan kelancaran, keluwesan keaslian, dan keluasan bahasa yang diproduksi. Kemampuan produksi konvergen dapat dilihat dari kernarnpuan anak dalam (1) mengucapkan kata-kata dan konsep-konsep, (2) melengkapi asosiasi verbal dan analogi, (3) merumuskan gagasan dan problema-problema verbal, (4) merumuskan kembali konsep dan ide, dan (5) merumuskan berbagai alternatif pemecahan rnasalah. Anak-anak berkesulitan belaiar umumnya rnemiliki kesulitan dalam produksi konvergen maupub devergen.
e. Kekurangan Pragmatik
Anak berkesulitan belajar umumnya memperlihatkan kekurangan dalam mengajukan berbagai pertanyaan, memberikan reaksi yang tepat terhadap berbagai pesan, menjaga atau mempertahankan percakapan, dan mengajukan sanggahan berdasarkan argumentasi yang kuat. Anak berkesulitan belajar umumnya juga kurang persuasif dalam percakapan, lebih banyak mengalah dalam percakapan, dan kurang mampu mengatur cara berdialog dengan orang lain.

2. Setelah kita mengetahui penyebab gangguan ekspresi anak tersebut, maka kita memberikan intervensi atau program remedial yang ditujukan untuk menanggulangi kesulitan bahasa dengan cara :
a. Pendekatan Proses
Pendekatan proses (process approach) adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk memperkuat dan menormalisir proses yang berkaitan dengan proses dasar bahasa yaitu proses penerimaan bahasa dan proses rnengekpresikan bahasa. Dalam pelaksanaannya, pendekatan proses menekankan pada intervensi dalam bidang persepsi auditori, ingatan. asosiasi. Interpretasi dan ekspresi verbal. Kegiatan remedial (penanggulangan masalah kesulitan belajar) ditujukan untuk memperkuat pemahaman bahasa dan keterkaitan integratif antara persepsi auditori, ingatan. asosiasi, interpretasi yang sangat diperlukan dalam ekspresi verbal. Kegiatan ini dilakukan secara lisan dan tertulis. Dasar pemikiran yang digunakan dalam pendekatan proses adalah prinsip-prinsip psycholinguistic (Lovit, 1989: l6), seperti yang dijelaskan di bawah ini:
1). Berbagai kemampuan psycholingistic dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur kemampuan bahasa.
2). Pengembangan kemampuan dalam bidang psycholinguistic adalah penting karena menjadi dasar dalam pencapaian hasil belajar di bidang membaca, menulis dan berbagai tugas akademik lainnya.
3). Pencapaian hasil belajar di bidang akademik secara signifikan adalah hasil dari latihan dalam bidang psycholingistic.
b. Pendekatan Analisis Tugas
Pendekatan analisis tugas (task analysis approach) yang dikembangkan oleh Dunn & Smith, 1965 dan Coughrah & Liles. 1974, merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam upaya penanggulangan kesulitan bahasa. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak berkesulitan bahasa dengan jalan menganalisis arti kata (semantik), struktur bahasa (sintak dan morphologi) dan fungsi bahasa (pragmatik) secara bertahap dan dalarn tugas yang diuraikan secara rinci. Sebagai contoh ” makan” untuk rnenjelaskan makna makan maka pada anak diperlihatkan baik secara kongkrit ataupun melalui media (gambar, rekaman. dll) kegiatan individu yang sedang makan, diperlihatkan proses yang dilakukan dalam kegiatan makan, diperlihatkan perbandingan kegiatan makan dengan kegiatan yang lain seperti kegiatan dalam mencuci piring. Dalam setiap proses yang dilakukan dalam kegiatan tersebut, guru menyebutkan nama kegiatan yang sedang berlangsung dan meminta anak untuk menanggulanginya. Kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan sampai anak dapat memahami berbagai konsep yang berkaitan dengan kata “makan”.
c. Pendekatan Perilaku
Pendekatan Perilaku (behavioral approach) yang dikembangkan oleh Gray & Ryan. 1973) ditujukan untuk mengatasi masalah bahasa yang dialami anak yang berkesulitan bahasa dengan jalan melakukan perubahan perilaku berbahasa dan berkomunikasi yang diperlihatkan anak atau behavior modification. Dalam prosedur pelaksanaannya, pendekatan ini dilakukan dengan memperhatikan interaksi interpersonal anak dengan teman-teman sebayanya atau orang ,vang berada di sekitarnya, dan ungkapan-ungkapan verbal yang diperlihatkan oleh anak. Hasil observasi tersebut akan menjelaskan apakah perilaku anak dalam melakukan ungkapan verbal sesuai atau tidak sesuai dengan konteksnya dan temuan ini menjadi dasar untuk program remedial yang ditekankan pada perubahan perilaku yang bertujuan untuk perbaikan atau perubahan perilaku berbahasa dalam berkomunikasi, khususnya. dalam bahasa verbal.
d. Pendekatan Interpersonal Interakfif
Pendekatan interpersonal interaktif (personal interactive approach) yang dikembangkan oleh Walker. et al, 1983) bertujuan untuk memperkuat kemampuan bahasa dalam bidang pragmatik dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi anak yang berkesulitan bahasa. Secara khusus, tuiuan dari pendekatan ini adalah untuk memperkuat kemampuan dalam menginterpretasikan isyarat-isyarat bahasa secara kontekstual yang dapat merubah makna dari suatu ekspresi verbal. Seperti dalam ungkapan “Bukakan pintu” adalah kalimat perintah. kalimat ini akan berubah maknanya apabila diungkapkan dalam ekspresi verbal yang rnembentak “Bukakan pintu!” yang dapat diinterpretasi suatu ungkapan verbal yang menunjukkan kemarahan.
e. Pendekatan Pengaturan sistem Lingkungan secara Menyeturuh
Pendekatan Pengaturan sistem lingkungan secara menyeluruh (total environment system approach) bertujuan untuk melakukan intervensi bahasa dengan melakukan pengaturan sistem lingkungan secara menyeluruh, yang mencakup situasi dan peristiwa-peristiwa yang ada di dalamnya yang dapat mendorong anak untuk melakukan berbagai interaksi dalam berkomunikasi dan mengekspresikan bahasa verbal. (Leigh, l980 dalam Lovitt, l989: 169) mengemukakan bahwa pendekatan holistik yang dilakukan melalui pengaturan sistem lingkungan secara menyeluruh atau disebut dengan istilah “A Whole Language Aproach” merupakan pendekatan yang sangat efektif, khususnya untuk memperkuat kemampuan dan adaptasi berkomunikasi dalam berbagai bidang pekerjaan dan berbagai profesi. A whole Language Aproach juga sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan bahasa dan komunikasi anak usia dini, terutama bagi anak yang telah menguasai kemampuan dalam aturan-aturan dasar berbahasa (basic linguistic rules), ekspresi verbal dan pemahaman ungkapan bahasa verbal. Dengan demikian kemampuan menulis dan ungkapan tertulis tidak menjadi prasyarat dalam pelaksanaan pendekatan ini.

3. Apabila asesmen dan intervensi sudah dilakukan tetapi hasilnya belum sesuai harapan, maka anak tersebut sebaiknya kita rujuk ke ahli di bidangnya (dokter, psikiater, terapis, dll).

Daftar Pustaka
Abdurrahman, Mulyono. (2009). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Dardjowidjojo, Soenjono. (2005). Psikolinguistik-Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Jamaris, Martini. (2009). Kesulitan Belajar-Perspektif, asesmen dan Penanggulangannya,. Jakarta: Yayasan Penamas Murni.
Pusat Bahasa. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia-Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

05
Nov
10

PERKEMBANGAN MORAL MENURUT TEORI LAWRENCE KOHLBERG

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta moral) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Perkembangan moral berkaitan dengan aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang dalam berinteraksi dengan orang lain. Para pakar perkembangan anak mempelajari tentang bagaimana anak-anak berpikir, berperilaku dan menyadari tentang aturan-aturan tersebut.
Anak-anak memiliki potensi moral yang siap untuk dikembangkan, melalui berbagai pengalaman sosial yang dialami, anak belajar tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Perkembangan moral pada anak penting untuk mendapat perhatian, dengan moral yang baik diharapkan anak dapat diterima dengan baik dilingkungan masyarakat. Banyak pakar yang memberikan perhatian terhadap perkembangan moral, di antaranya Piaget, Kohlberg, Elizabeth Hurlock, Santrock, Immanuel Kant, Freud, Lerner dan Hunt.
Perkembangan moral adalah perubahan penalaran, perasaan, dan perilaku tentang standar mengenai benar dan salah. Perkembangan moral memiliki dimensi intrapersonal, yang mengatur aktivitas seseorang ketika ia tidak terlibat dalam interaksi sosial dan dimensi interpersonal yang mengatur interaksi sosial dan penyelesaian konflik (Gibbs, 2003; Power, 2004; Walker & Pitts, 1998) . Tahapan perkembangan moral Lawrence Kohlberg dibuat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral yang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg. Oleh karena itu, kami membahas dalam makalah ini perkembangan moral berdasarkan teori Kohlberg.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah Perkembangan Moral Menurut Teori Lawrence Kohlberg dirumuskan dan dibatasi agar pembahasan terarah pada sasaran yang dituju, yaitu:
1. Apa saja tahapan perkembangan moral menurut teori Lawrence Kohlberg?
2. Bagaimana perkembangan moral anak-anak?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral?
4. Apa saja usaha-usaha perkembangan moral pada anak?

C. Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan ini untuk menguraikan bagaimana perkembangan moral menurut teori Lowrence Kohlberg. Secara khusus tujuan yang hendak dicapai adalah:
1. Mengetahui tahapan perkembangan moral menurut teori Lawrence Kohlberg?
2. Mengetahui perkembangan moral anak-anak?
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral?
4. Mengetahui usaha-usaha perkembangan moral pada anak?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Moral Menurut Para Ahli
1. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ketiga
Moral n 1 (ajaran tt) baik buruk yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb; akhlak; budi pekerti; susila: — mereka sudah bejat, mereka hanya minum-minum dan mabuk-mabuk, bermain judi, dan bermain perempuan; 2 kondisi mental yg membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dsb; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dl perbuatan: tentara kita memiliki — dan daya tempur yg tinggi; 3 ajaran kesusilaan yg dapat ditarik dr suatu cerita .
2. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Moral (Bahasa Latin: Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Moral juga dapat diartikan sebagai sikap,perilaku,tindakan,kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat, dan lain-lain. Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk .
3. Abd.Nasih Ulwan
Serangkaian prinsip dasar serta watak yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan-kebiasaan anak sejak masa pemula hingga ia menjadi dewasa .

B. Tahapan Perkembangan moral Lawrence Kohlberg
Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya, seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg. Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif.
Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan, walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya. Kohlberg menggunakan cerita-cerita tentang dilema moral dalam penelitiannya. Ia tertarik bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama. Lawrence Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Konsep kunci dari teori Kohlberg ialah internalisasi, yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal. Kohlberg sampai pada pandangannya setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik dengan anak-anak. Dalam wawancara, anak-anak diberikan serangkaian cerita dimana tokoh-tokohnya menghadapi dilema-dilema moral. Bagaimana anak-anak dalam penyikapi setiap cerita yang dilakukan oleh masing-masing tokoh dalam cerita yang disampaikan oleh kohlberg. Berikut ini adalah salah satu cerita dilema Kohlberg yang paling populer:

“Di Eropa seorang perempuan hampir meninggal akibat sejenis kanker. Ada suatu obat yang menurut dokter dapat menyelamatkannya. Obat tersebut adalah sejenis radium yang baru-baru ini ditemukan oleh seorang apoteker di kota yang sama. Biaya membuat obat ini sangat mahal, tetapi sang apoteker menetapkan harganya sepuluh kali lipat lebih mahal dari pembuatan obat tersebut. Untuk pembuatan satu dosis kecil obat ia membayar 200 dolar dan menjualnya 2000 dolar. Suami pasien perempuan, Heinz pergi ke setiap orang yang ia kenal untuk meminjam uang, tetapi ia hanya bisa mengumpulkan 1000 dolar atau hanya setengah dari harga obat tersebut. Ia memberitahu apoteker bahwa istrinya sedang sakit dan memohon agar apoteker bersedia menjual obatnya lebih murah atau memperbolehkannya membayar setengahnya kemudian. Tetapi sang apoteker berkata, “Tidak, aku menemukan obat, dan aku harus mendapatkan uang dari obat itu.” Heinz menjadi nekat dan membongkar toko obat itu untuk mencuri obat bagi istrinya” .

Cerita ini adalah salah satu dari sebelas cerita yang dikembangkan oleh Kohlberg untuk menginvestigasi hakekat pemikiran moral. Setelah membaca cerita, anak-anak menjadi responden menjawab serangkaian pertanyaan tentang dilema moral. Haruskah Heinz mencuri obat? Apakah mencuri obat tersebut benar atau salah? Mengapa? Apakah tugas suami untuk mencuri obat bagi istrinya kalau ia tidak mendapatkannya dengan cara lain? Apakah apoteker memiliki hak untuk mengenakan harga semahal itu walaupun tidak ada suatu aturan hukum yang membatasi harga? Mengapa atau mengapa tidak?. Berdasarkan penalaran tersebut, Kohlberg kemudian mengkategorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan ke dalam enam tahap yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Teorinya didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif, setiap tahapan dan tingkatan memberi tanggapan yang lebih memenuhi syarat terhadap dilema-dilema moral dibanding tahap/tingkat sebelumnya :

1. Tingkat 1 (Pra-Konvensional)
Penalaran pra-konvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal. Seperti dalam tahap heteronomous Piaget, anak-anak menerima aturan figur otoritas, dan tindakan yang dinilai oleh konsekuensi mereka. Perilaku yang mengakibatkan hukuman dipandang sebagai buruk, dan mereka yang mengarah pada penghargaan dilihat sebagai baik. Tingkat pra-konvensional dari penalaran moral umumnya ada pada anak-anak, walaupun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran dalam tahap ini. Se¬¬¬¬¬¬¬seorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung. Tingkat pra-konvensional terdiri dari dua tahapan awal dalam perkembangan moral, dan murni melihat diri dalam bentuk egosentris:

a. Orientasi kepatuhan dan hukuman.
Orientasi hukuman dan kepatuhan (punishment and obedience orientation) ialah tahap pertama dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini perkembangan moral didasarkan atas hukuman, seseorang memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme. Anak-anak taat karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat. Anak-anak pada tahap ini sulit untuk mempertimbangkan dua sudut pandang dalam dilema moral. Akibatnya, mereka mengabaikan niat orang-orang dan bukan fokus pada ketakutan otoritas dan menghindari hukuman sebagai alasan untuk bersikap secara moral.

b. Orientasi minat pribadi ( Apa untungnya buat saya?).
Individualisme dan tujuan (individualism and purpose) ialah tahap kedua dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini penalaran moral didasarkan pada imbalan dan kepentingan diri sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah. Anak-anak menyadari bahwa orang dapat memiliki perspektif yang berbeda dalam dilema moral, tetapi pemahaman ini adalah, pada awalnya sangat konkret. Mereka melihat tindakan yang benar sebagai yang mengalir dari kepentingan diri sendiri. Timbal balik dipahami sebagai pertukaran yang sama nikmat “Anda melakukan ini untuk saya dan saya akan melakukannya untuk Anda.”

2. Tingkat 2 (Konvensional)
Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah menengah, seseorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orang tua atau masyarakat. Pada tingkat konvensional, seseorang terus memperhatikan kesesuaian dengan aturan-aturan sosial yang penting, tetapi bukan karena alasan kepentingan diri sendiri. Mereka percaya bahwa aktif dalam memelihara sistem sosial saat ini memastikan hubungan manusia yang positif dan ketertiban masyarakat. Tingkat konvensional umumnya ada pada seorang remaja atau orang dewasa. Orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat:

c. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas ( Sikap anak baik).
Norma-norma interpersonal (interpersonal norms) ialah tahap ketiga dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Tahap penyesuaian dengan kelompok atau orientasi untuk menjadi “anak manis”. Pada tahap selanjutnya, terjadi sebuah proses perkembangan kearah sosialitas dan moralitas kelompok. Norma-norma interpersonal, pada tahap ini seseorang menghargai kebenaran, kepedulian, dan kesetiaan pada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral.Kesadaran dan kepedulian atas kelompok akrab, serta tercipta sebuah penilaian akan dirinya dihadapan komunitas/kelompok. Keinginan untuk mematuhi aturan karena mereka mempromosikan hubungan harmoni sosial muncul dalam konteks hubungan pribadi yang dekat. Seseorang ingin mempertahankan kasih sayang dan persetujuan dari teman-teman dan kerabat dengan menjadi “orang baik”, bisa dipercaya, setia, menghormati, membantu, dan baik. Anak anak sering mengadopsi standar-standar moral orang tuanya pada tahap ini. Sambil mengharapkan dihargai oleh orangtuanya sebagai seorang perempuan yang baik atau laki-laki yang baik, seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang “anak baik” untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini.

d. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial ( Moralitas hukum dan aturan).
Moralitas sistem sosial (social system morality) ialah tahap keempat dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini, pertimbangan moral didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban. Pada kondisi ini dimana seseorang sudah mulai beranjak pada orientasi hukum legal/peraturan yang berfungsi untuk menciptakan kondisi yang tertib dan nyaman dalam kelompok/komunitas. Seseorang memperhitungkan perspektif yang lebih besar dari hukum masyarakat. pilihan moral tidak lagi tergantung pada hubungan dekat dengan orang lain. Sebaliknya, peraturan harus ditegakkan dengan cara sama untuk semua orang, dan setiap anggota masyarakat memiliki tugas pribadi untuk menegakkan mereka serta mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu, sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan.

3. Tingkat 3 (Pasca-Konvensional)
Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi. Seseorang pada tingkat pasca-konventional bergerak di luar tidak perlu diragukan lagi dukungan untuk peraturan dan undang-undang masyarakat mereka sendiri. Mereka mendefinisikan moralitas dalam hal prinsip abstrak dan nilai-nilai yang berlaku untuk semua situasi dan masyarakat. Tingkatan pasca-konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip, terdiri dari tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Kenyataan bahwa individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi semakin jelas. Perspektif seseorang harus dilihat sebelum perspektif masyarakat. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi:

e. Orientasi kontrak sosial.
Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual (community rights versus individual rights) ialah tahap kelima dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini, seseorang memahami bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain, menyadari bahwa hukum penting bagi masyarakat, tetapi juga mengetahui bahwa hukum dapat diubah. Seseorang percaya bahwa beberapa nilai, seperti kebebasan, lebih penting daripada hukum. Seseorang dipandang sebagai memiliki pendapat dan nilai-nilai yang berbeda. Pada tahap ini penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut ‘memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak?’. Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima. Seseorang menganggap hukum dan aturan sebagai instrumen yang fleksibel untuk melanjutkan tujuan manusia. Mereka dapat membayangkan alternatif tatanan sosial mereka, dan mereka menekankan prosedur yang adil untuk menafsirkan dan mengubah hukum. Ketika hukum konsisten dengan hak-hak individu dan kepentingan mayoritas setiap orang mengikuti mereka karena orientasi partisipasi kontrak sosial bebas dan bersedia dalam sistem karena membawa lebih baik bagi orang-orang dari pada jika tidak ada.

f. Prinsip etika universal.
Prinsip-prinsip etis universal (universal ethical principles) ialah tahap keenam dan tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap tertinggi, tindakan yang benar didefinisikan sendiri, prinsip-prinsip etis yang dipilih dari hati nurani yang berlaku untuk semua umat manusia, tanpa hukum dan kesepakatan sosial. Penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Bila menghadapi konflik secara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati, walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan, juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional. Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama. Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus, dengan cara ini tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya.

Kohlberg percaya bahwa ketiga tingkat dan keenam tahap tersebut terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia:
1. Sebelum usia 9 tahun, kebanyakan anak-anak berpikir tentang dilema moral dengan cara yang prakonvensional.
2. Pada awal masa remaja, mereka berpikir dengan cara-cara yang lebih konvensional.
3. Pada awal masa dewasa, sejumlah kecil orang berpikir dengan cara-cara yang pascakonvensional.

C. Perkembangan Moral Anak-Anak
Perkembangan moral anak terbentuk melalui fase-fase atau periode-periode seperti halnya perkembangan aspek-aspek lain. Tiap fase perkembangan mempunyai ciri-ciri moralitas yang telah dapat dicapai oleh anak, sekalipun dalam hal ini tidak ada perbedaan atas batas-batas yang jelas dan lebih bergantung pada setiap individu dari pada norma-norma umumnya yang terjadi pada anak-anak .

1. Perkembangan Moralitas pada anak usia 3 tahun
Sebagaimana yang telah diterangkan seorang bayi yang baru dilahirkan merupakan mahluk yang belum/non moral. Bayi atau anak-anak yang masih muda sekali tidak mangetahui norma-norma benar atau salah. Tingkah lakunya semata-mata dikuasai oleh dorongan yang didasari dengan kecendrungan bahwa apa yang menyenangkan akan diulang, sedangkan yang tidak enak tidak akan diulang dalam tingkah lakunya. Anak pada masa ini masih sangat muda secara intelek, untuk menyadari dan mengartikan bahwa sesuatu tingkah laku adalah tidak baik, kecuali bilamana hal itu menimbulkan perasaan sakit.

2. Perkembangan Moralitas pada anak usia 3-6 tahun
Pada usia dasar-dasar moralitas terhadap kelompok sosial harus sudah terbentuk. Kepada si anak tidak Iagi terus menerus diterangkan mengapa perbuatan ini salah atau benar, tetapi ia ditunjukkan bagaimana ia harus bertingkah laku dan bilamana hal ini tidak dilakukan maka ia kena hukum. Ia memperlihatkan sesuatu perbuatan yang baik tanpa mengetahui mengapa ia harus berbuat demikian. Ia melakukan hal ini untuk menghindari hukuman yang mungkin akan dialami dari lingkungan sosial atau memperoleh pujian. Pada usia 5 atau 6 tahun anak sudah harus patuh terhadap tuntutan atau aturan orang tua dan lingkungan sosialnya. Ucapan-ucapan orang lain seperti; baik, tidak boleh, nakal, akan disosialisasikan anak dengan konsep benar atau salah. Penanaman konsep moralitas pada anak-anak ini mungkin mengalami kesulitan oleh karena sifa-sifat pembangkangan terhadap perintah dan sifa-sifat egoisme.
3. Perkembangan moralitas pada anak usia 6 tahun sampai remaja
Pada masa ini anak laki-laki maupun perempuan belajar untuk bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Dengan demikian nilai-nilai atau kaidah-kaidah moral untuk sebagian besar lebih banyak ditentukan oleh norma-norma yang terdapat didalam lingkungan kelompoknya. Pada usia 10 sampai 12 tahun anak dapat mengetahui dengan baik alasan-alasan atau prinsip-prinsip yang mendasari suatu aturan. Kemampuannya telah cukup berkembang untuk dapat membedakan macam-macam nilai moral serta dapat menghubungkan konsep-konsep moralitas mengenai: kejujuran, hak milik, keadilan dan kehormatan. Pada masa mendekati remaja, anak sudah mengembangkan nilai-nilai moral sebagai hasil pengalaman-pengalaman anak lain. Nilai-nilai ini sebagian akan menetap sepanjang hidupnya dan akan mempengaruhi tingkah lakunya sebagaimana hal ini terjadi ketika masih anak-anak. Sebagian lain sedikit demi sedikit mengalami perubahan karena hubungan-hubungan dengan lingkungannya menyebabkan timbulnya konflik-konflik, karena nilai-nilai moral lingkungan yang berbeda dengan nilai-nilai yang sudah terbentuk. (Gunarsa, 1990, hal 46-48).

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral ini sesungguhnya banyak sekali yang terpenting antara lain:
1. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap orang dalam masyarakat
Keyakinan agama yang didasarkan pada pengertian yang sesungguhnya dan sejalan tentang ajaran agama yang dianutnya, kemudian diiringi dengan pelaksanaan ajaran-ajaran tersebut merupakan benteng moral yang paling kokoh. Apabila berkeyakinan beragama itu betul-betul telah menjadi bagian integral dari kepribadian seseorang, keyakinannya itulah yang akan mengawasi segala tindakan, perkataan bahkan perasaanya jika terjadi tarikan orang kepada sesuatu yang tampaknya cepat berpindah meneliti apakah hal tersebut boleh atau terlarang oleh agamanya. Andaikan yang termasuk terlarang betapapun tarikan luar itu tidak akan diindahkannya karena takut melaksanakan yang dilarang oleh agamanya.

2. Keadaan masyarakat yang kurang stabil
Faktor kedua yang ikut mempengaruhi moral masyarakat ialah kurang stabilnya keadaan, baik ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Kegoncangan atau ketidakstabilan suasana yang menyelimuti seseorang menyebabkan cemas dan gelisah, akibat tidak dapatnya mencapai rasa aman dan ketentraman dalam hidup. Misalnya apabila keadaan ekonomi goncang, harga barang-barang naik turun dalam batas yang tidak dapat diperkirakan lebih dahulu oleh orang-orang dalam masyarakat, maka untuk mencari keseimbangan jiwa kembali, orang terpaksa berusaha keras. jika ia gagal dalam usahanya yang sehat, disinilah terjadi penyelewengan.

3. Banyaknya tulisan dan gambar yang tidak mengindahkan dasar moral
Suatu hal yang belakangan ini kurang mendapat perhatian kita ialah tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, kesenian-kesenian dan permainan-permainan yang seolah-olah mendorong anak-anak muda untuk mengikuti arus mudanya. Segi moral dan mental kurang mendapat perhatian, hasil-hasil seni itu sekedar ungkapan dari keinginan dan kebutuhan yang sesungguhnya tidak dapat dipenuhi begitu saja. Lalu digambarkan dengan sangat realistis, sehingga semua yang tersimpan di dalam hati anak-anak muda diungkap dan realisasinya terlihat dalam cerita lukisan atau permainan tersebut. Ini pun mendorong anak-anak muda ke jurang kemerosotan moral.

4. Tidak terlaksananya pendidikan moral yang baik
Faktor keempat yang juga penting, adalah tidak terlaksananya pendidikan moral yang baik, dalam rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Pembinaan moral, seharusnya dilaksanakan sejak si anak kecil, sesuai dengan kemampuan umurnya. Karena setiap anak lahir, belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, dan belum tahu batas-batas dan ketentuan moral yang berlaku dalam lingkungannya. Tanpa dibiasakan menanamkan sikap-sikap yang dianggap baik buat pertumbuhan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal moral itu. juga perlu diingatkan bahwa pengertian moral, belum dapat menjamin tindakan moral. Pada dasarnya moral bukanlah suatu pelajaran atau ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan mempelajari, tanpa membiasakan hidup bermoral dari kecil dan moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian, tidak sebaliknya.

5. Kurangnya kasadaran orang tua akan pentingnya pendidikan moral dasar sejak dini
Moral adalah salah satu buah iman oleh karena itu maka agar anak mempunyai moral yang bagus harus dilandasi dengan iman dan terdidik untuk selalu ingat pasrah kapada-Nya, dengan begitu anak akan memiliki bekal pengetahuan untuk terbiasa mulia, sebab benteng religi sudah mengakar di dalam hatinya.

6. Banyaknya orang melalaikan budi pekerti
Budi pekerti adalah mengatakan atau melakukan sesuatu yang terpuji atau perangai yang baik. Penanaman budi pekerti dalam jiwa anak sangat penting apabila dilihat dari hadits Nabi: “Seorang bapak yang mendidik anaknya adalah lebih baik dari pada bersedekah sebanyak satu sha”. “Tidak ada pemberian seorang bapak kepada anaknya yang lebih baik dari pada budi pekerti”. Namun sebagian orang tua melalaikan kepentingan pembinaan budi pekerti dan sopan santun anak. Para orang tua yang malang itu tidak sadar, bahwa ia telah menjerumuskan anaknya sendiri ke jurang, padahal pembinaan budi pekerti adalah hak anak atas orang tuanya seperti hak makan, minum serta nafkah.

7. Suasana rumah tangga yang kurang baik
Faktor yang terlihat dalam masyarakat sekarang ialah kerukunan hidup dalam rumah tangga kurang terjamin. Tidak tampak adanya saling pengertian, saling menerima, saling menghargai, saling mencintai diantara suami istri. Tidak rukunnya ibu bapak menyebabkan gelisahnya anak-anak mereka menjadi takut, cemas dan tidak tahan berada di tengah-tengah orang tua yang tidak rukun. Anak-anak yang gelisah dan cemas itu mudah terdorong kepada perbuatan-perbuatan yang merupakan ungkapan dari rasa hatinya, biasanya mengganggu ketentraman orang lain.

8. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu luang
Suatu faktor yang telah ikut juga memudahkan rusaknya moral anak-anak muda, ialah kurangnya bimbingan dalam mengisi waktu luang, dengan cara yang baik dan sehat. Pada rentang usia dini akhir adalah usia dimana anak suka berkhayal, melamunkan hal yang jauh atau sulit dijangkau. Kalau mereka dibiarkan tanpa bimbingan dalam mengisi waktu luang maka akan banyak lamunan yang kurang sehat timbul dari mereka.

9. Kurangnya tempat layanan bimbingan
Terakhir perlu dicatat, bahwa kurangnya tempat layanan bimbingan dan penyuluhan yang akan menampung dan menyalurkan anak-anak ke arah mental yang sehat. Dengan kurangnya atau tidak adanya tempat kembali bagi anak-anak yang gelisah dan butuh bimbingan itu, maka pergilah mereka berkelompok dan bergabung kepada anak-anak yang juga gelisah. Dari sinilah akan keluar model kelakuan anak yang kurang menyenangkan.

E. Usaha-Usaha Perkembangan Moral pada Anak
1. Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak
Kecerdasan moral dihidupkan oleh imajinasi moral, yaitu kemampuan individu yang tumbuh perlahan-lahan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah. Tingkah laku moral anak pada penghayatannya adalah sewaktu perilaku moral tumbuh sebagai tanggapan terhadap caranya diperlakukan di rumah dan di sekolah. Anak-anak yang memiliki kecerdasan moral mempunyai perilaku yang baik, lembut hati dan mau memikirkan orang lain (empati). Pada anak usia 6-7 tahun sudah memiliki hasrat yang jelas untuk bersikap bijaksana, sopan, murah hati. Pada kenyataannya mereka melihat dunia sebagai orang lain melihatnya untuk mengalami dunia melalui mata orang lain. Kecerdasan moral tidaklah dicapai hanya dengan mengenal kaidah dan aturan, hanya dengan diskusi abstrak di sekolah atau saat di dapur. Individu tumbuh secara moral sebagai dari kegiatan meniru atau mempelajari bagaimana bersikap terhadap orang lain. Anak-anak merupakan saksi apa yang dilihat dan didengar, dia akan memperhatikan moralitas orang dewasa melihat dan mencari isyarat bagaimana orang harus berperilaku, baik akan banyak melihat para orang tua, guru dalam mengurangi kehidupan, melakukan pilihan ataupun menyapa orang. Anak-anak akan menyerap dan mencatat apa yang mereka amati dari orang dewasa, yang hidup dan melakukan sesuatu dengan jiwa tertentu. Kemudian sejalan dengan perilaku moralnya tumbuh, anak-anak akan dengan secara tegas memberitahukan kepada apa yang telah dia saksikan. Makna yang mereka peroleh dan sikap moral kita adalah anak tidak akan merasa kesulitan mengutarakan hal-hal yang mereka lihat dan perilaku moral kita yang sedikit menyimpang.

2. Sifat Timbal Balik Pembinaan Akhlak
Itulah apa yang dapat diberikan kepada kita oleh anak-anak kita dan apa yang dapat kita berikan kepada mereka. Kesempatan untuk belajar dan mereka bahkan waktu kita mencoba mengajar mereka. Kita dapat membantu membentuk kecerdasan moral seorang anak dengan membicarakan masalah-masalah suara hati, keprihatinan etis, berulang kali walau tanpa persiapan namun dengan kata-kata yang tegas dan pengalaman dan tanggapan kita terhadap pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. Satu terhadap yang lain sewaktu kita merasakannya dia akan merasa kita anggap anak yang dapat memahami perilaku moral. Adapun cara menumbuhkan perilaku moral pada anak bisa kita lakukan dengan berbagai macam cara mengamati orang yang baik. Seperti mengajak anak untuk mengamati seseorang yang mempunyai kepribadian yang baik dan bagaimana proses menjadi orang yang baik dan apa akibatnya bila tidak bersikap baik memberikan pandangan tindakan lebih baik dari hanya sekedar kata-kata sehingga anak memikirkan apa yang seharusnya dilakukan dalam kehidupan mereka.

3. Stimulasi Perkembangan Moral Pada Anak
a. anak harus dirangsang oleh lingkungan usaha-usaha yang aktif. Contoh: Misalnya jika seorang anak menemukan uang di bawah meja di dalam kelas, maka kewajiban seorang guru membimbing anak untuk memberitahukan kepada teman-teman dan menanyakannya siapa yang kehilangan uang serta memberikannya kepada yang ternyata uangnya memang hilang.

b. Menurut Erickson tahun-tahun pertama dari kehidupan anak, orang tua hendaknya menanamkan dasar mempercayai orang lain. Contoh: anak harus dilindungi dan mendapatkan rasa aman dari orang tuanya terutama saat mengalami rasa sakit, cemas dan takut demikian pula apabila orang tua menjanjikan sesuatu hendaknya berusaha untuk menepatinya, sehingga orang tua tidak dicap scbagai “pembohong”.

c. Perangsangan yang diberikan harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Anak akan berkembang secara wajar dengan berbagai tahapan proses, yang pada setiap tahapan membutuhkan stimulas dan motivasi yang tepat sehingga diharapkan terjadi perubahan pada semua aspek/dimensi secara teratur dan progresif. Contoh: Pada anak usia I tahun, dimana anak tersebut sedang mulai belajar berbicara, maka dapat diajarkan untuk mengucap salarn bila bertemu dengan orang lain, mengucapkan kata maaf bila melakukan kesalahan atau mengucap terima kasih bila diberi sesuatu dan lain sebagainya.

d. Rangsangan yang diberikan harus tepat waktu yaitu orang tua harus proaktif atau menjalin hubungan yang erat dengan anak, berbicara dengan anak tentang masalah yang dialaminya sehari-hari. Contoh: ketika Ari marah karena buku cerita yang dijanjikan oleh ayahnya belum dibeli karena sepulang kerja ayahnya terjebak kemacetan di jalan, peran orang tua dan orang lain yang berada di rumah, harus dapat memberikan penderitaan dan gambaran yang nyata, sehingga Ari tidak jadi marah bahkan bila cara memberi pengertiannya dengan kata-kata yang bijaksana bukan tidak mungkin Ari justru meminta maaf kepada ayahnya karena tadi sudah rnarah kepadanya.

e. Rangsangan diberikan secara terpadu maksudnya: orang tua harus menyeimbangkan seluas kemampuan atau aspek-aspek perkembangan anak. Contoh: pada usia anak mencapai 6-8 tahun yang rata-rata pada usia tersebut anak duduk di kelas 1- 3 Sekolah Dasar, maka “Pekerjaan Rumah” adalah disarnping untuk menguji kemampuan anak mengenai suatu materi, anak pun sekaligus berlatih untuk bertanggung jawab, melatih memori, juga kemandirian serta bagaimana anak belajar mengatur Waktunya.

BAB III
KESIMPULAN

Perspektif kognitif yang kedua dalam perkembangan moral dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg. Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg ialah internalisasi (internalization); yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.
Dengan mengacu pada teori perkembangan moral Kohlberg dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya moralitas diajarkan bagi perkembangan anak, karena anak akan memiliki kepribadian yang baik sebagai individu di tengah masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Berk , Laura E. (2003). Child Developmen. USA: Pearson Education, Inc.
Clinicchildren. (2009). Tahap Perkembangan Moral Kohlberg. [Online]. Tersedia: http://developmentbehaviourclinic.wordpress.com/2009/08/26/tahap-perkembangan-moral-kohlberg/
Desmita. (2006). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rosda Karya.
Djiwandono, Sri EW. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2005). Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Muhammad Baitul A. (2010). Teori Perkembangan Moral Kohlberg. [Online]. Tersedia:http://www.psikologizone.com/teori-perkembangan-moral-kohlberg [7 Oktober 2010).
Santrock, Jhon W. (2002). Child Development (eleventh ed.), (alih bahasa: Mila R & Anna K). Jakarta: Erlangga.
Sujiono Bambang & Sujiono Yuliani Nurani. (2005). Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Sujiono Yuliani Nurani & Syamsiatin eriva. (2003). Perkembangan Perilaku Anak Usia Dini. Jakarta: Pusdiani Press UNJ.
Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. (2010). Moral. [Online]. Tersedia:http://id.wikipedia.org/wiki/Moral [7 Oktober 2010].
Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. (2010). Tahap Perkembangan Moral Kohlberg. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahap_perkembangan _moral_Kohlberg [7 Oktober 2010].
Valmbad .(2005). Teori Perkembangan Moral. [Online]. Tersedia: http://valmband. multiply.com/journal/item/9 [7 Oktober 2010

18
Sep
10

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut. Jenjang pendidikan ini diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, pendidikan anak usia dini dilaksanakan pada usia 0-8 tahun.
Makalah ini akan membahas karakteristik perkembangan anak usia dini karena merupakan suatu tuntutan yang sangat mendasar agar pemahaman tentang landasan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini dapat di laksanakan secara tepat. Mengenal karakteristik peserta didik untuk kepentingan proses pembelajaran merupakan hal yang penting, adanya pemahaman yang jelas tentang karakteristik peserta didik akan memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah karakteristik perkembangan anak usia dini dirumuskan dan dibatasi agar pembahasan terarah ada sasaran yang dituju, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan anak usia dini?
2. Apa saja teori yang membahas perkembangan anak usia dini?
3. Bagaimana karakteristik anak usia dini?
4. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi perkembangan anak usia dini?

C. Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan ini untuk menguraikan bagaimana karakteristik perkembangan anak usia dini. Secara khusus tujuan yang hendak dicapai adalah:
1. Memahami apa yang dimaksud dengan anak usia dini.
2. Mengetahui teori-teori yang membahas tentang perkembangan anak usia dini.
3. Memahami karakteristik anak usia dini.
4. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan anak usia dini.

D. Manfaat Pembahasan
Usia dini merupakan usia yang paling penting dalam tahap perkembangan manusia, sebab usia tersebut merupakan periode diletakkannya dasar struktur kepribadian yang dibangun untuk sepanjang hidupnya. Piere Duquet (1953: 41) menyatakan bahwa ‘A children Who does not draw is an anomally, and particulary so in the years between 6 an 0, which is outstandingly the golden age of creative expression’. Pada rentang usia lahir sampai enam tahun, anak mulai peka untuk menerima berbagai upaya perkembangan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu sangat penting memahami karakteristik perkembangan anak usia dini, beberapa manfaat yang dapaat diambil antara lain:
1. Mengetahui hal-hal yang dibutuhkan oleh anak yang bermanfaat bagi perkembangan hidupnya.
2. Mengetahui tugas-tugas perkembangan anak sehingga dapat memberikan stimulasi kepada anak agar
dapat melaksanakan tugas perkembangan dengan baik.
3. Mengetahui bagaimana membimbing proses belajar anak pada saat yang tepat sesuai dengan
kebutuhannya.
4. Mampu mengembangkan potensi anak secara optimal sesuai dengan keadaan dan kemampuan anak.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pandangan tentang Anak Usia Dini
Anak merupakan individu yang sedang menjalani proses dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Proses ini yang kemudian menentukan bagaimana anak menjalani kehidupan dewasa selanjutnya. Anak adalah keturunan yang kedua setelah ibu bapak atau manusia yang masih kecil. Berkisar usia 3 sampai 6 tahun (Hadi Subrata, 1988: 69). Ki Hajar Dewantara (1962: 20) menyatakan bahwa anak sebagai kodrat alam memiliki pembawaan masing-masing dan sebagai individu yang memiliki potensi untuk menemukan pengetahuan, secara tidak langsung akan memberikan peluang agar potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal.
Sepanjang sejarah pun para ahli mempunyai pandangan yang beragam tentang anak. Ada tiga pandangan filosofis dari Eropa yang berpengaruh dalam istilah menggambarkan anak-anak :
1. Pada abad pertengahan, pandangan dosa asal (original sin view) yang secara khusus muncul selama abad pertengahan. Anak-anak dipandang lahir ke dunia ini sebagai makhluk jahat. Tujuan dari merawat anak adalah memberikan penyelamatan, menghapus dosa dari kehidupan si anak.
2. Mendekati akhir abad ke-17, pandangan tabularasa dicetuskan oleh ahli filosofi Inggris John Lock. Ia membantah bahwa anak-anak tidak buruk sejak lahir, melainkan seperti “papan kosong”. Lock percaya bahwa pengalaman masa kanak-kanak sangat menentukan karakteristik seseorang ketika dewasa. Ia menyarankan para orang tua untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka dan membantu mereka menjadi anggota masyarakat yang berguna.
3. Pada abad ke-18, pandangan kebaikan alami (innate goodness view) ditawarkan oleh ahli filosofi Prancis kelahiran Swiss Jean-Jacques Rousseau. Ia menekankan bahwa anak-anak pada dasarnya baik. karena anak-anak pada dasarnya baik, maka mereka seharusnya diizinkan tumbuh secara alami dengan seminimal mungkin pengawasan atau batasan dari orang tua.


B. Teori Perkembangan Anak Usia Dini

Keragaman teori perkembangan dapat dilihat dari pemikiran berbagai sudut pandang para ahli. Ada lima perspektif teoritis utama dalam perkembangan, yaitu psikoanalisis, kognitif, perilaku dan sosio-kognitif, etologi, dan ekologis. Pendekatan teoritis tersebut sama-sama meneliti tiga proses utama dalam perkembangan anak di tingkat yang berbeda-beda, yaitu biologis, didaktis dan psikologis.

1. Teori Psikoanalisis
Teori psikoanalisis menggambarkan perkembangan sebagai sesuatu yang biasanya tidak disadari (di luar kesadaran) dan diwarnai oleh emosi. Ahli teori psikoanalisis percaya bahwa perilaku hanyalah sebuah karakteristik permukaan dan bahwa pemahaman yang sebenarnya mengenai perkembangan hanya didapat dengan menganalisis makna simbolis perilaku dan kerja pikiran yang dalam. Ahli psikoanalisis juga menekankan bahwa pengalaman dini dengan orang tua secara signifikan membentuk perkembangan. Karakteristik ini ditekankan dalam teori psikoanalisis dari Sigmund Freud.
Sigmund Frued memandang manusia sebagai makhluk biologis yang kompleks, baik dalam hal sosial, emosional dan juga sebagai suatu organisme yang dapat berpikir. Di dalam terminologinya mengatakan bahwa anak-anak bergerak melalui langkah-langkah yang berbeda dengan tujuan untuk mencari kepuasan yang berasal dari sumber berbeda, di mana mereka juga harus berusaha menyeimbangkan keadaan tersebut dengan harapan orang tua. Konflik yang timbul antara kebutuhan akan kepuasan dan penindasan dapat berguna untuk memuaskan dan juga menciptakan ketertarikan. Kebanyakan orang belajar untuk mengendalikan perasaan mereka dan juga berusaha agar dapat diterima dalam lingkungan sosial serta untuk mengintegrasikan diri mereka.

2. Teori Kognitif

Teori kognitif meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak berusaha memahami dunia di sekeliling mereka, anak membangun pemahaman mereka sendiri terhadap dunia sekitar dan pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman sebaya, orang dewasa dan lingkungan. Setiap anak membangun pengetahuan mereka sendiri berkat pengalaman-pengalaman dan interaksi aktif dengan lingkungan sekitar dan budaya di mana mereka berada melalui bermain. Piaget sebagai tokoh aliran ini menganggap bahwa perkembangan kognitif terjadi ketika anak sudah membangun pengetahuan melalui eksplorasi aktif dan penyelidikan pada lingkungan fisik dan sosial di lingkungan sekitar. Piaget percaya bahwa kita beradaptasi dalam dua cara, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi saat anak menggabungkan informasi ke dalam pengetahuan yang telah mereka miliki. Akomodasi terjadi bila anak menyesuaikan pengetahuan mereka agar cocok dengan informasi dan pengalaman baru.
Sedangkan Lev Vygotsky berpendapat bahwa pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dialihkan dari orang lain, melainkan merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak. Vygotsky yakin bahwa belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dipaksa dari luar karena anak adalah pembelajar aktif dan memiliki struktur psikologis yang mengendalikan perilaku belajarnya.

3. Teori Perilaku dan Sosial-kognitif
Teori perilaku dan sosial-kognitif merupakan pandangan psikolog yang menekankan bahwa perilaku, lingkungan dan kognisi faktor kunci dalam perkembangan. Teori ini terkait dengan bagaimana anak-anak berkembang secara sosial, emosional, dan intelektual, tetapi tidak menjelaskan tentang perkembangan fisik karena banyak orang yang menyetujui bahwa perkembangan fisik berkaitan dengan genetika (keturunan) yang ditentukan berdasarkan gen dari kedua orang tuanya, sehingga dengan demikian tidak mempengaruhi perilaku anak. Tiga versi pendekatan perilaku dan sosial-kognotif ini adalah classical conditioning dari Pavlov (sebuah stimulus netral memperoleh kemampuan untuk menghasilkan sebuah respon yang tadinya dihasilkan oleh stimulus lain), operant conditioning dari Skinner (konsekuensi dari suatu perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas kejadian perilaku tersebut), dan teori sosial-kognitif dari Albert Bandura (menekankan interaksi timbal balik antara manusia (kognisi), perilaku dan lingkungan).

4. Teori Etologi
Teori etologi memandang bahwa perilaku sangat dipengaruhi biologi dan evolusi. Teori ini juga menekankan bahwa kepekaan kita terhadap jenis pengalaman yang beragam berubah sepanjang rentang kehidupan. Ada periode kritis atau sensitif bagi beberapa pengalaman, jika kita gagal mendapat pengalaman selama periode sensitif tersebut, teori etologi menyatakan bahwa perkembangan kita tidak mungkin dapat optimal.
John Bowbly salah satu tokoh teori etologi menyatakan bahwa kelekatan pada pengasuh selama satu tahun pertama kehidupan memiliki konsekuensi penting sepanjang hidup. Jika kelekatan ini positif dan aman, seseorang mempunyai dasar untuk berkembang menjadi individu yang kompeten yang memiliki hubungan sosial positif dan menjadi matang secara emosional. Jika hubungan kelekatannya negatif dan tidak aman, maka saat anak tumbuh ia akan menghadapi kesulitan dalam hubungan sosial serta dalam menangani emosi.

5. Teori Ekologi
Teori ekologi merupakan pandangan Bronfenbrenner bahwa perkembangan dipengaruhi oleh lima sistem lingkungan, berkisar dari lima konteks dasar mengenai interaksi langsung dengan orang-orang hingga konteks budaya berdasar luas. Lima sistem dalam teori ekologi Bronfenbrenner yaitu:
a. Mikrosistem adalah lingkungan di mana individu tinggal.
b. Mesosistem mencakup hubungan antar mikrosistem atau hubungan antar konteks.
c. Eksosistem terlibat saat pengalaman dalam lingkungan sosial lain -di mana individu tidak mempunyai peran aktif- mempengaruhi apa yang dialami individu dalam konteks langsung.
d. Makrosistem mencakup budaya di mana seseorang tinggal.
e. Kronosistem mencakup pembuatan pola kejadian lingkungan dan transisi sepanjang kehidupan.

C. Hukum Perkembangan

Perkembangan merupakan suatu perubahan yang terus menerus di alami, tetapi ia tetap menjadi kesatuan. Suatu konsepsi yang biasanya deduktif dan menunjukkan adanya hubungan yang ajeg (continue) serta dapat diramalkan sebelumnya antara variabel-variabel yang empirik, hal itu disebut sebagai hukum perkembangan. Perkembangan jasmani dan rohani berlangsung menurut hukum-hukum perkembangan tertentu.

1. Hukum Tempo Perkembangan
Perkembangan jiwa tiap-tiap anak itu berlainan menurut tempo masing-masing perkembangan anak yang ada. Ada yang memiliki tempo singkat (cepat ) adapula yang lambat. Ada anak yang cepat menguasai keterampilan bicara, ada yang cepat menguasai keterampilan berjalan, sesuai perkembangan yang dimiliki anak.

2. Hukum Irama Perkembangan
Hukum ini mengungkapkan bukan lagi cepat atau lambatnya perkembangan anak, akan tetapi tentang iram atau rythme perkembangan. Perkembangan anak itu mengalami gelombang “pasang surut”, mulai lahir hingga dewasa, kadangkala anak tersebut mengalami juga kemunduran dalam suatu bidang tertentu. Misalnya, akan mudah sekali diperhatikan jika mengamati perkembangan pada anak-anak menjelang remaja. Ada anak yang menampakkan kegoncangan yang hebat, tetapi adapula anak yang melewati masa tersebut dengan tenang tanpa menunjukkan gejala-gejala yang serius. Coba perhatikan anak usia 03;0 – 05;0 tahun dan pada usia 12;0 -14;0 tahun. Sebab kedua masa itu merupakan masa transisi/krisis pertama dan kedua bagi seorang anak.

3. Hukum Konvergensi Perkembangan

Pandangan pendidikan tradisional di masa lalu berpendapat bahwa hasil pendidikan yang dicapai anak selalu dihubung-hubungkan dengan status pendidikan orang tuanya (nativisme). Menurut kenyataan yang ada sekarang ternyata bahwa pendapat lama itu tidak sesuai lagi dengan keadaan (empirisme). William Stern menggabungkan kedua pendapat tersebut ke dalam hukum konvergensi yang mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak adalah pengaruh dari unsur lingkungan dan pembawaan.

4. Hukum Kesatuan Organ
Tiap-tiap anak itu terdiri dari organ-organ (anggota) tubuh yang merupakan satu kesatuan. Di antara organ-organ tersebut antara fungsi dan bentuknya, tidak dapat dipisahkan berdiri integral. Misalnya, perkembangan kaki yang semakin besar dan panjang, mesti diiringi oleh perkembangan otak, kepala, tangan dan organ lainnya.

5. Hukum Hierarchi Perkembangan
Perkembangan anak tidak mungkin akan mencapai suatu fase tertentu dengan cara spontan sekaligus, akan tetapi harus melalui tahapan tertentu yang telah tersusun sedemikian rupa. Sehingga perkembangan diri seseorang menyerupai derat perkembangan. Misalnya, perkembangan pikiran/intelek anak, mesti didahului dengan perkembangan pengenalan dan pengamatan.

6. Hukum Masa Peka
Masa peka ialah suatu masa yang paling tepat untuk berkembang suatu fungsi kejiwaan atau fisik seseorang anak. Sebab perkembangan suatu fungsi tersebut tidak berjalan secara serempak/bersamaan antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, masa peka untuk berjalan bagi seorang anak itu pada awal tahun kedua, dan untuk bicara sekitar akhir tahun pertama.

7. Hukum Memperkembangkan Diri

Dalam kehidupan ada dorongan dan hasrat untuk mempertahankan diri. Dorongan pertama adalah dorongan mempertahankan diri, kemudian disusul dengan dorongan mengembangkan diri. Dorongan mempertahankan diri terwujud, misalnya pada dorongan makan dan menjaga keselamatan diri sendiri. Anak menyatakan perasaan haus dan lapar dalam bentuk menangis (anak mempertahankan dirinya dengan menangis). Jika ibu mendengar anaknya menangis, tangisnya itu dianggap sebagai drongan mempertahankan diri.
Dalam perkembangan jasmani dan sebagai terlihat hasrat dasar untuk mengembangkan pembawaan. Untuk anak-anak, dorongan mengembangkan diri berbentuk hasrat mengenal lingkungan, usaha belajar berjalan, kegiatan bermain, dan sebagainya. Di kalangan remaja timbul rasa persaingan dan perasaan belum puas terhadap apa yang telah tercapai. Hal ini dapat dianggap sebagai dorongan mengembangkan diri.

8. Hukum Rekapitulasi
Perkembangan yang dialami anak merupakan ulangan (secara cepat) sejarah kehidupan yang berlangsung dengan lambat selama berabad-abad, dari masa berburu hingga masa industri. Hukum rekapitulasi ini membagi kehidupan anak menjadi:
a. Masa memburu dan menyamun. Masa ini dialami anak ketika anak berusia sekitar 8 tahun. Misalnya anak-anak senang menangkap-nangkap dalam permainannya, kejar-kejaran, perang-perangan.
b. Masa menggembala. Masa ini dialami ketika anak berusia sekitar 10 tahun. Misalnya, anak senang memelihara binatang seperti ikan, kucing, kelinci.
c. Masa bercocok tanam. Masa ini dialami ketika anak berusia12 tahun. Misalnya, anak senang berkebun, bertanam, menyiram.
d. Masa berdagang. Masa ini dialami ketika anak berusia14 tahun. Misalnya anak senang bertukar benda koleksinya, kiriman foto, bermain jual-jualan.

D. Tahapan Perkembangan Anak Usia Dini
Wolkfolk (Masitoh, 2004: 2.3) mengemukakan development orderly, adaptive changes we go through from conception to death. Sedangkan Sroufe (Masitoh, 2004: 2.3) menegaskan bahwa development is the process of orderly communicational, directional, and age related behavioral reorganization and qualitative change in a person. Hal ini berarti perkembangan adalah proses teratur yang berkaitan dengan reorganisasi perilaku dan perubahan kualitatif dalam diri seseorang.
Perkembangan merupakan suatu proses dalam kehidupan manusia yang berlangsung secara terus menerus, sejak masa konsepsi sampai akhir hayat. Perkembangan juga diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh seorang individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara:
1. Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antar bagian organisme (fisik dan psikis) dan bagian-bagian tersebut merupakan satu kesatuan yang harmonis.
2. Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam (meluas) baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis).
3. Berkesinambungan, berarti perubahan pada bagian atau fungsi organism berlangsung secara beraturan dan berurutan. Perubahan tersebut tidak secara kebetulan atau meloncat-loncat.

Fase perkembangan dapat diartikan sebagai penahapan rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laku tertentu. Fase perkembangan tersebut secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu berdasarkan anailisis biologis, didaktis dan psikologis.

1. Fase Perkembangan Berdasarkan Biologis
Para ahli kejiwaan mendasarkan pembahasannya pada kondisi atau proses pertumbuhan biologis anak karena pertumbuhan biologis ikut berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan anak.
a. Pendapat Kretschmer yang membagi perkembangan anak menjadi 4 fase:
1). Fullungs periode 1 : umur anak 0;0 – 3;0, pada masa ini anak dalam keadaan pendek, gemuk,
bersikap terbuka, mudah bergaul dan mudah didekati.
2). Strecungs periode 1 : umur 3;0 – 7;0, kondisi badan anak nampak langsing (tidak begitu gemuk)
biasanya sikap anak tertutup, susah bergaul juga susah didekati.
3). Fullungs periode II : umur 7;0 – 13;0, keadaan fisik anak kembali gemuk.
4). Srecungs periode II : umur 13;0 – 20, keadaan fisik anak kembali langsing.

b. Pendapat Aristoteles yang membagi perkembangan anak menjadi 3 fase:
1). Fase I : umur 0;0 -7;0, disebut masa kecil, kegiatan anak pada waktu ini hanya bermain.
2). Fase II : umur 7;0 – 14;0, masa anak atau masa sekolah di mana kegiatan anak mulai belajar di
sekolah dasar.
3). Fase III : umur 14;0 – 21;0, disebut masa remaja atau pubertas, masa ini adalah masa peralihan
(transisi) dari anak menjadi orang dewasa.
Pendapat ini dikategorikan pada periodesasi yang berdasarkan pada biologis karena aristoteles menunjukkan bahwa antara fase I dan fase ke II ditandai dengan adanya pergantian gigi, serta batas antara fase ke II dengan fase ke III ditandai dengan mulai bekerjanya atau berfungsinya organ kelengkapan kelamin.

c. Pendapat Frued yang membagi perkembangan anak menjadi 5 fase:
1). Fase oral : umur 0;0 – 1;0, fase masa ini, mulut merupakan sentral pokok keaktifan dinamis.
2). Fase anal : umur 1;0 – 3;0, dorongan dan tahanan berpusat pada alat pembungan kotoran.
3). Fase falis : umur 3;0 – 6;0, fase ini alat-alat kelamin perempuan merupakan organ paling perasa.
4). Fase laten : umur 6;0 – 11;0, impuls-impuls cenderung untuk berada pada kondisi tertekan.
6). Fase genital : umur 11 ke atas (adolescence), seseorang telah sampai pada awal dewasa.

d. Pendapat Jesse Feiring Williams yang membagi perkembangan anak menjadi 4 fase:
1). Masa nursery dan kindergarten : umur 0;0 – 6;0
2). Masa cepat memperoleh kekuatan/tenaga : umur 6;0 -10;0
3). Masa cepat berkembangnya tubuh : umur 10;0 – 14;0
4). Masa adolescence : umur 14;0 – 19;0 masa perubahan pola dan kepentingan kemampuan anak
dengan cepat.

e. Pendapat Elizabeth Hurlock yang membagi perkembangan anak menjadi 5 fase:
1). Fase prenatal (sebelum lahir), mulai masa konsepsi sampai proses kelahiran, sekitar 9 bulan atau
280 hari.
2). Fase infancy (orok), mulai lahir sampai usia 10 atau 14 hari.
3). Fase babyhood (bayi), mulai 2 minggu sampai 2 tahun.
4). Fase childhood (kanak-kanak), mulai 2 tahun sampai masa remaja.
5). Fase adolescence/puberty, mulai usia 11 atau13 tahun sampai usia 21 tahun. Tahap ini dibagi lagi
menjadi:
a). pre-adolescence : umur 11 – 13 tahun pada wanita, sedangkan pada pria lebih lambat dari itu.
b). early adolescence : umur 16 – 17 tahun.
c). late adolescence : masa perkembangan yang terakhir (sampai masa usia kuliah).

2. Fase Perkembangan Berdasarkan Didaktis
Tinjauan fase perkembangan ini adalah dari segi keperluan/materi apa kiranya yang tepat diberikan kepada anak didik pada masa-masa tertentu, serta memikirkan tentang kemungkinan metode yang paling efektif untuk diterapkan di dalam mengajar atau mendidik anak pada masa tertentu tersebut.
a. Pendapat Johan Amos Comenius (komensky) yang membagi perkembangan anak menjadi 4 fase:
1). Scola matema (sekolah ibu) : umur 0;0 – 6;0, masa anak mengambangkan organ tubuh dan panca
indera di bawah asuhan ibu (keluarga).
2). Scole vermacula (sekolah bahasa ibu) : umur 6;0 – 12;0, mengembangkan pikiran, ingatan dan
perasaannya di sekolah dengan menggunakan bahasa daerah (bahasa ibu).
3). Scola latina (sekolah bahasa latin) : umur 12;0 – 18;0, masa anak mengembangkan potensinya
terutama daya intelektualnya dengan bahasa asing.
4). Academia (akademi) : umur 18;0 – 24;0, media pendidikan yang tepat bagi anak.

b. Pendapat Jean Jacques Rousseau yang membagi perkembangan anak menjadi5 fase:
1). Masa asuhan (nursery) : umur 0;0 – 2;0.
2). Masa pentingnya pendidikan jasmani dan alat-alat indera : umur 2;0 – 12;0.
3). Masa perkembangan pikiran dan masa juga terbatas : umur 12;0 – 15;0.
4). Masa pentingnya pendidikan serta pembentukan watak, kesusilaan juga pembinaan mental agama :
umur 15;0 – 20;0.
5). Masa ini lebih membahas tentang pendidikan kaum wanita : umur 20 ke atas.

c. Pendapat Maria Montessori yang membagi perkembangan anak menjadi 4 fase:
1). Masa penerimaan dan pengaturan rangsangan dari dunia luar melalui alat indera : umur 1;0 – 7;0.
2). Masa abstrak, di mana anak sudah mulai memperhatikan masalah kesusilaan, mulai berfungsi
perasaan ethnisnya yang bersumber dari kata hatinya dan mulai tahu akan kebutuhan orang lain :
umur 7;0 – 12;0.
3). Masa penemuan diri serta kepuasan terhadap masalah-masalah sosial : 12;0 – 18;0.
4). Masa pendidikan di perguruan tinggi, masa untuk melatih anak akan realitas kepentingan dunia. Ia
harus mampu berppikir jernih, jauh dari perbuatan tercela.

d. Pendapat Charles E Skinner yang membagi perkembangan anak menjadi 2 fase:
1). Tahap pre-natal : – germinal: dua minggu setelah conception
– embrio: dari akhir minggu kedua sampai minggu keenam
– janin: akhir minggu keenam sampai kelahiran
2). Tahap post-natal : – Parturate dari lahir sampai dengan pemutusan tali pusat
– Neonatus dua sampai empat minggu pertama kehidupan
– Bayi firtst dua tahun
– Prasekolah anak dari usia dua tahun sampai enam tahun
– Anak sekolah dasar 6-9 tahun
– Murid sekolah menengah 9-12 tahun
– Murid SMP SMA 12-15 tahun, suatu periode yang biasanya meliputi masa
pubertas dan tahap remaja

3. Fase Perkembangan Berdasarkan Psikologis
Fase pembagian ini mengembalikan permasalahan kejiwaan dalam kedudukannya yang murni.
a. Pendapat Kroh yang membagi perkembangan anak menjadi 3 fase:
1). Sejak lahir hingga trotz periode I disebut masa anak-anak awal : umur 0;0 – 3;0/4;0.
2). Dari trotz periode I hingga trozt periode II disebut masa keserasian bersekolah : umur 3;0/4;0 –
12;0/13;0.
3). Dari trotz periode II hingga akhir masa remaja disebut masa kematangan : umur 12;0/13;0 – 21;0.

Pada dasarnya perkembangan jiwa anak itu berjalan secara evolutif. Pada umumnya proses tersebut pada waktu-waktu tertentu mengalami kegoncangan (aktivitas revolusi). Masa kegoncangan ini oleh Kroh disebut Trotz periode, biasanaya tiap anak akan mengalaminya sebanyak dua kali, yaitu trotz I sekitar usia 3-4 tahun dan trotz II sekitar umur 12 tahun bagi putri dan umur 13 tahun bagi putra.

b. Pendapat Charlotte Buhler yang membagi perkembangan anak menjadi 5 fase:
1). Fase I : perkembangan sikap subyektif menuju obyektif : umur 0;0 – 1;0.
2). Fase II : makin meluasnya hubungan dengan benda-benda sekitarnya atau mengenal dunia secara
subyektif : umur 1;0 – 4;0.
3). Fase III : masa memasukkan diri ke dalam masyarakat secara obyektif, adanya hubungan diri dengan
lingkungan sosial dan mulai menyadari akan kerja, tugas serta prestasi : umur 4;0 – 8;0.
4). Fase IV : munculnya minat ke dunia obyek sampai pada puncaknya, ia mulai memisahkan diri dari
orang lain dan sekitarnya secara sadar : umur 8;0 – 13;0.
5). Fase V : masa penemuan diri dan kematangan yakni synthesa sikap subyektif dan obyektif : umur
13;0 – 19;0.

E. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini
Sesuai dengan sifat individu yang unik, adanya variasi individual dalam perkembangan anak merupakan hal normal terjadi. Terkadang anak yang satu lebih cepat berkembang daripada anak yang lainnya, begitupun dalam perbedaan minat dan kecakapan, sementara sebagian anak lebih senang melakukan gerakan-gerakan fisik atau bermain kelompok dengan temannya. Berdasarkan dari tahapan perkembangan yang telah dibahas, uraian berikut mengetengahkan tentang karakteristik anak yang dibatasi pada hal-hal yang bersifat menonjol dan lebih terkait dengan proses pembelajaran anak:

1. Perkembangan anak usia 0 – 2 tahun
Pada masa bayi secara umum anak mengalami perubahan yang jauh lebih pesat dibanding dengan yang akan dialami pada fase-fase berikutnya. Berbagai kemampuan dan keterampilan dasar, baik yang berupa keterampilan lokomotor (bergulir, duduk, berdiri, merangkak, dan berjalan), keterampilan memegang benda, penginderaan (melihat, mencium, mendengar, dan merasakan sentuhan), maupun kemampuan untuk mereaksi secara emosional dan sosial (berhubungan dengan orang tua, pengasuh, dan orang-orang dekat lainnya) dapat dikuasai pada fase ini. Berbagai kemampuan dan keterampilan dasar tersebut merupakan modal penting bagi anak untuk mengarungi dan menjalani proses perkembangan selanjutnya.
Bagi bayi, gerakan-gerakan motorik dan pengalaman-pengalaman sensori ini sangat vital. Pengalaman-pengalaman demikian di samping dapat merangsang pertumbuhan fisik, juga sekaligus meningkatkan dan memperkaya kualitas fungsi fisik tersebut. Sehingga bayi yang memiliki kesempatan luas untuk melakukan gerakan-gerakan motorik akan terdorong untuk mengalami pertumbuhan fisik yang sehat dengan penguasaan keterampilan-keterampilan motorik dasar yang cepat. Sebaliknya, bayi yang kurang mendapat kesempatan demikian sangat dimungkinkan untuk mengalami hambatan dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan keterampilan motoriknya.
Komunikasi responsif dengan orang dewasa akan mendorong dan memperluas respon-respon verbal dan non-verbal bayi. Bayi mulai belajar tentang pengalaman-pengalaman sensori dan ekspresi-ekspresi perasaan, meskipun bayi belum memahami kata-kata. Penyajian pengalaman-pengalaman menarik dengan menyediakan obyek-obyek mainan menarik merupakan hal yang bias berpengaruh positif terhadap perkembangan kemampuan bayi dalam mengekspresikan perasaan dan keterampilan-keterampilan sensori lainnya. Menurut Bredkamp (Solehuddin, 2000), jika bayi terasing dari pengalaman-pengalaman sensori-motor tersebut, maka bukan saja perkembangan emosionalnya yang akan terhambat melainkan juga perkembangan kognisinya.
Bayi yang baru lahir ke dunia dilengkapi dengan kesiapan untuk melakukan kontak sosial. Selama 9 bulan pertama ia akan mengembangkan kemampuannya untuk membedakan antara orang-orang yang dikenalnya dengan orang-orang yang tidak dikenalnya. Pada usia ini bayi sudah mulai belajar melafalkan suara-suara dan gerakan-gerakan yang mengkomunikasikan suasana emosinya seperti senang, terkejut, marah, cemas dan perasan lainnya. Dalam hal ini bayi mengembangkan harapan-harapan tentang perilaku orang berdasarkan pada bagaimana cara orang tua dan pengasuh lainnya memperlakukannya. Melalui interaksi-interaksi sosial yang penuh kehangatan dan kasih saying ini, bayi mulai mengembangkan hubungan cinta kasih yang positif
Hal yang perlu diingat adalah bahwa pemenuhan kebutuhan bayi sepenuhnya masih tergantung kepada orang dewasa. Bayi juga masih mudah untuk mengalami frustasi karena belum mampu mengatasi ketidaknyamanan atau suasana stress secara aktif. Hal ini , diakibatkan belum dikuasainya keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk itu. Bayi mengekspresikan apa yang dirasakan dan diinginkannya melalui bahasanya sendiri seperti tertawa, menangis, terkejut, dan sejenisnya. Terhadap ekspresi-ekspresi bayi tersebut, orang tua dan pengasuh lainnya harus memahami dan memberikan respon secara tepat namun tidak berlebihan.

2. Perkembangan anak usia 2 – 3 tahun

Di samping masih memiliki beberapa kesamaan karakteristik dengan pada masa sebelumnya, anak usia 2-3 tahun memiliki karakteristik khusus. Dari segi fisik, pada fase ini anak masih tetap mengalami pertumbuhan yang pesat, khususnya berkenaan dengan pertumbuhan dengan pertumbuhan otot-otot besar. Anak pada usia ini sudah tahu bagaimana berjalan dan berlari. Anak juga mulai senang memanjat dan menaiki sesuatu, membuka pintu, serta mencoba berdiri di atas satu kaki dan berloncat. Anak senang mencoba sesuatu sehingga memerlukan ruangan yang cukup luas untuk itu. Dengan penguasaan keteramppilan-keterampilan dasar yang diperoleh pada masa bayi, anak seusia ini akan tampak senang melakukan banyak aktivitas.
Anak juga biasanya sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada disekitarnya. Anak memiliki kekuatan observasi yang tajam, menyerap dan membuat perbendaharaan bahasa baru, belajar tentang jumlah, membedakan antara konsep “satu” dengan “banyak”. Mulai senang mendengarkan cerita-cerita sederhana, dan gemar melihat-lihat buku. Melalui berbagai aktivitas itulah menurut pengamatan piaget (Solehuddin: 2000) anak pada usia ini berpikir, pada saat anak aktif melakukan aktivitas-aktivitas fisik, secara stimulant aktivitas mentalnya juga terlibat.
Meskipun hanya dengan beberapa patah kata, anak seusia ini juga mulai berbicara satu sama lain. Anak mulai senang melakukan percakapan walau dalam bentuk perbendaharaan kata dan kalimat terbatas. Namun simultan dengan itu, sikap dan perilaku egosentris anak pada usia dini ini sangat menonjol. Anak pada usia ini memandang peristiwa- peristiwa yang dihadapinya hanya dari kacamata dan kepentingannya sendiri. Anak belum bisa memahami persoalan-persoalan itu dari sudut pandang orang lain, cenderung melakukan sesuatu itu hanya menurut kemauannya sendiri tanpa memperdulikan kemauan dan kepentingan orang lain. Oleh karena itu, terjadinya perselisihan, berebut mainan, dan perilaku sejenisnya sangat dimungkinkan untuk sering dialami oleh anak-anak seusia ini.
Hal lain yang perlu dipahami bahwa anak usia ini biasanya memiliki kemampuan untuk memperhatikan sesuatu hanya dalam jangka yang sangat pendek. Anak belum bisa mengikuti suatu pembicaraan orang lain secara lama, cenderung beralih-alih perhatian dari suatu benda ke benda lainnya, dari suatu aktivitas ke aktivitas lainnya, dan/atau dari suatu pembicaraan ke pembicaraan lainnya. Anak belum memiliki pertimbangan yang sehat dan rasa bahaya, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain adalah cirri lain yang secara menonjol juga dimiliki anak seusia ini. Cenderung melakukan segala sesuatu hanya didasarkan atas keinginannya, tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.

3. Perkembangan anak usia 3 – 4 tahun
Pada usia ini anak juga masih mengalami perkembangan pesat dalam banyak hal. Anak mengalami peningkatan yang cukup berarti baik dalam perkembangan perilaku motorik, berpikir fantasi, maupun dalam kemampuan mengatasi frustasi. Anak dapat menguasai semua jenis gerakan-gerakan tangan kecil, dapat memungut benda-benda kecil, dapat memegang benda, dan dapat memasukkan benda ke lubang-lubang kecil, anak juga memiliki keterampilan memanjat atau menaiki benda-benda secara lebih sempurna. Meskipun sifat egosentrisnya masih melekat pada anak seusia ini, biasanya sudah bisa bekerja dalam suatu aktivitas tertentu dengan cara-cara yang lebih dapat diterima secara sosial daripada sebelumnya. Aktivitas-aktivitas bermain bersama sudah dapat dilakukan secara lebih lama oleh anak seusia ini.
Pada usia ini anak memiliki kehidupan fantasi yang kaya dan menuntut lebih banyak kamandirian. Dengan kehidupan fantasi yang dimilikinya ini, anak memperlihatkan kesiapan untuk mendengarkan cerita-cerita secara lebih lama. Anak menyenangi dan menghargai sajak-sajak sederhana, begitupun kemandirian yang dituntutnya membuat ia tidak mau banyak diatur dalam kegiatan-kegiatannya. Tingkat frustasi usia ini cenderung menurun bila dibanding sebelumnya, hal ini disebabkan adanya peningkatan kemampuan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialaminya secara lebih aktif, di samping juga karena peningkatan kemampuan dalam mengekspresikan keinginan-keinginannya kepada orang lain.

4. Perkembangan anak usia 4 – 5 tahun
Rasa ingin tahu dan sikap antusias yang kuat terhadap segala sesuatu merupakan cirri yang menonjol pada anak usia sekitar 4-5 tahun. Anak memiliki sikap berpetualang (adventurousness) yang begitu kuat. Anak akan banyak memperhatikan, membicarakan, atau bertanya tentang berbagai hal yang sempat dilihat atau didengarnya. Secara khusus, anak pada usia ini juga memiliki keinginan yang kuat untuk lebih mengenal tubuhnya sendiri, anak senang dengan nyanyian, permainan, dan/atau rekaman yang membuatnya untuk lebih mengenal tubuhnya. Minatnya yang kuat untuk mengobservasi lingkungan dan benda-benda di sekitarnya membuat anak seusia ini senang ikut bepergian ke daerah-daerah sekitar lingkungannya. Anak akan sangat mengamati bila diminta untuk mencari sesuatu, karenanya pengenalan terhadap binatang-binatang piaraan dan lingkungan sekitarnya dapat merupakan pengalaman yang positif untuk pengembangan minat keilmuan anak.
Berkenaan dengan pertumbuhan fisik, anak usia ini masih perlu aktif melakukan berbagai aktivitas. Kebutuhab anak untuk melakukan berbagai aktivitas ini sangat diperlukan baik bagi pengembangan otot-otot kecil maupun otot-otot besar. Pengembangan otot-otot kecil ini terutama diperlukan anak untuk menguasai keterampilan-keterampilan dasar akademik, seperti belajar menggambar dan menulis. Anak masih tidak dapat berlama-lama untuk duduk dan berdiam diri, menurut Berg (Solehuddin: 2000) sepuluh menit adalah waktu yang wajar bagi anak usia dini sekitar 5 tahun ini untuk dapat duduk dan memperhatikan sesuatu secara nyaman. Gerakan-gerakan fisik tidak sekedar penting untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan fisik, melainkan juga dapat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan rasa harga diri (self esteem) dan bahkan perkembangan kognisi.
Keberhasilan anak dalam menguasai keterampilan-keterampilan motorik dapat membuatnya bangga akan dirinya. Begitu juga gerakan-gerakan fisik dapat membantu anak dalam memahami konsep-konsep yang abstrak, sama halnya dengan orang dewasa yang memerlukan ilustrasi untuk memahami konsep hamper sepenuhnya tergantung pada pengalaman-pengalaman yang bersifat langsung (hand-on experiences). Sejalan dengan perkembangan keterampilan fisiknya, anak semakin berminat dengan teman-temannya. Anak mulai menunjukkan hubungan dan kemampuan kerja sama yang lebih intens dengan teman-temannya, biasanya ia memilih teman berdasarkan kesamaan aktivitas dan kesenangan. Abilitas untuk memahami pembicaraan dan pandangan orang lain semakin meningkat sehingga keterampilan komunikasinya juga meningkat. Penguasaan keterampilan berkomunikasi membuat anak semakin senang bergaul dan berhubungan dengan orang lain. Sampai di usia ini anak masih memerlukan waktu dan cara yang tidak terstruktur untuk mempelajari sesuatu serta untuk mengembangkan minat dan kesadarannya akan bahan-bahan tertulis.

Anak-anak usia 2-4 tahun menurut Musthafa (2002) mempunyai ciri:
1. Anak-anak prasekolah mempunyai kepekaan bagi perkembangan bahasanya;
2. Mereka menyerap pengetahuan dan keterampilan berbahasa dengan cepat dan piawai dalam
mengolah input dari lingkungannya;
3. Modus belajar yang umumnya disukai adalah melalui aktivitas fisik dan berbagai situasi yang bertautan
langsung dengan minat dan pengalamannya;
4. Walaupun mereka umumnya memiliki rentang perhatian yang pendek, mereka gandrung mengulang
ngulang kegiatan atau permainan yang sama;
5. Anak-anak prasekolah ini sangat cocok dengan pola pembelajaran lewat pengalaman konkret dan
aktivitas motorik.

Sementara itu, anak-anak usia 5-7 tahun sebagai tahun-tahun awal memasuki sekolah dasar mereka mempunyai ciri:
1. Kebanyakan anak-anak usia ini masih berada pada tahap berpikir praoperasional dan cocok belajar
melalui pengalaman konkret dan dengan orientasi tujuan sesaat;
2. Mereka gandrung menyebut nama-nama benda, medefinisikan kata-kata, dan mempelajari
benda-benda yang berada di lingkungan dunianya sebagai anak-anak;
3. Mereka belajar melalui bahasa lisan dan pad tahap ini bahasanya telah berkembang dengan pesat;
4. Pada tahap ini anak-anak sebagai pembelajar memerlukan struktur kegiatan yang jelas dan intruksi
spesifik.

Banyak teori perkembangan yang dihasilkan oleh para ahli, suatu teori mempunyai perbedaan dan persamaan dengan teori lainnya serta terjadinya perubahan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, Solehuddin (2002) mengidentifikasikan sejumlah karakteristik anak usia prasekolah sebagi berikut:
1. Anak bersifat unik. Anak sebagai seorang individu berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan ini dapat
dilihat dari aspek bawaan, minat, motivasi dan pengalaman yang diperoleh dari kehidupannya masing-
masing. Ini berarti bahwa walaupun ada acuan pola perkembangan anak secara umum, dan kenyataan
anak sebagai individu berkembang dengan potensi yang berbeda-beda.
2. Anak mengekspresikan prilakunya secara relatif spontan. Ekspresi perilaku secara spontan oleh anak akan
menampakan bahwa perilaku yang dimunculkan anak bersifat asli atau tidak ditutup-tutupi. Dengan kata
lain tidak ada penghalang yang dapat membatasi ekspresi yang dirasakan oleh anak. Anak akan
membantah atau menentang kalau ia merasa tidak suka. Begitu pula halnya dengan sikap marah, senang,
sedih, dan menangis kalau ia dirangsang oleh situasi yang sesuai dengan ekspresi tersebut.
3. Anak bersifat aktif dan energik. Bergerak secara aktif bagi anak usia prasekolah merupakan suatu
kesenangan yang kadang kala terlihat seakan- akan tidak ada hentinya. Sikap aktif dan energik ini akan
tampak lebih intens jika ia menghadapi suatu kegiatan yang baru dan menyenangkan.
4. Anak itu egosentris. Sifat egosentris yang dimiliki anak menyebabkan ia cenderung melihat dan memahami
sesuatu dari sudut pandang dan kepentingan sendiri.
5. Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal.Anak pada usia ini juga
mempunyai sifat banyak memperhatikan, membicarakan dan mempertanyakan berbagai hal yang dilihat dan
didengarnya terutama berkenaan dengan hal-hal yang baru.
6. Anak bersifat eksploratif dan petualang. Ada dorongan rasa ingin tahu yang sangat kuat terhadap segala
sesuatu, sehingga anak lebih anak lebih senang untuk mencoba, menjelajah, dan ingin mempelajari hal-hal
yang baru. Sifat seperti ini misalnya, terlihat pada saat anak ingin membongkar pasang alat-alat mainan
yang ada.
7. Anak umumnya kaya dengan fantasi. Anak menyenangi hal yang bersifat imajinatif. Oleh karena itu,
mereka mampu untuk bercerita melebihi pengalamannya. Sifat ini memberikan implikasi terhadap
pembelajaran bahwa bercerita dapat dipakai sebagai salah satu metode belajar.
8. Anak masih mudah frustrasi. Sifat frustrasi ditunjukkan dengan marah atau menangis apabila suatu
kejadian tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Sifat ini juga terkait dengan sifat lainnya seperti
spontanitas dan egosentris.
9. Anak masih kurang pertimbangan dalam melakukan sesuatu.Apakah suatu aktivitas dapat berbahaya atau
tidak terhadap dirinya, seorang anak bahaya belum memiliki pertimbangan yang matang untuk itu. Oleh
karena itu lingkungan anak terutama untuk kepentingan pembelajaran perlu terhindar dari hal atau
keadaan yang membahayakan.
10. Anak memiliki daya perhatian yang pendek. Anak umumnya memiliki daya perhatian yang pendek kecuali
untuk hal-hal yang sangat disenanginya.
11. Anak merupakan usia belajar yang paling potensial. Dengan mempelajari sejumlah ciri dan potensi yang
ada pada anak, misalnya rasa ingin tahu, aktif, bersifat eksploratif dan mempunyai daya ingat lebih kuat,
maka dapat dikatakan bahwa pada usia anak-anak terdapat kesempatan belajar yang sangat potensial.
Dikatakan potensial karena pada usia ini anak secara cepat dapat mengalami perubahan yang merupakan
hakikat dari proses belajar. Oleh karena itu, lingkungan pembelajaran untuk anak perlu dikem-bangkan
sesuai potensi yang dimilikinya.
12. Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.Anak mempunyai keinginan yang tinggi untuk
berteman. Anak memiliki kemampuan untuk bergaul dan bekerjasama dengan teman lainnya.

Seiring dengan pendapat diatas, Snowman (1993) yang dikutip oleh patmonodewo (2000), anak usia prasekolah atau TK memiliki sejumlah ciri yang dapat dilihat dari aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif.
1. Ciri fisik
a. Anak prasekolah umumnya sangat aktif. Anak pada usia ini sangat menyukai kegiatan yang dilakukan
atas kemauan sendiri. Kegiatan mereka yang dapat diamati adalah seperti; suka berlari, memanjat dan
melompat.
b. Anak membutuhkan istirahat yang cukup. Dengan adanya sifat aktif, maka biasanya setelah melakukan
banyak aktivitas anak me-merlukan istirahat walaupun kadangkala kebutuhan untuk ber-istirahat ini
tidak disadarinya.
c. Otot-otot besar anak usia prasekolah berkembang dari kontrol jari dan tangan. Dengan demikin anak
usia prasekolah belum bisa me-lakukan aktivitas yang rumit seperti mengikat tali sepatu.
d. Sulit memfokuskan pandangan pada objek-objek yang kecil ukurannya sehingga koordinasi tangan dan
matanya masih kurang sempurna.
e. Walaupun tubuh anak ini lentur, tetapi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak sehingga
berbahaya jika terjadi benturan keras.
f. Dibandingkan dengan anak laki-laki, anak perempuan lebih terampil dalam tugas yang bersifat praktis,
khususnya dalam tugas motorik halus.

2. Ciri sosial
a. Anak pada usia ini memiliki satu atau dua sahabat tetapi sahabat ini cepat berganti. Penyesuaian diri
mereka berlangsung secara cepat sehingga mudah bergaul. Umumnya mereka cenderung me-milih teman
yang sama jenis kelaminnya, kemudian pemilihan teman berkembang kejenis kelamin yang berbeda.
b. Anggota kelompok bermain jumlahnnya kecil dan tidak terorganisir dengan baik. Oleh karena itu
kelompok tersebut tidak bertahan lama dan cepat berganti-ganti.
c. Anak yang lebih kecil usianya seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar usianya.
d. Pola bermain anak usia prasekolah sangat bervariasi fungsinya sesuai dengan kelas sosial dan gender.
e. Perselisihan sering terjadi, tetapi hanya berlangsung sebentar kemudian hubungannya menjadi baik
kembali. Anak laki-laki lebih banyak melakukan tingkah laku agresif dan perselisihan.
f. Anak usia prasekolah telah mulai mempunyai kesadaran terhadap perbedaan jenis kelamin dan peran
sebagai anak laki-laki dan anak perempuan. Dampak kesadaran ini dapat dilihat dari pilihan ter-hadap
alat-alat permainan.

3. Ciri emosional
a. Anak usia praskolah cenderung mengekspresikan emosinya secara bebas dan terbuka. Ciri ini dapat
dilihat dari sikap marah yang sering ditunjukannya.
b. Sikap iri hati pada anak usia prasekolah sering terjadi, sehingga mereka berupaya untuk mendapatkan
perhatian orang lain secara berebut.

4. Ciri Kognitif
a. Anak prasekolah umumnya telah terampil dalam berrbahasa. Pada umumnya mereka senang berbicara,
Khususnya dalam kelompoknya.
b. Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi, dan kasih
sayang.

Sementara itu, santoso (2000) mengemukakan pula beberapa karaktrestik anak pra sekolah, yaitu: (a) suka meniru, (b) ingin mencooba, (c) spotan, (d) jujur, (e) riang, (f) suka bermain, (g) ingin tahu (suka bertanya), (h) banyak gerak, (i) suka menunjuk akunya, dan (j) unik. Sebagai indivdu yang sedang berkembang, anak memiliki sifat suka meniru tanpa mempertimbangkan kemampuan yang ada padanya. Hal ini didorong oleh rasa ingin tahu dan ingin mencoba sesuatu yang diminati, yang kadang kala muncul secara spontan. Sikap jujur yang menunjukan kepolosan seorang anak merupakan ciri yang juga dimiliki oleh anak. Kehidupan yang dirasakan anak tanpa beban menyebabkan anak selalu tampil riang, anak dapat bergerak dan beraktivitas. Dalam aktifitas ini, anak cenderung pula menunjukkan sifat akunya, dengan mengakibatkan apa yang dimiliki oleh teman lain. Akhirnya sifat unik menunjukan bahwa anak merupakan sosok individu yang kompleks yang memiliki perbedaan dengan individu lainnya. Pemahaman guru tentang karakteristik anak akan bermanfaat dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan anak

F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini

Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang normal dan merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor-faktor tadi dibagi dalam 2 golongan:
1. Faktor Internal
a. Perbedaan ras/etnik atau bangsa
Bila seseorang dilahirkan sebagai ras orang Eropa, maka tidak mungkin ia memiliki faktor hereditas ras orang Indonesia atau sebaliknya. Tinggi badan tiap bangsa berlainan, pada umumnya ras orang kulit putih mempunyai ukuran tungkai yang lebih panjang daripada ras orang Mongol.
b. Keluarga
Ada kecendrungan keluarga yang tinggi-tinggi dan ada keluarga yang gemuk-gemuk.
c. Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.
d. Jenis kelamin
Wanita lebih cepat dewasa disbanding anak laki-laki. Pada masa pubertas wanita umumnya tumbuh lebih cepat daripada laki-laki dan kemudian setelah melewati masa pubertas laki-laki akan lebih cepat.
e. Kelainan genetik
Sebagai salah satu contoh: Achondroplasia yang menyebabkan dwarfisme, sedangkan sindroma marfan terdapat pertumbuhan tinggi badan yang berlebihan.
f. Kelainan Kromosom
Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti sindroma down’s dan sindroma turner’s.

2. Faktor eksternal
a. Faktor Pranatal
1) Gizi. Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan akan mempengaruhi pertumbuhan janin.
2) Mekanis. Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan congenital seperti club foot.
3) Toksin/zat kimia. Aminopterin dan obat kontrasepsi dapat menyebabkan kelainan congenital seperti palatoskisis.
4) Endokrin. Diabetes mellitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali, hyperplasia adrenal.
5) Radiasi. Paparan radium dan sinar rontgen dapat mengakibatkan kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan congenital mata, kelainan jantung.
6) Infeksi. Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH (Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks), PMS (Penyakit Menular Seksual) serta penyakit virus lainnya dapat mengakibatkan kelainan pada janin seperti katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan jantung congenital.
7) Kelainan Imunologi. Eritroblastosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibody terhadap sel darah merah janin; kemudian melalui plasenta masuk ke dalam peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan kernicterus yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.
8) Anoksia Embrio. Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta menyebabkan pertumbuhan terganggu.
9) Psikologis ibu. Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan sebagainya.

b. Faktor Persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala dan asfiksia dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan otak.

c. Pasca Natal
1) Gizi. Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.
2) Penyakit Kronis/kelainan congenital. Tuberculosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani.
3) Lingkungan fisis dan kimia. Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu (Pb, Mercury, rokok, dan sebagainya) mempunyai dampak yang negative terhadap pertumbuhan anak.
4) Psikologis. Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertekan akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
5) Endokrin. Gangguan hormone misalnya pada penyakit hipotiroid akan menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan. Defisisnesi hormone pertumbuhan akan menyebabkan anak menjadi kerdil.
6) Sosio-ekonomi. Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan akan menghambat pertumbuhan anak
7) Lingkungan pengasuhan. Pada lingkungan pangasuhan, interaksi ibu-anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak.
8) Stimulasi. Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak, perlakuan ibu terhadap perilaku anak.
9) Obat-obatan. Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan syaraf pusat yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.

d. Faktor lingkungan
1) Lingkungan keluarga, yaitu lingkungan yang dialami anak dalam berinteraksi dengan anggota keluarga baik interaksi secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan keluarga khususnya dialami anak usia 0 – 3 tahun. Usia ini menjadi landasan bagi anak untuk melalui proses selanjutnya.
2) Lingkungan masyarakat atau lingkungan teman sebaya. Seiring bertambahnya usia, anak akan mencari teman untuk berinteraksi dan bermain bersama. Kondisi teman sebaya turut menentukan bagaimana anak dalam tumbuh kembangnya.
3) Lingkungan sekolah. Pada umumnya anak akan memasuki lingkungan sekolah pada usia 4 – 5 tahun atau bahkan yang 3 tahun. Lingkungan di sekolah besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Sekolah yang baik akan mampu berperan secara baik dengan memberi kesempatan dan mendorong anak untuk mengaktualisasikan diri sesuai dengan kemampuan yang sesungguhnya.

BAB III
PENUTUP

Anak memiliki suatu ciri khas yang selalu tumbuh dan berkembang sejak saat konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Pentingnya memahami karakteristik anak usia dini membuat kita mengetahui bahwa usia dini merupakan usia yang paling penting dalam tahap perkembangan manusia, pengalaman awal pun sangat penting bagi tumbuh kembang anak, dan perkembangan fisik-psikis mengalami kecepatan yang luar biasa di usia dini. Mengetahui dan memahami beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kondisi proses pertumbuhan dan perkembangan anak, dapat mendeteksi kelainan yang terjadi dan sesegera mungkin dapat mengatasi permasalahannya.

DAFTAR PUSTAKA

Berk, Laura E. (2003). Child Development-sixth edition. USA: Pearson Education, Inc.
Dewantara, Ki Hajar. (1962). Bagian Pertama: Pendidikan. Jogjakarta: Madjelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Hadisubrata. (2001). Meningkatkan Intelegensi Anak. Jakarta: Gunung Mulia.
Ikatab Dokter Indonesia. (2002). Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta: C.V Sagung Seto.
Jamridafrizal. (tt). Karakteristik Anak Usia TK dan Implikasinya terhadap Pembelajaran. [Online]. Tersedia:http://www.scribd.com/doc/18120698/ karakteristik-anak-usia-tk-dan-implikasinya-terhadap-pembelajaran. [10-09-2010]
Masitoh. et al. (2004). Strategi Pembelajaran TK. Jakarta: Universitas Terbuka
Santrock, John W. (2002). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga
Solehuddin. (2000). Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Sujiono, Yuliani Nurani. (2009). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: P.T Macanan Jaya Cemerlang.
Zulkifli. (tt). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rosda Karya
(nn).(1991). Psikologi Perkembangan Anak. Semarang: P.T Rineka cipta

31
Jan
10

PEMBENTUKAN KONSEP DIRI YANG POSITIF PADA ANAK

Konsep diri memiliki peranan penting dalam menentukan perilaku individu sebagai cermin bagi individu dalam memandang dirinya. Individu akan bereaksi terhadap lingkungannya sesuai dengan konsep dirinya, menurut Burns (1993) pembentukan konsep diri memudahkan interaksi sosial sehingga individu yang bersangkutan dapat mengantisipasi reaksi orang lain. Pola kepribadian yang dasarnya telah diletakkan pada masa bayi, mulai terbentuk dalam awal masa kanak-kanak. Orang tua, saudara kandung dan sanak saudara lainnya merupakan dunia sosial bagi anak-anak, maka bagaimana perasaan mereka kepada anak- anak dan bagaimana perlakuan mereka merupakan faktor penting dalam pembentukan konsep diri, yaitu inti pola kepribadian.
Individu memberi respon terhadap dirinya sendiri dan mengembangkan sikap diri yang konsisten dengan apa-apa yang diekspresikan oleh orang lain di dalam dunianya. Hasilnya individu tersebut memahami dirinya sendiri mempunyai sifat-sifat dan nilai-nilai yang oleh orang lain mempertalikan dengan dirinya (Burns,1993).

A. Pengertian konsep Diri
1. Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki individu tentang dirinya; meliputi karakteristik fisik, sosial, psikologis, emosional, aspirasi dan prestasi (Hurlock).
2. Konsep diri adalah pandangan dan perasaan individu tentang dirinya sendiri yang dapat bersifat psikologis, sosial dan fisik (Brooks).
3. Konsep diri adalah pengetahuan dan evaluasi terhadap diri sendiri yang diperoleh
melalui pengalaman dari interaksi dengan orang lain (Burns).

Konsep diri mulai terbentuk dan berkembang begitu manusia lahir. Soeitoe menyatakan konsep diri seseorang terbentuk dari pengalaman sendiri dan dari uraian yang diberikan orang lain tentang dirinya. Pengalaman sendiri dan informasi dari lingkungan terintegrasi ke
dalam konsep diri. Konsep diri merupakan faktor bawaan tapi dibentuk dan berkembang melalui proses belajar yaitu dari pengalaman-pengalaman individu dalam interaksinya dengan orang lain. Individu dengan konsep diri yang tinggi lebih banyak memiliki pengalaman yang menyenangkan daripada individu dengan konsep diri yang rendah.

B. William D.Brooks (Rahkmat, 2005:105) bahwa dalam menilai dirinya seseorang ada yang menilai positif dan ada yang menilai negatif, dapat dikatakan juga individu tersebut ada yang mempunyai konsep diri yang positif dan ada yang mempunyai konsep diri yang negatif.
Tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri yang positif adalah :
1. Yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah. Orang ini mempunyai rasa percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin untuk mengatasi masalah yang dihadapi, tidak lari dari masalah, dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
2. Merasa setara dengan orang lain. Ia selalu merendah diri, tidak sombong, mencela atau meremehkan siapapun, selalu menghargai orang lain.
3. Menerima pujian tanpa rasa malu. Ia menerima pujian tanpa rasa malu tanpa menghilangkan rasa merendah diri, jadi meskipun ia menerima pujian ia tidak membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain.
4. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan keinginan serta perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh masyarakat. Ia peka terhadap perasaan orang lain sehingga akan menghargai perasaan orang lain meskipun kadang tidak di setujui oleh masyarakat.
5. Mampu memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Ia mampu untuk mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum menginstrospeksi orang lain, dan mampu untuk mengubahnya menjadi lebih baik agar diterima di lingkungannya.
Dasar konsep diri positif adalah penerimaan diri. Kualitas ini lebih mengarah kekerendahan hati dan kekedermawanan dari pada keangkuhan dan keegoisan. Orang yang mengenal dirinya dengan baik merupakan orang yang mempunyai konsep diri yang positif. Individu yang memiliki konsep diri positif akan bersikap optimis, percaya diri sendiri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialami. Kegagalan tidak dipandang sebagai akhir segalanya, namun dijadikan sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah kedepan. Individu yang memiliki konsep diri positif akan mampu menghargai dirinya sendiri dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
Ciri-ciri Konsep Diri yang Positif:
1. Mempunyai penerimaan diri yang baik.
2. Mengenal dirinya sendiri dengan baik.
3. Dapat memahami dan menerima fakta-fakta yang nyata tentang dirinya.
4. Mampu menghargai dirinya sendiri.
5. Mampu menerima dan memberikan pujian secara wajar.
6. Mau memperbaiki diri kearah yang lebih baik.
7. Mampu menempatkan diri di dalam lingkungan.

C. Tanda-Tanda individu yang memiliki konsep diri negatif adalah :
1. Peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah marah atau naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang mempengaruhi dari individu tersebut belum dapat mengendalikan emosinya, sehingga kritikan dianggap sebagi hal yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam berkomunikasi orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai logika yang keliru.
2. Responsif sekali terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Buat orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menjunjung harga dirinya menjadi pusat perhatian. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, merekapun hiperkritis terhadap orang lain.
3. Cenderung bersikap hiperkritis. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
4. Cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan, karena itulah ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan, berarti individu tersebut merasa rendah diri atau bahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan membenci, mencela atau bahkan yang melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi (bermusuhan).
5. Bersikap psimis terhadap kompetisi. Hal ini terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia akan menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.
Individu yang memiliki konsep diri negatif meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Individu ini akan cenderung bersikap psimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Individu yang memiliki konsep diri negatif akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika ia mengalami kegagalan akan menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan orang lain.
Ciri-ciri Konsep Diri yang Negatif
1. Peka terhadap kritik.
2. Responsif terhadap pujian.
3. Hiperkritis; individu selalu mengeluh, mencela dan meremehkan apapun dan siapapun.
4. Cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain.
5. Pesimis terhadap kompetisi (dalam kehidupan).
6. Tidak dapat menerima kekurangan dirinya.

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
1. Penampilan diri.
2. Hubungan keluarga; sikap keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan konsep diri individu. Dukungan dan kritikan menjadi masukan berharga dalam penilaian individu terhadap dirinya.
3. Kreatifitas dan kemampuan dalam menyelesaikan tugas-tugas dapat menambah rasa percaya diri.
4. Lingkungan.
5. Reaksi orang lain terhadap dirinya.
6. Usia.
7. Jenis kelamin; sumber KD laki-laki dari keberhasilan pekerjaan, sedangkan sumber KD perempuan dari keberhasilan dalam menunjukkan citra kewanitaannya.

E. Konsep diri pada anak adalah suatu persepsi tentang diri dan kemampuan anak yang merupakan suatu kenyataan bagaimana mereka memandang dan menilai diri mereka sendiri yang berpengaruh pada sikap yang mereka tampilkan. Konsep diri anak terbentuk melalui perasaan anak tentang dirinya sendiri sebagai hasil:
1. Interaksi dan pengalaman-pengalaman dengan lingkungan terdekat.
2. Kualitas hubungan yang signifikan dengan orang tua dan keluarga terdekat.
3. Atribut/media yang diberikan lingkungan terhadap dirinya.

F. Setiap anak sebagai individu di lingkungannya memiliki kebutuhan:
1. Anak merasa disayang dan dimiliki.
2. Anak merasa bagian yang penting dalam keluarga.
3. Anak merasa mampu dan bias melakukan eksplorasi
4. Anak merasa berguna.

G. Perkembangan Konsep Diri Tergantung dari:
1. Penilaian dan attachement orang tua/pendamping pada anak baik dari sisi fisik maupun ide tentang siapa anak kita.
2. Umpan balik yang diberikan orang tua/pendamping terhadap sikap-sikap awal yang ditunjukkan anak, apakah positif mengarahkan atau serba dilarang.
3. Imitasi dari perbuatan orang tua/pendamping karena orang tua merupakan model/contoh anak.
4. Identifikasi terhadap orang tua.

H. Upaya Positif yang Bisa dilakukan orang tua/pendamping:
1. Tunjukkan sikap hangat, rasa sayang dan ikhlas dalam berhubungan dengan bayi dan anak-anak.
2. Banyak berbicara, berkomunikasi positif dengan memberi stimulasi sebanyak mungkin walaupun reaksi bayi/anak belum siknifikan
3. Berdongeng bersama anak sejak bayi sebagai alat transfer nilai moral, komunikasi dua arah dan kreativitas.
4. Mengerti kecenderungan dan kebutuhan anak, seperti arti tangisan anak.
5. Hindari perbandingan anak dengan anak lain dan berbicara tentang keburukan anak pada orang lain di depan anak.
6. Fokuskan perhatian pada sisi positif anak dan perhatikan serta motivasikan agar anak mengenal kemampuan-kemampuannya.
7. Tunjukkan apresiasi orang tua/pendamping terhadap sisi positif anak dan juga katakan bahwa orang lainpun mengapresiasi dia.
8. Jika memberikan batasan terhadap perilaku anak, nyatakan secara jelas dampak dari perilakunya terhadap anak lain atau dirinya sendiri.
9. Buatlah pilihan-pilihan yang menghindari kata “tidak” & “terserah” dalam pendidikan disiplin, rutinitas positif.
10. Hindari memberi hukuman dan melontarkan kata-kata atribut negatif seperti: “kamu anak yang paling cengeng, rewel, nakal” atau “di dunia cuma kamu satu-satunya yang susah diatur”
11. Jadikan rumah tempat yang aman untuk anak bergerak dengan memperhatikan keamanan dari colokan listrik dan barang-barang di rumah yang bisa mencelakakan anak.
12. Biarkan anak berimajinasi dan bereksperimen serta menyatakan perasaan mereka dengan segala keunikannya, aktiflah bersama imajinasi anak.
13. Beri kesempatan pada anak anda untuk bereksplorasi, mencoba karena selama ada ruang untuk berbuat suatu kesalahan, disana anak belajar.
14. Hargai anak atas apapun yang mereka lakukan meskipun kecil.
15. Jujurlah terhadap kondisi yang dialami anak, jangan membohonginya dengan tahayul
16. Jadilah contoh atau model dan lakukan kegiatan sederhana bersama anak.

31
Des
09

PENANGGULANGAN ANAK & REMAJA PENDERITA HIV/AIDS

HIV/AIDS bukanlah permasalahan medis atau perorangan semata, melainkan masalah kemanusiaan yang berdampak amat besar pada segala bidang kehidupan. Untuk itu kepedulian dan kerjasama berbagai pihak, baik pemerintah dan swasta, LSM, komunitas dan ODHA sangat dibutuhkan. Semua pihak harus berkontribusi melalui fungsi dan perannya secara sinergis. HIV/AIDS termasuk salah satu permasalahan yang harus segera ditindaklanjuti agar anak-anak dan remaja tidak menjadi korban penderita. Anak-anak dan remaja sebenarnya belum tahu apa dan kenapa HIV/AIDS itu. Maka untuk mencegah permasalahannya bagaimana kita (keluarga, lingkungan pendidikan, kesehatan, masyarakat, dll) dapat mensosialisasikan pola hidup yang baik pada anak dan remaja, meredam laju penyebaran HIV/AIDS tanpa stigma dan diskriminasi, mempromosikan terwujudnya langkah-langkah nyata pencegahan HIV/AIDS, perawatan dan dukungan terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS.
Pada Tahun 2006 Presiden memberikan amanat tertuang dalam Peraturan Presiden No. 75 tahun 2006, dimana dalam Bab V Pasal 15 Ayat 2 disebutkan bahwa “Semua biaya yang dibutuhkan bagi pelaksanaan tugas Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dibebankan kepada Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah Provinsi”. Hal ini mengharuskan adanya peningkatan penanggulangan di seluruh Indonesia termasuk mewajibkan daerah provinsi dan kabupaten/kota untuk mendorong adanya kebijakan penanggulangan dan pengalokasian dana penanggulangan HIV/AIDS melalui APBD. Sejalan dengan itu pemerintah melaksanakan strategi penanggulangan HIV dan AIDS melalui tiga periode yang dimuat dalam Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS tahun 1994-2003, tahun 2003-2007 dan tahun 2007-2010. Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS berisikan:

1. TUJUAN PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS
1.1. Tujuan Umum penanggulangan HIV dan AIDS
Mencegah dan mengurangi penularan HIV, meningkatkan kualitas hidup ODHA serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat.
1.2. Tujuan Khusus Penanggulangan HIV dan AIDS
1.2.1. Menyediakan dan menyebarluaskan informasi dan menciptakan suasana kondusif untuk mendukung upaya penanggulangan HIV dan AIDS dengan menitikberatkan pencegahan pada sub-populasi berperilaku resiko tinggi dan lingkungannya dengan tetap memperhatikan sub-populasi lainnya.
1.2.2. Menyediakan dan meningkatkan mutu pelayanan perawatan, pengobatan, dan dukungan kepada ODHA yang terintegrasi dengan upaya pencegahan.
1.2.3. Meningkatkan peran serta remaja, perempuan, keluarga dan masyarakat umum termasuk ODHA dalam berbagai upaya penanggulangan HIV dan AIDS.
1.2.4. Mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara lembaga pemerintah, LSM, sektor swasta dan dunia usaha, organisasi profesi dan mitra internasional di pusat dan di daerah untuk meningkatkan respons nasional terhadap HIV dan AIDS.
1.2.5. Meningkatkan koordinasi kebijakan nasional dan daerah serta inisiatif dalam penanggulangan HIV dan AIDS.

2. DASAR KEBIJAKAN PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS
2.1. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS harus memperhatikan nilai-nilai agama dan budaya/norma kemasyarakatan dan kegiatannya diarahkan untuk mempertahankan dan memperkokoh ketahanan dan kesejahteraan keluarga;
2.2. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah, dan LSM berdasarkan prinsip kemitraan. Masyarakat dan LSM menjadi pelaku utama sedangkan pemerintah berkewajiban mengarahkan, membimbing dan menciptakan suasana yang mendukung terselenggaranya upaya penanggulangan HIV dan AIDS;
2.3. Upaya penanggulangan harus didasari pada pengertian bahwa masalah HIVdan AIDS sudah menjadi masalah sosial kemasyarakatan serta masalah nasional dan penanggulangannya melalui “Gerakan Nasional Penanggulangan HIV and AIDS”;
2.4. Upaya penanggulangan HIV and AIDS diutamakan pada kelompok masyarakat berperilaku risiko tinggi tetapi harus pula memperhatikan kelompok masyarakat yang rentan, termasuk yang berkaitan dengan pekerjaannya dan kelompok marginal terhadap penularan HIV and AIDS;
2.5. Upaya penanggulangan HIV and AIDS harus menghormati harkat dan martabat manusia serta memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender;
2.6. Upaya pencegahan HIV dan AIDS pada anak sekolah, remaja dan masyarakat umum diselenggarakan melalui kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi guna mendorong kehidupan yang lebih sehat;
2.7. Upaya pencegahan yang efektif termasuk penggunaan kondom 100% pada setiap hubungan seks berisiko, semata-mata hanya untuk memutus rantai penularan HIV;
2.8. Upaya mengurangi infeksi HIV pada pengguna napza suntik melalui kegiatan pengurangan dampak buruk (harm reduction) dilaksanakan secara komprehensif dengan juga mengupayakan penyembuhan dari ketergantungan pada napza.
2.9. Upaya penanggulangan HIV and AIDS merupakan upaya-upaya terpadu dari peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan dan perawatan berdasarkan data dan fakta ilmiah serta dukungan terhadap ODHA.
2.10.Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV and AIDS harus didahului dengan penjelasan yang benar dan mendapat persetujuan yang bersangkutan (informed consent). Konseling yang memadai harus diberikan sebelum dan sesudah pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan diberitahukan kepada yang bersangkutan tetapi wajib dirahasiakan kepada fihak lain.
2.11.Diusahakan agar peraturan perundang-undangan harus mendukung dan selaras dengan Strategi Nasional Penanggulangan HIV and AIDS disemua tingkat.
2.12.Setiap pemberi pelayanan berkewajiban memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada ODHA dan OHIDA.

3. STRATEGI
3.1. Meningkatkan dan memperluas upaya pencegahan yang nyata efektif dan menguji coba cara-cara baru;
3.2. Meningkatkan dan memperkuat sistem pelayanan kesehatan dasar dan rujukan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah ODHA yang memerlukan akses perawatan dan pengobatan;
3.3. Meningkatkan kemampuan dan memberdayakan mereka yang terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di pusat dan di daerah melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan;
3.4. Meningkatkan survei dan penelitian untuk memperoleh data bagi pengembangan program penanggulangan HIV dan AIDS;
3.5. Memberdayakan individu, keluarga dan komunitas dalam pencegahan HIV dilingkungannya;
3.6. Meningkatkan kapasitas nasional untuk menyelenggarakan monitoring dan evaluasi penanggulangan HIV dan AIDS;
3.7. Memobilisasi sumberdaya dan mengharmonisasikan pemamfaatannya di semua tingkat.

AREA PRIORITAS PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS
Area prioritas penanggulangan HIV dan AIDS untuk tahun 2007-2010 adalah sebagai
berikut:
1. Pencegahan HIV dan AIDS;
2. Perawatan, Pengobatan dan Dukungan kepada ODHA;
3. Surveilans HIV dan AIDS serta Infeksi menular Seksual;
4. Penelitian dan riset operasional;
5. Lingkungan Kondusif;
6. Koordinasi dan harmonisasi multipihak;
7. Kesinambungan penanggulangan

1. AREA PENCEGAHAN HIV DAN AIDS
Penyebaran HIV dipengaruhi oleh perilaku berisiko kelompok-kelompok masyarakat. Pencegahan dilakukan kepada kelompok-kelompok masyarakat sesuai dengan perilaku kelompok dan potensi ancaman yang dihadapi. Kegiatankegiatan dari pencegahan dalam bentuk penyuluhan, promosi hidup sehat, pendidikan sampai kepada cara menggunakan alat pencegahan yang efektif dikemas sesuai dengan sasaran upaya pencegahan. Dalam mengemas program-program pencegahan dibedakan kelompok-kelompok sasaran sebagai berikut:
• Kelompok tertular (infected people)
Kelompok tertular adalah mereka yang sudah terinfeksi HIV. Pencegahan ditujukan untuk menghambat lajunya perkembangan HIV, memelihara produktifitas individu dan meningkatkan kwalitas hidup.
• Kelompok berisiko tertular atau rawan tertular (high-risk people)
Kelompok berisiko tertular adalah mereka yang berperilaku sedemikian rupa sehingga sangat berisiko untuk tertular HIV. Dalam kelompok ini termasuk penjaja seks baik perempuan maupun laki-laki, pelanggan penjaja seks, penyalahguna napza suntik dan pasangannya, waria penjaja seks dan pelanggannya serta lelaki suka lelaki. Karena kekhususannya, narapidana termasuk dalam kelompok ini. Pencegahan untuk kelompok ini ditujukan untuk mengubah perilaku berisiko menjadi perilaku aman.
• Kelompok rentan (vulnerable people)
Kelompok rentan adalah kelompok masyarakat yang karena lingkup pekerjaan, lingkungan, ketahanan dan atau kesejahteraan keluarga yang rendah dan status kesehatan yang labil, sehingga rentan terhadap penularan HIV. Termasuk dalam kelompok rentan adalah orang dengan mobilitas tinggi baik sipil maupun militer, perempuan, remaja, anak jalanan, pengungsi, ibu hamil, penerima transfusi darah dan petugas pelayanan kesehatan. Pencegahan untuk kelompok ini ditujukan agar tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko tertular HIV. (Menghambat menuju kelompok berisiko)
• Masyarakat Umum (general population)
Masyarakat umum adalah mereka yang tidak termasuk dalam ketiga kelompok terdahulu. Pencegahan ditujukan untuk peningkatkan kewaspadaan, kepedulian dan keterlibatan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di lingkunagnnya.
1.1. Tujuan
Tujuan program-program pencegahan adalah agar setiap orang mampu melindungi dirinya agar tidak tertular HIV dan tidak menularkan kepada orang lain.
1.2. Program
Untuk mencapai tujuan pencegahan dengan berbagai sasaran maka kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program–program sebagai berikut:
1.2.1. Program peningkatan pelayan konseling dan testing sukarela
Pelayanan konseling dan testing sukarela ditingkatkan jumlah dan mutunya dengan melibatkan kelompok dukungan sebaya sehingga mencapai hasil maksimal.
1.2.2. Program peningkatan penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko
Peningkatan penggunaan kondom pada setiap hubungan seks berisiko ditingkatkan untuk mencegah infeksi HIV dan IMS. Penggunaan kondom perempuan dimungkinkan untuk digunakan pada tempat-tempat yang memerlukan. Program mencakup juga Intervensi Perubahan Perilaku (Behavior Change Intervention =BCI).
1.2.3. Program pengurangan dampak buruk penyalahgunaan napza suntik
Pengurangan dampak buruk penyalahgunaan napza suntik untuk mencegah penularan HIV dilaksanakan secara komprehensif dan bersama-sama dengan semua pemangku kepentingan terkait. Program juga dikaitkan dengan upaya pengurangan kebutuhan napza suntik bagi penasun. Program diutamakan di seluruh provinsi di Jawa dan ibu kota seluruh provinsi. Program mencakup juga Intervensi Perubahan Perilaku (Behavior Change Intervention =BCI).
1.2.4. Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak
Pencegahan penularan dari ibu HIV positif kepada bayinya dilaksanakan terutama di daerah epidemi terkonsentrasi dan di provinsi Papua dan Irian Jaya Barat.
1.2.5. Program penanggulangan Infeksi Menular Seksual (IMS)
Penderita IMS mempunyai risiko 2-9 kali lebih besar untuk tertular HIV dibandingkan dengan bukan penderita. Program penanggulangan IMS meliputi surveilans, penemuan, pengobatan dan pencegahan ditingkatkan di semua daerah.
1.2.6. Program penyediaan darah dan produk darah yang aman
Penyediaan darah dan produk darah yang aman diupayakan di semua unit transfusi darah baik yang berada di bawah binaan Palang Merah Indonesia (PMI) maupun yang berada di rumah sakit pemerintah dan swasta. Diutamakan di daerah dengan prevalensi tinggi.
1.2.7. Program peningkatan kewaspadaan universal
Penerapan kewaspadaan universal harus dilaksanakan dengan benar oleh petugas dan masyarakat yang lansung terpapar seperti petugas pelayanan kesehatan, petugas sosial, polisi, penyelenggara jenazah, petugas lapas dan lainnya. Pengetahuan dan ketrampilan petugas dan sarana serta prasarana yang diperlukan perlu disediakan dengan cukup.
1.2.8. Program komunikasi publik
Komunikasi publik yang baik akan menurunkan derajat kerentanan dari kelompok– kelompok rentan. Upaya ini dilakukan melalui komunikasi, informasi, pendidikan, penyuluhan, tatap muka, pengurangan kemiskinan, pembinaan ketahanan keluarga dan penyetaraan gender dengan menggunakan jalur komunikasi dan media yang tersedia.

2. AREA PERAWATAN, PENGOBATAN DAN DUKUNGAN KEPADA ODHA
Peningkatan jumlah penderita AIDS memerlukan peningkatan jumlah dan mutu layanan perawatan dan pengobatan. Peningkatan juga dilakukan bagi dukungan maksimal kepada ODHA. Upaya ini dilakukan melalui pendekatan klinis dan pendekatan berbasis masyarakat dan keluarga. Universal Access yang bertujuan memberikan kemudahan kepada mereka yang memerlukan untuk akses kepada layanan perawatan dan pengobatan melandasi program – program pada area ini.
2.1. Tujuan
Mengurangi penderitaan akibat HIV dan AIDS dan mencegah penularan lebih lanjut infeksi HIV serta meningkatkan kwalitas hidup ODHA.
2.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
2.2.1. Program peningkatan sarana pelayanan kesehatan
Jumlah dan mutu pelayan untuk konseling dan testing sukarela (VCT), pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayinya (PMTC) dan perawatan, pengobatan dan dukungan pada ODHA (CST) ditingkatkan.
2.2.2. Program peningkatan penyediaan, distribusi obat dan reagensia
Untuk memenuhi kebutuhan ODHA dan sejalan dengan peningkatan jumlah sarana perawatan dan pengobatan, ketersediaan ARV, obat infeksi oportunistik dan reagensia ditingkatkan jumlah dan mutunya serta harganya diupayakan terjangkau. Manajemen obat dan reagensia disempurnakan sehingga pengadaan dan distribusi obat dan reagensia terjamin.
2.2.3. Program pendidikan dan pelatihan
Peningkatan jumlah dan mutu pelayanan dan dukungan kepada ODHA membutuhkan tenaga yang berilmu, terampil dan beretika. Pendidikan dan pelatihan teknis diberikan kepada mereka yang berkarya dalam upaya penanggulangan AIDS sesuai dengan bidang kerjanya.
2.2.4. Program peningkatan penjangkauan dan dukungan ODHA
Upaya yang sungguh-sungguh untuk menjangkau sedikitnya 80% kelompok berperilaku risiko tinggi agar mereka yang memerlukan perawatan dan pengobatan dapat akses kepada pencegahan, perawatan, pengobatan dan dukungan yang diperlukan.

3. AREA SURVEILANS HIV DAN AIDS SERTA IMS
Besaran, kecenderungan dan distribusi persebaran HIV dan AIDS diketahui dari data dan informasi yang diperoleh dari kegiatan surveilans penyakit. Surveilans penyakit dan surveilans perilaku bersama-sama memberikan petunjuk tentang hasil upaya penanggulangan dan amat diperlukan bagi perumusan kebijakan dan perencanaan. Kegiatan surveilans akan terus disempurnakan baik metodologinya maupun implementasinya sehingga hasilnya valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain surveilans HIV dan AIDS dan perilaku, surveilans IMS ditingkatkan pelaksanaannya dan hasilnya dipublikasikan agar dapat digunakan oleh pihak-pihak yang memerlukan.
3.1. Tujuan
Untuk memperoleh data dan informasi yang valid tentang besaran, kecenderungan dan distribusi persebaran HIV dan AIDS serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
3.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
3.2.1. Program peningkatan surveilans HIV
Pelaksanaan surveilans HIV pada sub-populasi dengan berbagai tingkat risiko penularan diperluas wilayah cakupannya dan ditingkatkan mutunya. Di daerah dengan tingkat generalized epidemic dilaksanakan surveilans HIV di populasi umum.
3.2.2. Program Peningkatan surveilans perilaku
Pelaksanaan surveilans perilaku ditingkatkan wilayah cakupan dan mutunya.Variabel yang digunakan dipilih variable yang sensitif yang dapat menggambarkan hasil program intervensi perubahan perilaku.
3.2.3. Program peningkatan surveilans IMS
Pelaksanaan surveilans IMS ditingkatkan wilayah cakupan dan mutunya. Dan juga digunakan untuk mengetahui hasil program intervensi perilaku dan program penggunaan kondom pada setiap hubungan seks berisiko.
3.2.4. Program peningkatan laboratorium HIV
Laboratorium HIV untuk keperluan surveilans, penegakan diagnosis dan pemantauan proses pengobatan ditingkatkan baik jumlahnya maupun mutu pemeriksaannya.
3.2.5. Program peningkatan mutu pelaporan
Pelaporan merupakan aspek penting dari surveilans. Laporan surveilans dibuat sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh mereka yang membutuhkan, akurat dan tepat waktu.

4. AREA PENELITIAN DAN RISET OPERASIONAL
Upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang sedang dan akan diselenggarakan memerlukan pengembangan terus menerus. Banyak aspek penanggulangan yang belum diketahui. Perbedaan laju epidemi di berbagai daerah perlu dicari faktor-faktor yang menyebabkannya. Penelitian dan riset operasional diharapkan mampu memberikan jawaban atas hal- hal tersebut sehingga ditingkatkan pada empat tahun kedepan. Untuk melaksanakan penelitian yang bermutu tinggi, dipersiapkan tenaga-tenaga peneliti di semua tingkat. Selain daripada itu ditingkatkan kerjasama antar pusat-pusat penelitaian HVI dan AIDS di dalam negeri dan di luar negeri. Inventory hasil penelitian dilakukan sesuai dengan tatacara yang lazim. Setiap hasil penelitian dipublikasikan secara luas sehingga dapat diakses oleh yang
memerlukan.
4.1. Tujuan
Penelitian dan riset operasional HIV dan AIDS bertujuan untuk memperoleh data dan fakta yang terpercaya sebagai dasar perbaikan dan pengembangan upaya penanggulangan HIV dan AIDS.
4.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
4.2.1. Program riset operasional
Berbagai upaya penanggulangan yang sedang diselenggarakan memerlukan penelitian untuk perbaikan kinerjanya agar lebih efektif dan efisien. Hasil-hasil survei dapt dijadikan petunjuk untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam.
4.2.2. Program penelitian resistensi obat antiretroviral
Penggunaan ARV yang semakin meluas dengan pengawasan yang tidak selalu dapat dilakukan berpotensi untuk menimbulkan resistensi ARV. Penelitian tentang kemungkinan resistensi ini dilakukan untuk kewaspadaan dan perencanaan pengadaan ARV lini berikutnya.
4.2.3. Program penelitian obat tradisional HIV dan AIDS
Indonesia kaya dengan flora dan fauna sebagai bahan pembuat obat-obatan. Beberapa produk diklaim sebagai bermamfaat untuk pengidap HIV dan AIDS. Penelitian obat tradisional diarahkan untuk mencari bukti-bukti ilmiah tenang obat-obat tradisional tersebut sekaligus mencari peluang-peluang lain.
4.2.4. Program penelitian dampak sosial ekonomi dan budaya HIV dan AIDS
Penelitian terhadap dampak sosial ekonomi dan budaya dari HIV dan AIDS dilaksanakan sebagai bahan advokasi dan penyusunan program dukungan pada ODHA
4.2.5. Penelitian epidemiologi dan perilaku
Penelitian epidemiologi dan perilaku dilaksanakan untuk mengetahui lebih dalam tentang perilaku epidemi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasilnya merupakan data dan fakta yang paling mendasar dalam perumusan kebijakan upaya penanggulangan.

5. AREA LINGKUNGAN KONDUSIF
Lingkungan yang kondusif dalam pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS
diperlukan agar upaya-upaya tersebut dapat berjalan dengan sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan masalah HIV dan AIDS merupakan masalah yang kompleks dan unik. Deklarasi UNGASS 2001 yang mengamanatkan bahwa tahun 2003 negara mengesahkan,mendukung dan menegakkan peraturan dan ketentuan lain untuk menghapuskan segala bentuk diskriminasi dan memastikan pemilikan hak-hak azasi dan kemerdekaan secara penuh oleh ODHA dan sub-populasi rentan lainnya belum sepenuhnya tercapai sehingga perlu terus diupayakan.
5.1. Tujuan
Meningkatkan pembuatan peraturan perundangan dan ketentuan-ketentuan lain di pusat dan daerah dalam rangka menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terselenggaranya upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS.
5.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
5.2.1. Program advokasi dan sosialisasi
Meningkatkan sosialisasi dan advokasi upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS kepada eksekutif dan legislatif di pusat dan daerah agar memahami masalah yang dihadapi yang memerlukan pengaturan pemerintah.
5.2.2. Program peningkatan kapasitas
Meningkatkan kapasitas anggota legislatif daerah dalam menciptakan peraturan-peraturan di daerah dalam mendukung terciptanya lingkungan yang kondusif di daerah.
5.2.3. Program peningkatan kapasitas organisasi-organisasi masyarakat sipil
Organisasi masyarakt sipil termasuk LSM dan KDS ditingkatkan kemampuannya untuk turut menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peneyelenggaraan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di daerah.

6. AREA KOORDINASI DAN HARMONISASI MULTIPIHAK
Masalah HIV dan AIDS bukan lagi masalah kesehatan semata akan tetapi telah menjadi masalah sosial yang sangat komplek dan unik.Upaya pencegahan dan penanggulangannya memerlukan berbagai pendekatan dan diselenggarakan oleh berbagai pihak. Peranan utama dijalankan oleh masyarakat dengan arahan dan pembinaan oleh sektor-sektor pemerintah. Pemerintah berperan sebagai pemimpin upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS baik di pusat maupun di daerah. Mitra internasional membantu penyelenggaraan tersebut. Banyaknya pemangku kepentingan yang menyelenggarakan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS ini, mengharuskan adanya koordinasi yang baik sejak perencanaan sampai evaluasinya. Harmonisasi dimaksudkan agar penyelenggaraan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS berjalan selaras dan seirama sehingga merupakan orkestra aktivitas yang padu, terarah dan mencapai sasaran. Harmonisasi diupayakan di semua tingkat penyelenggaraan.
6.1. Tujuan
Menyelaraskan dan mengkoordinasikan berbagai program dan kegiatan upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang diselenggarakan pemerintah, masyarakat sipil dan mitra internasional sehingga mencapai tujuan yang diinginkan.
6.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
6.2.1. Program penguatan kelembagaan
Sebagai lembaga yang mengemban tugas mengkoordinsikan dan mengharmoniasikan berbagai program, KPA pada semua tingkat akan terus diperkuat dan ditingkatkan kemampuannya dengan meningkatkan kemampuan SDM, melengkapi sarana kerja, dan mengusahakan anggaran yang cukup untuk kegiatan operasional.
6.2.2. Program peningkatan jaringan informasi dan komunikasi
Adanya jaringan informasi yang luas dan berfungsi baik mempermudah dilakukannya koordinasi dan harmonisasi upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Jaringan ini diperluas disemua tingkat. Sarana teknologi informasi disempurnakan sehingga berfungsi dengan baik.
6.2.3. Program peningkatan kerjasama internasional
Kerjasama internasional yang sudah terjalin ditingkatkan. Kerjasama tersebut meliputi kerjasama regional dan global. Di dalam negeri kerjasama dilakukan dengan mitra internasional.

7. AREA KESINAMBUNGAN PENANGGULANGAN
Memperhatikan kecenderungan epidemi HIV dan AIDS dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, upaya pencegahan dan penaggulangan di Indonesia akan memakan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS harus dapat dijamin kesinambungannya. Kesinambungan upaya ini sangat ditentukanoleh komitmen politik, kepemimpinan yang kuat, tersedianya dana yang terus menerus, perawatan sarana dan prasarana yang digunakan serta pelibatan seluruh unsur masyarakat termasuk mereka yang sudah terinfeksi.
7.1. Tujuan
Menjamin kelansungan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di setiap tingkat administrasi melalui komitmen yang tinggi, kepemimpinan yang kuat, didukung oleh informasi dan sumberdaya yang memadai.
7.2. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
7.2.1. Advokasi
Advokasi dilakukan secara terus menerus kepada para pengambil keputusan di pusat dan di daerah, baik kepada eksekutif, legislatif, maupun kepada pimpinan partai politik dan organisasi masyarakat sipil lainnya.
7.2.2. Peningkatan sumber daya manusia
Melalui pendidikan dan pelatihan ditingkatkan jumlah dan mutu para penyelenggara upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di pusat dan di daerah. Pendidikan dan pelatihan dimaksud diperoleh di dalam negeri dan di luar negeri.
7.2.3. Peningkatan sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana di unit-unit pelayanan HIV dan AIDS ditingkatkan jumlah dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Dilakukan pengawasan kwalitas (quality control) atas sarana dan prasarana tersebut.

PENYELENGGARA UPAYA PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS
Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat dan pemerintah bersama-sama dibantu oleh mitra internasional. Pemerintah meliputi departemen, kementerian, lembaga non-departemen dan dinas-dinas daerah serta TNI dan POLRI. Masyarakat meliputi LSM, swasta dan dunia usaha, civil soceity lainnya dan masyarakat umum. KPA di semua tingkat berfungsi sebagai koordinator. Para pemangku kepentingan mempunyai peran dan tanggung jawab masing-masing dan bekerja sama dalam semangat kemitraan. Pokok-pokok tugas dan tanggung jawab masing-masing penyelenggara adalah sebagai berikut:
1. PEMERINTAH PUSAT
Departemen, Kementerian, Lembaga Non- Departemen, TNI dan POLRI membentuk Kelompok Kerja Penanggulangan HIV dan AIDS dan membuat rencana pencegahan dan penanggulangan yang selaras dengan Stranas HIV dan AIDS 2007 – 2010 sesuai dengan area kegiatan instansi bersangkutan. KPAN mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dari unsur pemerintah pusat.
2. PEMERINTAH PROVINSI
Dinas-dinas Provinsi, Kantor Wilayah dari instansi pusat di provinsi, komando TNI dan POLRI di provinsi menyelenggarakan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dipimpin oleh Gubernur. Pemerintah Propinsi membentuk dan memfungsikan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dan menyediakan sumberdaya untuk kegiatan pencegahan dan penanggulangan di propinsi.
3. PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
Dinas-dinas Kabupaten/Kota, Kantor Departemen dari instansi pusat di kabupaten/kota, komando TNI dan POLRI di kabupaten/kota menyelenggarakan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dipimpin oleh Bupati/Walikota. Pemerintah Kabupaten/Kota membentuk dan memfungsikan Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten/Kota dan menyediakan sumberdaya untuk kegiatan pencegahan dan penanggulangan di kabupaten/kota.
4. PEMERINTAH KECAMATAN DAN KELURAHAN/DESA
Di wilayah kecamatan dan kelurahan /desa yang berpotensi adanya penularan HIV, dapat dibentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS yang masing-masing dipimpin oleh Camat dan Lurah/Kepala Desa. Tugas utama adalah menggerakkan masyarakat untuk ikut serta dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS yang dirancang oleh KPA Kabupaten/Kota.
5. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH DAN
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DI DAERAH
DPR, DPD, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dengan kepedulian yang tinggi menampung informasi dari masyarakat tentang situasi HIV dan AIDS di wilayah urusannya dan sesuai dengan tugas dan fungsinya membantu upaya pencegahan dan penanggulangan. Bersama dengan KPAN/KPA di daerah dapat membentuk Forum Komunikasi.
6. KOMISI PENANGGULANGAN AIDS NASIONAL
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional sebagai penanggung jawab upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia mempunyai tugas yang sangat berat sehingga memerlukan kawenangan yang jelas untuk dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan efektif. Tugas pokok dan fungsi KPA Nasional sebagaimana tercantum dalam Perpres No.75 Tahun 2006 adalah sebagai berikut:
6.1. Menetapkan kebijakan dan rencana strategis nasional serta pedoman umum pencegahan, pengendalian dan penaggulangan AIDS;
6.2. Menetapkan langkah-langkah strategis yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan;
6.3. Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan penyuluhan, pencegahan, pelayanan, pemantauan, pengendalian dan penaggulangan AIDS;
6.4. Melakukan penyebarluasan informasi mengenai AIDS kepada berbagai media massa, dalam kaitan dengan pemberitaan yang tepat dan tidak menimbulkan keresahan masyarakat;
6.5. Melakukan kerjasama regional dan internasional dalam rangka pencegahan dan penanggulangan AIDS;
6.6. Mengkoordinasikan pengelolaan dan dan informasi yang terkait dengan masalah AIDS;
6.7. Mengendalikan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pencegahan, pengendalian dan penanggulangan AIDS;
6.8. Memberikan arahan kepada Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dan Kabupaten / Kota dalam rangka pencegahan, pengendalian dan penanggulangan AIDS.
7. KOMISI PENANGGULANGAN AIDS PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA
Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dan Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten / Kota dibentuk dan dipimpin masing-masing oleh Gubernur dan Bupati / Walikota. KPA di daerah membantu kelancaran pelaksanaan tugas KPA Nasional. Tugas pokok dan fungsi KPA Provinsi dan KPA Kabupaten / Kota adalah sebagai berikut:
7.1. Merumuskan kebijakan, strategi dan langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka penanggulangan HIV dan AIDS di wilayahnya sesuai dengan kebijakan, strategi dan pedoman yang ditetapkan oleh KPA nadional. Implementasi dari tugas pokok tersebut meliputi fungsi-fungsi sebagai berikut:
7.1.1. Memimpin, mengelola dan mengkoordinasikan kegiatan pencegahan, pengendalian dan penanggulangan HIV dan AIDS di wilayahnya;
7.1.2. Menghimpun, menggerakkan dan memamfaatkan sumberdaya yang berasal dari pusat, daerah, masyarakat dan bantuan luar negeri secara efektif dan efisien
7.1.3. Melakukan bimbingan dan pembinaan kepada pemangku kepentingan dalam pencegahan, pengendalian dan penanggulangan HIV dan AIDS di wilayah kerjanya
7.1.4. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dan menyampaikan laporan berkala secara berjenjang kepada KPA Nasional.
8. MASYARAKAT SIPIL (CIVIL SOCEITY)
Civil soceity merupakan mitra kerja yang penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Lembaga Swadaya Masyarakat dan Organisasi Non- Pemerintah lainnya seperti Kelompok Dukungan Sebaya telah memberikan kontribusi yang bermakna karena mampu menjangkau sub-populasi berperilaku berisiko dan menjadi pendamping dalam proses perawatan dan pengobatan ODHA. Civil Soceity berperan dalam penyuluhan, pelatihan, pendampingan ODHA, pemberian dukungan dan konseling serta melakukan pelayanan VCT. Dimasa mendatang peran ini diharapkan meningkat dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Komisi Penanggulangan AIDS di semua tingkat menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga civil soceity dapat menjalankan perannyadengan tenang dan aman.
9. DUNIA USAHA DAN SEKTOR SWASTA
Jenis pekerjaan, lingkungan dan tempat kerja berpotensi bagi pekerja untuk terpapar HIV. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) telah mengakui bahwa HIV dan AIDS sebagai persoalan dunia kerja. Prinsip-prinsip utama Kaidah ILO tentang HIV dan AIDS dan Dunia Kerja perlu ditingkatkan implementasinya di dunia kerja Indonesia melalui kesepakatan tripartit. Implementasi Kaidah ILO tersebut dijabarkan dalam program penanggulangan HIV dan AIDS di dunia kerja dan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan.
10. TENAGA PROFESIONAL, ORGANISASI PROFESI DAN LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI
Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS memerlukan pelibatan tenaga profesional baik secara individu maupun melalui organisasi profesi dan lembaga pendidikan tinggi. Para profesional berperan dalam perumusan kebijakan, penelitian, riset operasional.
11. KELUARGA DAN MASYARAKAT UMUM
Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS memerlukan dukunganmasyarakat luas. Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat mempunyai tugas penting dan sangat mulia sebagai benteng pertama dalam pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Ketahanan keluarga dalam arti yang sesungguhnya perlu tetap diupayakan dan ditingkatkan. Selain itu keluarga mampu memberikan lingkungan yang kondusif bagi ODHA dengan berempati dan menjauhkan sikap diskriminatif terhadap mereka.Masyarakat Umum berperan membantu upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di lingkungan masing-masing dengan memberikan kemudahan dan meciptakan lingkungan yang kondusif. Untuk menjalankan fungsi tersebut, masyarakat berhak menerima informasi yang benar tentang masalah HIV dan AIDS.
12. ORANG DENGAN HIV DAN AIDS (ODHA)
Peranan ODHA dalam upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS di masa mendatang semakin penting. Selaras dengan prinsip Greater Involvement of People with AIDS (GIPA) ODHA berhak berperan pada semua tingkat proses pecegahan dan penanggulangan mulai dari tingkat perumusan kebijakan sampai pada monitoring dan evaluasi. Untuk dapat menjalankan peran tersebut, ODHA baik secara individual maupun organisasi meningkatkan persiapan diri. Seimbang dengan hak-haknya, ODHA bertanggung jawab untuk mencegah penularan HIV kepada pasangannya dan orang lain.

KERJASAMA INTERNASIONAL
Kerjasama internasional dengan para mitra bilateral dan multilateral adalah suatu komponen yang bermakna dalam penanggulangan masalah HIV dan AIDS dan telah dirasakan mamfaatnya. Bantuan telah diberikan antara lain bagi program peningkatan kapasitas kelembagaan baik di pusat maupun di daerah, programperawatan, pengobatan dan dukungan pada ODHA, program pengurangan dampak buruk di kalangan penasun , program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dan program penanggulangan HIV dan AIDS di Tempat Kerja. Kerjasama internasional diperlukan dan diharapkan berlanjut, dan implementasinya mengacu kepada Strategi Nasional 2007-2010 dan Rencana Aksi Nasional 2007-2010. Berdasarkan Perpres No 75/2006 mobilisasi dan pemanfaatan bantuan dana dan bantuan teknis dari mitra internasional akan diarahkan dan dikoordinasikan oleh KPAN. Evaluasi menggunakan sistem monitoring dan evaluasi nasional serta menggunakan instrumen-instrumen pemantauan yang baku.
Bantuan mitra internasional diperlukan untuk mendukung kegiatan-kegiatan prioritas penanggulangan HIV dan AIDS untuk 2007-2010, terutama pengembangan kelembagaan; perawatan, dan pengobatan dukungan terhadap ODHA; peningkatan upaya pencegahan terutama di kalangan kelompok berperilaku risiko tinggi; pengembangan dan pemanfaatan sistem monitoring dan evaluasi nasional; penyediaan obat antiretroviral; pengembangan pencegahan penularan dari ibu ke anak, penanggulangan masalah-masalah lintas batas HIV dan AIDS, serta penelitian. KPAN memfasilitasi upaya menuju harmonisasi dan koordinasi di antara para mitra internasional, dan dengan berbagai sektor pemerintah terkait serta pemangku kepentingan lainnya (masyarakat, dunia usaha, LSM, universitas). Hal ini bertujuan juga agar bantuan yang diperlukan dapat tersedia dan menjangkau mereka yang sangat membutuhkan dengan cepat dan efisien. Untuk mengetahui dan mendukung pencapaian harmonisasi dan koordinasi yang lebih kuat dan perencanaan strategis yang baik dari bantuan mitra internasional, KPAN perlu mempunyai sistem informasi khusus. Agar sistem ini berjalan dengan baik dan dirasakan manfaatnya, maka KPAN sebagai koordinator memerlukan dukungan dan partisipasi aktif dari mitra internasional internasional.

PELAKSANAAN STRATEGI NASIONAL
Strategi Nasional HIV dan AIDS dilaksanakan sejalan dengan rencana pembangunan
nasional. Pada tingkat provinsi, kabupaten/kota, pelaksanaan Stranas akan disesuaikan dengan rencana pembangunan daerah masing-masing. Pelaksanaan STRANAS harus konsisten dengan tujuan-tujuan kebijakan yang ingin dicapai, serta ditujukan untuk merespon situasi dan kondisi lokal dan nasional HIV dan AIDS. STRANAS merupakan living document sehingga terbuka untuk perubahan atas dasar kebutuhan respons. Peran KPAN dalam pelaksanaan SRTANAS sesuai dengan “Three One Principle” yang dianjurkan oleh UNAIDS, yaitu:
1. setiap negara perlu mempunyai satu institusi yang mengkoordinasikan upaya penanggulangan,
2. satu strategi nasional yang menjadi acuan semua pihak dalam menyelenggarakan upaya penanggulangan, dan
3. satu sistem monitoring dan evaluasi nasional yang berlaku secara nasional.
KPAN menjabarkan lebih lanjut STRANAS dalam suatu RENCANA AKSI NASIONAL (RAN) untuk periode yang sama. Sektor dan pemangku kepentingan lainnya di tingkat Pusat dan KPA di Daerah membuat RENCANA STRATEGI PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS bidang masing-masing dan atau daerah dengan menggunakan STRANAS dan RAN 2007-2010 sebagai acuan utama.

MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN
Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk:
1. menjamin bahwa program pencegahan HIV AND AIDS mencapai tingkat efisiensi dan akuntabilitas yang tinggi,
2. membantu mengintensifkan dan meningkatkan pelaksanaan program,
3. memungkinkan tindakan korektif untuk mengarahkan program, dan
4. menghasilkan informasi yang berguna bagi pelaksanaan program serta sebagai masukan untuk penyusunan program lanjutan. Hasil monitoring dan evalusi dilaporkan secara berjenjang sesuai dengan Perpres No. 75 Tahun 2006.
Pedoman Nasional Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan HIV dan AIDS yang telah diterbitkan (2006) digunakan untuk memantau dan mengevaluasi pelaksanaan STRANAS 2007 – 2010 bagi KPA di semua tingkat. Pedoman tersebut dibuat sederhana dan mudah digunakan sehingga dapat membantu KPA di berbagai tingkat melakukan monev dan pelaporan seperti yang diharapkan. Sosialisasi dan pelatihan tentang penggunaan Pedoman tersebut akan terus dilakukan agar pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan dari KPA pada semua tingkat dapat berjalan secara optimal.

PENDANAAN
Sejalan dengan makin meningkatnya penularan HIV, program penanggulangan HIV dan AIDS semakin beragam dengan cakupan yang semakin luas. Peningkatan tersebut membutuhkan dana yang besar Dana yang diperlukan untuk melaksanakan STRANAS ini sesuai dengan amanat Perpres No 75 tahun 2006 bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan sumber-sumber lain. Sumber lain dimaksud mencakup dana dari swasta, masayarakat dan bantuan internasional. Peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam membantu pendanaan untuk program penanggulangan HIV dan AIDS akan dilakukan melalui kegiatan-kegiatan mobilisasi dana di bawah koordinasi KPA di berbagai tingkat. Bantuan internasional dalam bentuk hibah dan bantuan teknis digunakan untuk meningkatkan upaya dan tidak diartikan sebagai pengganti dana yang bersumber dari pemerintah Pengelolaan dana menganut prinsip transparansi, akuntabilitas, efisensi , efektivitas dan harmoni. KPAN mengkoordinasikan mobilisasi dan penggunaan dana untuk menjamin tidak terjadinya pemborosan dan dipenuhinya prinsip tersebut.

28
Nov
09

PENGARUH PENGGUNAAN METODE BERCERITA DENGAN GAMBAR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DINI

A. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan sebagai suatu proses, baik berupa pemindahan maupun penyempurnaan akan melibatkan dan mengikutsertakan bermacam-macam komponen dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Pendidikan dilakukan seumur hidup sejak usia dini sampai akhir hayat, pentingnya pendidikan diberikan pada anak usia dini terdapat di dalam Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Anak Usia Dini pasal 1 ayat 1, dinyatakan bahwa:
Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD, adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai berusia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Lanjutkan membaca ‘PENGARUH PENGGUNAAN METODE BERCERITA DENGAN GAMBAR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DINI’




September 2014
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Halaman

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.