05
Nov
10

PERKEMBANGAN MORAL MENURUT TEORI LAWRENCE KOHLBERG

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta moral) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Perkembangan moral berkaitan dengan aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang dalam berinteraksi dengan orang lain. Para pakar perkembangan anak mempelajari tentang bagaimana anak-anak berpikir, berperilaku dan menyadari tentang aturan-aturan tersebut.
Anak-anak memiliki potensi moral yang siap untuk dikembangkan, melalui berbagai pengalaman sosial yang dialami, anak belajar tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Perkembangan moral pada anak penting untuk mendapat perhatian, dengan moral yang baik diharapkan anak dapat diterima dengan baik dilingkungan masyarakat. Banyak pakar yang memberikan perhatian terhadap perkembangan moral, di antaranya Piaget, Kohlberg, Elizabeth Hurlock, Santrock, Immanuel Kant, Freud, Lerner dan Hunt.
Perkembangan moral adalah perubahan penalaran, perasaan, dan perilaku tentang standar mengenai benar dan salah. Perkembangan moral memiliki dimensi intrapersonal, yang mengatur aktivitas seseorang ketika ia tidak terlibat dalam interaksi sosial dan dimensi interpersonal yang mengatur interaksi sosial dan penyelesaian konflik (Gibbs, 2003; Power, 2004; Walker & Pitts, 1998) . Tahapan perkembangan moral Lawrence Kohlberg dibuat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral yang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg. Oleh karena itu, kami membahas dalam makalah ini perkembangan moral berdasarkan teori Kohlberg.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah Perkembangan Moral Menurut Teori Lawrence Kohlberg dirumuskan dan dibatasi agar pembahasan terarah pada sasaran yang dituju, yaitu:
1. Apa saja tahapan perkembangan moral menurut teori Lawrence Kohlberg?
2. Bagaimana perkembangan moral anak-anak?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral?
4. Apa saja usaha-usaha perkembangan moral pada anak?

C. Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan ini untuk menguraikan bagaimana perkembangan moral menurut teori Lowrence Kohlberg. Secara khusus tujuan yang hendak dicapai adalah:
1. Mengetahui tahapan perkembangan moral menurut teori Lawrence Kohlberg?
2. Mengetahui perkembangan moral anak-anak?
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral?
4. Mengetahui usaha-usaha perkembangan moral pada anak?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Moral Menurut Para Ahli
1. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ketiga
Moral n 1 (ajaran tt) baik buruk yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb; akhlak; budi pekerti; susila: — mereka sudah bejat, mereka hanya minum-minum dan mabuk-mabuk, bermain judi, dan bermain perempuan; 2 kondisi mental yg membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dsb; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dl perbuatan: tentara kita memiliki — dan daya tempur yg tinggi; 3 ajaran kesusilaan yg dapat ditarik dr suatu cerita .
2. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Moral (Bahasa Latin: Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Moral juga dapat diartikan sebagai sikap,perilaku,tindakan,kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat, dan lain-lain. Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk .
3. Abd.Nasih Ulwan
Serangkaian prinsip dasar serta watak yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan-kebiasaan anak sejak masa pemula hingga ia menjadi dewasa .

B. Tahapan Perkembangan moral Lawrence Kohlberg
Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya, seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg. Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif.
Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan, walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya. Kohlberg menggunakan cerita-cerita tentang dilema moral dalam penelitiannya. Ia tertarik bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama. Lawrence Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Konsep kunci dari teori Kohlberg ialah internalisasi, yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal. Kohlberg sampai pada pandangannya setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik dengan anak-anak. Dalam wawancara, anak-anak diberikan serangkaian cerita dimana tokoh-tokohnya menghadapi dilema-dilema moral. Bagaimana anak-anak dalam penyikapi setiap cerita yang dilakukan oleh masing-masing tokoh dalam cerita yang disampaikan oleh kohlberg. Berikut ini adalah salah satu cerita dilema Kohlberg yang paling populer:

“Di Eropa seorang perempuan hampir meninggal akibat sejenis kanker. Ada suatu obat yang menurut dokter dapat menyelamatkannya. Obat tersebut adalah sejenis radium yang baru-baru ini ditemukan oleh seorang apoteker di kota yang sama. Biaya membuat obat ini sangat mahal, tetapi sang apoteker menetapkan harganya sepuluh kali lipat lebih mahal dari pembuatan obat tersebut. Untuk pembuatan satu dosis kecil obat ia membayar 200 dolar dan menjualnya 2000 dolar. Suami pasien perempuan, Heinz pergi ke setiap orang yang ia kenal untuk meminjam uang, tetapi ia hanya bisa mengumpulkan 1000 dolar atau hanya setengah dari harga obat tersebut. Ia memberitahu apoteker bahwa istrinya sedang sakit dan memohon agar apoteker bersedia menjual obatnya lebih murah atau memperbolehkannya membayar setengahnya kemudian. Tetapi sang apoteker berkata, “Tidak, aku menemukan obat, dan aku harus mendapatkan uang dari obat itu.” Heinz menjadi nekat dan membongkar toko obat itu untuk mencuri obat bagi istrinya” .

Cerita ini adalah salah satu dari sebelas cerita yang dikembangkan oleh Kohlberg untuk menginvestigasi hakekat pemikiran moral. Setelah membaca cerita, anak-anak menjadi responden menjawab serangkaian pertanyaan tentang dilema moral. Haruskah Heinz mencuri obat? Apakah mencuri obat tersebut benar atau salah? Mengapa? Apakah tugas suami untuk mencuri obat bagi istrinya kalau ia tidak mendapatkannya dengan cara lain? Apakah apoteker memiliki hak untuk mengenakan harga semahal itu walaupun tidak ada suatu aturan hukum yang membatasi harga? Mengapa atau mengapa tidak?. Berdasarkan penalaran tersebut, Kohlberg kemudian mengkategorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan ke dalam enam tahap yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Teorinya didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif, setiap tahapan dan tingkatan memberi tanggapan yang lebih memenuhi syarat terhadap dilema-dilema moral dibanding tahap/tingkat sebelumnya :

1. Tingkat 1 (Pra-Konvensional)
Penalaran pra-konvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal. Seperti dalam tahap heteronomous Piaget, anak-anak menerima aturan figur otoritas, dan tindakan yang dinilai oleh konsekuensi mereka. Perilaku yang mengakibatkan hukuman dipandang sebagai buruk, dan mereka yang mengarah pada penghargaan dilihat sebagai baik. Tingkat pra-konvensional dari penalaran moral umumnya ada pada anak-anak, walaupun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran dalam tahap ini. Se¬¬¬¬¬¬¬seorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung. Tingkat pra-konvensional terdiri dari dua tahapan awal dalam perkembangan moral, dan murni melihat diri dalam bentuk egosentris:

a. Orientasi kepatuhan dan hukuman.
Orientasi hukuman dan kepatuhan (punishment and obedience orientation) ialah tahap pertama dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini perkembangan moral didasarkan atas hukuman, seseorang memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme. Anak-anak taat karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat. Anak-anak pada tahap ini sulit untuk mempertimbangkan dua sudut pandang dalam dilema moral. Akibatnya, mereka mengabaikan niat orang-orang dan bukan fokus pada ketakutan otoritas dan menghindari hukuman sebagai alasan untuk bersikap secara moral.

b. Orientasi minat pribadi ( Apa untungnya buat saya?).
Individualisme dan tujuan (individualism and purpose) ialah tahap kedua dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini penalaran moral didasarkan pada imbalan dan kepentingan diri sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah. Anak-anak menyadari bahwa orang dapat memiliki perspektif yang berbeda dalam dilema moral, tetapi pemahaman ini adalah, pada awalnya sangat konkret. Mereka melihat tindakan yang benar sebagai yang mengalir dari kepentingan diri sendiri. Timbal balik dipahami sebagai pertukaran yang sama nikmat “Anda melakukan ini untuk saya dan saya akan melakukannya untuk Anda.”

2. Tingkat 2 (Konvensional)
Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah menengah, seseorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orang tua atau masyarakat. Pada tingkat konvensional, seseorang terus memperhatikan kesesuaian dengan aturan-aturan sosial yang penting, tetapi bukan karena alasan kepentingan diri sendiri. Mereka percaya bahwa aktif dalam memelihara sistem sosial saat ini memastikan hubungan manusia yang positif dan ketertiban masyarakat. Tingkat konvensional umumnya ada pada seorang remaja atau orang dewasa. Orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat:

c. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas ( Sikap anak baik).
Norma-norma interpersonal (interpersonal norms) ialah tahap ketiga dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Tahap penyesuaian dengan kelompok atau orientasi untuk menjadi “anak manis”. Pada tahap selanjutnya, terjadi sebuah proses perkembangan kearah sosialitas dan moralitas kelompok. Norma-norma interpersonal, pada tahap ini seseorang menghargai kebenaran, kepedulian, dan kesetiaan pada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral.Kesadaran dan kepedulian atas kelompok akrab, serta tercipta sebuah penilaian akan dirinya dihadapan komunitas/kelompok. Keinginan untuk mematuhi aturan karena mereka mempromosikan hubungan harmoni sosial muncul dalam konteks hubungan pribadi yang dekat. Seseorang ingin mempertahankan kasih sayang dan persetujuan dari teman-teman dan kerabat dengan menjadi “orang baik”, bisa dipercaya, setia, menghormati, membantu, dan baik. Anak anak sering mengadopsi standar-standar moral orang tuanya pada tahap ini. Sambil mengharapkan dihargai oleh orangtuanya sebagai seorang perempuan yang baik atau laki-laki yang baik, seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang “anak baik” untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini.

d. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial ( Moralitas hukum dan aturan).
Moralitas sistem sosial (social system morality) ialah tahap keempat dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini, pertimbangan moral didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban. Pada kondisi ini dimana seseorang sudah mulai beranjak pada orientasi hukum legal/peraturan yang berfungsi untuk menciptakan kondisi yang tertib dan nyaman dalam kelompok/komunitas. Seseorang memperhitungkan perspektif yang lebih besar dari hukum masyarakat. pilihan moral tidak lagi tergantung pada hubungan dekat dengan orang lain. Sebaliknya, peraturan harus ditegakkan dengan cara sama untuk semua orang, dan setiap anggota masyarakat memiliki tugas pribadi untuk menegakkan mereka serta mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu, sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan.

3. Tingkat 3 (Pasca-Konvensional)
Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi. Seseorang pada tingkat pasca-konventional bergerak di luar tidak perlu diragukan lagi dukungan untuk peraturan dan undang-undang masyarakat mereka sendiri. Mereka mendefinisikan moralitas dalam hal prinsip abstrak dan nilai-nilai yang berlaku untuk semua situasi dan masyarakat. Tingkatan pasca-konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip, terdiri dari tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Kenyataan bahwa individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi semakin jelas. Perspektif seseorang harus dilihat sebelum perspektif masyarakat. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi:

e. Orientasi kontrak sosial.
Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual (community rights versus individual rights) ialah tahap kelima dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini, seseorang memahami bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain, menyadari bahwa hukum penting bagi masyarakat, tetapi juga mengetahui bahwa hukum dapat diubah. Seseorang percaya bahwa beberapa nilai, seperti kebebasan, lebih penting daripada hukum. Seseorang dipandang sebagai memiliki pendapat dan nilai-nilai yang berbeda. Pada tahap ini penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut ‘memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak?’. Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima. Seseorang menganggap hukum dan aturan sebagai instrumen yang fleksibel untuk melanjutkan tujuan manusia. Mereka dapat membayangkan alternatif tatanan sosial mereka, dan mereka menekankan prosedur yang adil untuk menafsirkan dan mengubah hukum. Ketika hukum konsisten dengan hak-hak individu dan kepentingan mayoritas setiap orang mengikuti mereka karena orientasi partisipasi kontrak sosial bebas dan bersedia dalam sistem karena membawa lebih baik bagi orang-orang dari pada jika tidak ada.

f. Prinsip etika universal.
Prinsip-prinsip etis universal (universal ethical principles) ialah tahap keenam dan tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap tertinggi, tindakan yang benar didefinisikan sendiri, prinsip-prinsip etis yang dipilih dari hati nurani yang berlaku untuk semua umat manusia, tanpa hukum dan kesepakatan sosial. Penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Bila menghadapi konflik secara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati, walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan, juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional. Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama. Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus, dengan cara ini tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya.

Kohlberg percaya bahwa ketiga tingkat dan keenam tahap tersebut terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia:
1. Sebelum usia 9 tahun, kebanyakan anak-anak berpikir tentang dilema moral dengan cara yang prakonvensional.
2. Pada awal masa remaja, mereka berpikir dengan cara-cara yang lebih konvensional.
3. Pada awal masa dewasa, sejumlah kecil orang berpikir dengan cara-cara yang pascakonvensional.

C. Perkembangan Moral Anak-Anak
Perkembangan moral anak terbentuk melalui fase-fase atau periode-periode seperti halnya perkembangan aspek-aspek lain. Tiap fase perkembangan mempunyai ciri-ciri moralitas yang telah dapat dicapai oleh anak, sekalipun dalam hal ini tidak ada perbedaan atas batas-batas yang jelas dan lebih bergantung pada setiap individu dari pada norma-norma umumnya yang terjadi pada anak-anak .

1. Perkembangan Moralitas pada anak usia 3 tahun
Sebagaimana yang telah diterangkan seorang bayi yang baru dilahirkan merupakan mahluk yang belum/non moral. Bayi atau anak-anak yang masih muda sekali tidak mangetahui norma-norma benar atau salah. Tingkah lakunya semata-mata dikuasai oleh dorongan yang didasari dengan kecendrungan bahwa apa yang menyenangkan akan diulang, sedangkan yang tidak enak tidak akan diulang dalam tingkah lakunya. Anak pada masa ini masih sangat muda secara intelek, untuk menyadari dan mengartikan bahwa sesuatu tingkah laku adalah tidak baik, kecuali bilamana hal itu menimbulkan perasaan sakit.

2. Perkembangan Moralitas pada anak usia 3-6 tahun
Pada usia dasar-dasar moralitas terhadap kelompok sosial harus sudah terbentuk. Kepada si anak tidak Iagi terus menerus diterangkan mengapa perbuatan ini salah atau benar, tetapi ia ditunjukkan bagaimana ia harus bertingkah laku dan bilamana hal ini tidak dilakukan maka ia kena hukum. Ia memperlihatkan sesuatu perbuatan yang baik tanpa mengetahui mengapa ia harus berbuat demikian. Ia melakukan hal ini untuk menghindari hukuman yang mungkin akan dialami dari lingkungan sosial atau memperoleh pujian. Pada usia 5 atau 6 tahun anak sudah harus patuh terhadap tuntutan atau aturan orang tua dan lingkungan sosialnya. Ucapan-ucapan orang lain seperti; baik, tidak boleh, nakal, akan disosialisasikan anak dengan konsep benar atau salah. Penanaman konsep moralitas pada anak-anak ini mungkin mengalami kesulitan oleh karena sifa-sifat pembangkangan terhadap perintah dan sifa-sifat egoisme.
3. Perkembangan moralitas pada anak usia 6 tahun sampai remaja
Pada masa ini anak laki-laki maupun perempuan belajar untuk bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Dengan demikian nilai-nilai atau kaidah-kaidah moral untuk sebagian besar lebih banyak ditentukan oleh norma-norma yang terdapat didalam lingkungan kelompoknya. Pada usia 10 sampai 12 tahun anak dapat mengetahui dengan baik alasan-alasan atau prinsip-prinsip yang mendasari suatu aturan. Kemampuannya telah cukup berkembang untuk dapat membedakan macam-macam nilai moral serta dapat menghubungkan konsep-konsep moralitas mengenai: kejujuran, hak milik, keadilan dan kehormatan. Pada masa mendekati remaja, anak sudah mengembangkan nilai-nilai moral sebagai hasil pengalaman-pengalaman anak lain. Nilai-nilai ini sebagian akan menetap sepanjang hidupnya dan akan mempengaruhi tingkah lakunya sebagaimana hal ini terjadi ketika masih anak-anak. Sebagian lain sedikit demi sedikit mengalami perubahan karena hubungan-hubungan dengan lingkungannya menyebabkan timbulnya konflik-konflik, karena nilai-nilai moral lingkungan yang berbeda dengan nilai-nilai yang sudah terbentuk. (Gunarsa, 1990, hal 46-48).

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral ini sesungguhnya banyak sekali yang terpenting antara lain:
1. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap orang dalam masyarakat
Keyakinan agama yang didasarkan pada pengertian yang sesungguhnya dan sejalan tentang ajaran agama yang dianutnya, kemudian diiringi dengan pelaksanaan ajaran-ajaran tersebut merupakan benteng moral yang paling kokoh. Apabila berkeyakinan beragama itu betul-betul telah menjadi bagian integral dari kepribadian seseorang, keyakinannya itulah yang akan mengawasi segala tindakan, perkataan bahkan perasaanya jika terjadi tarikan orang kepada sesuatu yang tampaknya cepat berpindah meneliti apakah hal tersebut boleh atau terlarang oleh agamanya. Andaikan yang termasuk terlarang betapapun tarikan luar itu tidak akan diindahkannya karena takut melaksanakan yang dilarang oleh agamanya.

2. Keadaan masyarakat yang kurang stabil
Faktor kedua yang ikut mempengaruhi moral masyarakat ialah kurang stabilnya keadaan, baik ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Kegoncangan atau ketidakstabilan suasana yang menyelimuti seseorang menyebabkan cemas dan gelisah, akibat tidak dapatnya mencapai rasa aman dan ketentraman dalam hidup. Misalnya apabila keadaan ekonomi goncang, harga barang-barang naik turun dalam batas yang tidak dapat diperkirakan lebih dahulu oleh orang-orang dalam masyarakat, maka untuk mencari keseimbangan jiwa kembali, orang terpaksa berusaha keras. jika ia gagal dalam usahanya yang sehat, disinilah terjadi penyelewengan.

3. Banyaknya tulisan dan gambar yang tidak mengindahkan dasar moral
Suatu hal yang belakangan ini kurang mendapat perhatian kita ialah tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, kesenian-kesenian dan permainan-permainan yang seolah-olah mendorong anak-anak muda untuk mengikuti arus mudanya. Segi moral dan mental kurang mendapat perhatian, hasil-hasil seni itu sekedar ungkapan dari keinginan dan kebutuhan yang sesungguhnya tidak dapat dipenuhi begitu saja. Lalu digambarkan dengan sangat realistis, sehingga semua yang tersimpan di dalam hati anak-anak muda diungkap dan realisasinya terlihat dalam cerita lukisan atau permainan tersebut. Ini pun mendorong anak-anak muda ke jurang kemerosotan moral.

4. Tidak terlaksananya pendidikan moral yang baik
Faktor keempat yang juga penting, adalah tidak terlaksananya pendidikan moral yang baik, dalam rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Pembinaan moral, seharusnya dilaksanakan sejak si anak kecil, sesuai dengan kemampuan umurnya. Karena setiap anak lahir, belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, dan belum tahu batas-batas dan ketentuan moral yang berlaku dalam lingkungannya. Tanpa dibiasakan menanamkan sikap-sikap yang dianggap baik buat pertumbuhan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal moral itu. juga perlu diingatkan bahwa pengertian moral, belum dapat menjamin tindakan moral. Pada dasarnya moral bukanlah suatu pelajaran atau ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan mempelajari, tanpa membiasakan hidup bermoral dari kecil dan moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian, tidak sebaliknya.

5. Kurangnya kasadaran orang tua akan pentingnya pendidikan moral dasar sejak dini
Moral adalah salah satu buah iman oleh karena itu maka agar anak mempunyai moral yang bagus harus dilandasi dengan iman dan terdidik untuk selalu ingat pasrah kapada-Nya, dengan begitu anak akan memiliki bekal pengetahuan untuk terbiasa mulia, sebab benteng religi sudah mengakar di dalam hatinya.

6. Banyaknya orang melalaikan budi pekerti
Budi pekerti adalah mengatakan atau melakukan sesuatu yang terpuji atau perangai yang baik. Penanaman budi pekerti dalam jiwa anak sangat penting apabila dilihat dari hadits Nabi: “Seorang bapak yang mendidik anaknya adalah lebih baik dari pada bersedekah sebanyak satu sha”. “Tidak ada pemberian seorang bapak kepada anaknya yang lebih baik dari pada budi pekerti”. Namun sebagian orang tua melalaikan kepentingan pembinaan budi pekerti dan sopan santun anak. Para orang tua yang malang itu tidak sadar, bahwa ia telah menjerumuskan anaknya sendiri ke jurang, padahal pembinaan budi pekerti adalah hak anak atas orang tuanya seperti hak makan, minum serta nafkah.

7. Suasana rumah tangga yang kurang baik
Faktor yang terlihat dalam masyarakat sekarang ialah kerukunan hidup dalam rumah tangga kurang terjamin. Tidak tampak adanya saling pengertian, saling menerima, saling menghargai, saling mencintai diantara suami istri. Tidak rukunnya ibu bapak menyebabkan gelisahnya anak-anak mereka menjadi takut, cemas dan tidak tahan berada di tengah-tengah orang tua yang tidak rukun. Anak-anak yang gelisah dan cemas itu mudah terdorong kepada perbuatan-perbuatan yang merupakan ungkapan dari rasa hatinya, biasanya mengganggu ketentraman orang lain.

8. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu luang
Suatu faktor yang telah ikut juga memudahkan rusaknya moral anak-anak muda, ialah kurangnya bimbingan dalam mengisi waktu luang, dengan cara yang baik dan sehat. Pada rentang usia dini akhir adalah usia dimana anak suka berkhayal, melamunkan hal yang jauh atau sulit dijangkau. Kalau mereka dibiarkan tanpa bimbingan dalam mengisi waktu luang maka akan banyak lamunan yang kurang sehat timbul dari mereka.

9. Kurangnya tempat layanan bimbingan
Terakhir perlu dicatat, bahwa kurangnya tempat layanan bimbingan dan penyuluhan yang akan menampung dan menyalurkan anak-anak ke arah mental yang sehat. Dengan kurangnya atau tidak adanya tempat kembali bagi anak-anak yang gelisah dan butuh bimbingan itu, maka pergilah mereka berkelompok dan bergabung kepada anak-anak yang juga gelisah. Dari sinilah akan keluar model kelakuan anak yang kurang menyenangkan.

E. Usaha-Usaha Perkembangan Moral pada Anak
1. Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak
Kecerdasan moral dihidupkan oleh imajinasi moral, yaitu kemampuan individu yang tumbuh perlahan-lahan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah. Tingkah laku moral anak pada penghayatannya adalah sewaktu perilaku moral tumbuh sebagai tanggapan terhadap caranya diperlakukan di rumah dan di sekolah. Anak-anak yang memiliki kecerdasan moral mempunyai perilaku yang baik, lembut hati dan mau memikirkan orang lain (empati). Pada anak usia 6-7 tahun sudah memiliki hasrat yang jelas untuk bersikap bijaksana, sopan, murah hati. Pada kenyataannya mereka melihat dunia sebagai orang lain melihatnya untuk mengalami dunia melalui mata orang lain. Kecerdasan moral tidaklah dicapai hanya dengan mengenal kaidah dan aturan, hanya dengan diskusi abstrak di sekolah atau saat di dapur. Individu tumbuh secara moral sebagai dari kegiatan meniru atau mempelajari bagaimana bersikap terhadap orang lain. Anak-anak merupakan saksi apa yang dilihat dan didengar, dia akan memperhatikan moralitas orang dewasa melihat dan mencari isyarat bagaimana orang harus berperilaku, baik akan banyak melihat para orang tua, guru dalam mengurangi kehidupan, melakukan pilihan ataupun menyapa orang. Anak-anak akan menyerap dan mencatat apa yang mereka amati dari orang dewasa, yang hidup dan melakukan sesuatu dengan jiwa tertentu. Kemudian sejalan dengan perilaku moralnya tumbuh, anak-anak akan dengan secara tegas memberitahukan kepada apa yang telah dia saksikan. Makna yang mereka peroleh dan sikap moral kita adalah anak tidak akan merasa kesulitan mengutarakan hal-hal yang mereka lihat dan perilaku moral kita yang sedikit menyimpang.

2. Sifat Timbal Balik Pembinaan Akhlak
Itulah apa yang dapat diberikan kepada kita oleh anak-anak kita dan apa yang dapat kita berikan kepada mereka. Kesempatan untuk belajar dan mereka bahkan waktu kita mencoba mengajar mereka. Kita dapat membantu membentuk kecerdasan moral seorang anak dengan membicarakan masalah-masalah suara hati, keprihatinan etis, berulang kali walau tanpa persiapan namun dengan kata-kata yang tegas dan pengalaman dan tanggapan kita terhadap pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. Satu terhadap yang lain sewaktu kita merasakannya dia akan merasa kita anggap anak yang dapat memahami perilaku moral. Adapun cara menumbuhkan perilaku moral pada anak bisa kita lakukan dengan berbagai macam cara mengamati orang yang baik. Seperti mengajak anak untuk mengamati seseorang yang mempunyai kepribadian yang baik dan bagaimana proses menjadi orang yang baik dan apa akibatnya bila tidak bersikap baik memberikan pandangan tindakan lebih baik dari hanya sekedar kata-kata sehingga anak memikirkan apa yang seharusnya dilakukan dalam kehidupan mereka.

3. Stimulasi Perkembangan Moral Pada Anak
a. anak harus dirangsang oleh lingkungan usaha-usaha yang aktif. Contoh: Misalnya jika seorang anak menemukan uang di bawah meja di dalam kelas, maka kewajiban seorang guru membimbing anak untuk memberitahukan kepada teman-teman dan menanyakannya siapa yang kehilangan uang serta memberikannya kepada yang ternyata uangnya memang hilang.

b. Menurut Erickson tahun-tahun pertama dari kehidupan anak, orang tua hendaknya menanamkan dasar mempercayai orang lain. Contoh: anak harus dilindungi dan mendapatkan rasa aman dari orang tuanya terutama saat mengalami rasa sakit, cemas dan takut demikian pula apabila orang tua menjanjikan sesuatu hendaknya berusaha untuk menepatinya, sehingga orang tua tidak dicap scbagai “pembohong”.

c. Perangsangan yang diberikan harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Anak akan berkembang secara wajar dengan berbagai tahapan proses, yang pada setiap tahapan membutuhkan stimulas dan motivasi yang tepat sehingga diharapkan terjadi perubahan pada semua aspek/dimensi secara teratur dan progresif. Contoh: Pada anak usia I tahun, dimana anak tersebut sedang mulai belajar berbicara, maka dapat diajarkan untuk mengucap salarn bila bertemu dengan orang lain, mengucapkan kata maaf bila melakukan kesalahan atau mengucap terima kasih bila diberi sesuatu dan lain sebagainya.

d. Rangsangan yang diberikan harus tepat waktu yaitu orang tua harus proaktif atau menjalin hubungan yang erat dengan anak, berbicara dengan anak tentang masalah yang dialaminya sehari-hari. Contoh: ketika Ari marah karena buku cerita yang dijanjikan oleh ayahnya belum dibeli karena sepulang kerja ayahnya terjebak kemacetan di jalan, peran orang tua dan orang lain yang berada di rumah, harus dapat memberikan penderitaan dan gambaran yang nyata, sehingga Ari tidak jadi marah bahkan bila cara memberi pengertiannya dengan kata-kata yang bijaksana bukan tidak mungkin Ari justru meminta maaf kepada ayahnya karena tadi sudah rnarah kepadanya.

e. Rangsangan diberikan secara terpadu maksudnya: orang tua harus menyeimbangkan seluas kemampuan atau aspek-aspek perkembangan anak. Contoh: pada usia anak mencapai 6-8 tahun yang rata-rata pada usia tersebut anak duduk di kelas 1- 3 Sekolah Dasar, maka “Pekerjaan Rumah” adalah disarnping untuk menguji kemampuan anak mengenai suatu materi, anak pun sekaligus berlatih untuk bertanggung jawab, melatih memori, juga kemandirian serta bagaimana anak belajar mengatur Waktunya.

BAB III
KESIMPULAN

Perspektif kognitif yang kedua dalam perkembangan moral dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg. Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg ialah internalisasi (internalization); yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.
Dengan mengacu pada teori perkembangan moral Kohlberg dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya moralitas diajarkan bagi perkembangan anak, karena anak akan memiliki kepribadian yang baik sebagai individu di tengah masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Berk , Laura E. (2003). Child Developmen. USA: Pearson Education, Inc.
Clinicchildren. (2009). Tahap Perkembangan Moral Kohlberg. [Online]. Tersedia: http://developmentbehaviourclinic.wordpress.com/2009/08/26/tahap-perkembangan-moral-kohlberg/
Desmita. (2006). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rosda Karya.
Djiwandono, Sri EW. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2005). Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Muhammad Baitul A. (2010). Teori Perkembangan Moral Kohlberg. [Online]. Tersedia:http://www.psikologizone.com/teori-perkembangan-moral-kohlberg [7 Oktober 2010).
Santrock, Jhon W. (2002). Child Development (eleventh ed.), (alih bahasa: Mila R & Anna K). Jakarta: Erlangga.
Sujiono Bambang & Sujiono Yuliani Nurani. (2005). Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Sujiono Yuliani Nurani & Syamsiatin eriva. (2003). Perkembangan Perilaku Anak Usia Dini. Jakarta: Pusdiani Press UNJ.
Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. (2010). Moral. [Online]. Tersedia:http://id.wikipedia.org/wiki/Moral [7 Oktober 2010].
Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. (2010). Tahap Perkembangan Moral Kohlberg. [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahap_perkembangan _moral_Kohlberg [7 Oktober 2010].
Valmbad .(2005). Teori Perkembangan Moral. [Online]. Tersedia: http://valmband. multiply.com/journal/item/9 [7 Oktober 2010


0 Responses to “PERKEMBANGAN MORAL MENURUT TEORI LAWRENCE KOHLBERG”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2010
S S R K J S M
« Sep   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Halaman

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: