09
Jan
11

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SAINS BAGI ANAK USIA DINI YANG MENGALAMI GANGUAN VISUAL

PENDAHULUAN
A. Konsep anak yang mengalami gangguan visual berdasarkan ciri dan karakteristiknya.
Pasal 28c ayat 2 Amandemen UUD 1945 berbunyi “setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”. Tahun 1979, Badan International anak yang disponsori oleh Badan Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menghasilkan Deklarasi PBB terhadap hak-hak anak. Pada butir ke-5 (lima) dan butir ke-8 (delapan) disebutkan “Hak untuk mendapatkan perawatan khusus bila cacat”, “hak untuk mendapatkan hak yang sama, tidak dibedakan dan didiskriminasikan”.
Hak tumbuh kembang anak adalah salah satu kategori hak yang terdapat dalam konvensi Hak-Hak Anak. Konvensi ini merupakan salah satu perjanjian Internasional yang dihasilkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Di Indonesia, konvensi ini dimuat dalam Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention The Rights of The Child.
Sesuai dengan kategori hak-hak anak yang dikeluarkan oleh UNICEF (badan PBB yang khusus menangani masalah anak), hak tumbuh-kembang anak meliputi:
all kinds of education (formal and non-formal) and the right to as standard of living which is adequate for chid’s physical, mental, spiritual, moral and social development.
(semua jenis pendidikan baik formal maupun non formal dan hak terhadap standar hidup yang sesuai dengan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial).
Adanya pengakuan dan perlindungan yang sama, terhadap anak normal dan anak berkebutuhan khusus dalam bidang pendidikan dan pembelajaran bertujuan agar kesejahteraan setiap insan manusia terlindungi dan memperoleh pemenuhan sebagaimana mestinya. Berdasarkan sudut pandang pendidikan Corn (Widjajatin & Hipiteuw, 1994:200) menjelaskan bahwa “low vision is severely visually impaired after correction but can increase visual functions with optical ornon-optical and or with tehnique and environment modifield” (anak yang mengalami gangguan visual merupakan pribadi yang memiliki kecacatan visual yang jelas tetapi masih memiliki sisa penglihatan yang dapat digunakan). Anak yang mengalami gangguan visual perkembangannya berbeda dengan anak-anak yang mengalami gangguan lainnya, tidak hanya dari sisi penglihatannya tetapi juga dari hal lain.
Bagi peserta didik yang memiliki sedikit atau tidak melihat sama sekali, jelas ia harus mempelajari lingkungan sekitarnya dengan menyentuh dan merasakannya. Perilaku untuk mengetahui objek dengan cara mendengarkan suara dari objek yang akan diraih adalah perilakunya dalam perkembangan motorik.

1. Ciri-ciri anak yang mengalami gangguan visual

Ciri anak-anak yang mengalami gangguan visual pada umumnya sama dengan siswa normal lainnya, seperti yang diungkapkan oleh Scoll (1986:24) ”person with visual impairment are diverse group in society. They are thin and fat, tall and short, fun loving and grouchy, they have all characteristics found in any group of people” (orang yang mengalami gangguan visual dalam kelompok masyarakat itu bermacam-macam. Mereka ada yang kurus dan gendut, tinggi dan pendek, periang dan pemurung, mereka memiliki berbagai karakteristik layaknya orang normal dalam komunitas masyarakat).
Peabody (2002 dalam Mangunsong), ciri-ciri umum anak yang mengalami gangguan visual diantaranya adalah:
a. susah mencapai,
b. mudah lelah,
c. mempunyai masalah emosional.

Menurut Widjajantin dan Hitipeuw (1994:10), anak yang mengalami gangguan visual mempunyai ciri-ciri:
a. selalu mencoba mengadakan fixation (melihat suatu benda dengan memfokuskan pada titik-titik benda),
b. menanggapi rangsangan cahaya yang datang padanya,
c. bergerak dengan rasa penuh percaya diri, hal ini karena mereka merasa masih dapat melihat, bahkan tak jarang mereka bangga untuk menuntun temannya yang tuna netra total,
d. merespon warna, terutama warna yang kontras karena pantulan warna tersebut masih dapat ditangkap oleh sisa penglihatan yang rendah,
e. dapat menghadapi rintangan-rintangan yang lebih besar dengan sisa penglihatan mereka,
f. memiringkan kepala jika akan memulai suatu pekerjaan sebagai upaya menyesuaikan cahaya yang ada dan daya lihat,
g. mempu mengikuti gerak badan dengan sisa penglihatannya,
h. tertarik pada benda yang bergerak,
i. mencari benda yang jatuh dengan sisa penglihatannya sebagai bukti bahwa mereka mampu melihat,
j. jika berjalan sering membentur atau menginjak-injak benda tanpa sengaja, terutama benda-benda kecil yang jatuh ke lantai, seperti kapur, pulpen dan lain-lain, dikarenakan mereka sukar melihat
k. berjalan sering dengan menyeret atau menggeser kaki, untuk menghindari benda kecil terinjak,
l. kesulitan menunjuk benda atau mencari benda kecil kecuali warnanya kontras,
m. kesulitan melakukan gerakan-gerakan yang halus dan lembut,
n. selalu melihat benda-benda dengan global atau menyeluruh,
o. koordinasi atau kerjasama antara mata dengan anggota tubuh lemah.

2. Karakteristik anak yang mengalami gangguan visual
Perkembangan kognitif anak yang mengalami gangguan visual secara umum tidak mengalami hambatan berarti, Samuel P,Hayes (1950 dalam Hallahan, 1987:294) menyatakan bahwa ”kemampuan inteligensi anak yang mengalami ganguan visual tidak secara otomatis menjadikan diri mereka mempunyai inteligensi yang rendah”. Daya ingat yang kuat disebabkan mereka mempunyai kemampuan konseptual (conceptual abilities). Menurut Lowenfeld (1948), terdapat beberapa hal yang berpengaruh buruk terhadap perkembangan kognitifnya, yaitu:
a. jarak dan beragamnya pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik. Kemampuan ini terbatas karena mereka mempunyai perasaan yang tidak sama dengan anak yang mampu melihat secara normal,
b. kemampuan yang telah diperoleh akan berkurang dan akan berpengaruh terhadap pengalaman dan lingkungannya,
c. tidak memiliki kendali yang sama terhadap lingkungan dan diri sendiri.

Perkembangan komunikasi anak yang mengalami gangguan visual pada umumnya sangat berbeda dengan anak yang mampu melihat secara normal. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru berkaitan dengan perkembangan komunikasinya antara lain:
a. bahasa akan sangat berguna untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di lingkungannya dengan menanyakan apa yang terjadi dilingkungannya, sehingga orang lain mampu berbicara dengannya,
b. membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengucapkan kata pertama,
c. mulai mengkombinasikan kata-kata ketika perbendaharaan katanya mencakup sekitar 50 kata dan menggunakan kata yang ia miliki untuk berbicara tentang kegiatan dirinya.
d. Pada umumnya memiliki kesulitan dalam menggunakan dan memahami kata ganti orang, sering tertukar antara ”saya” dengan ”kamu”.

Kemampuan taktil yang tinggi pada anak yang mengalami gangguan visual disebabkan adanya dua kemampuan persepsi taktual, yaitu synthetic touch kemampuan untuk melakukan eksplorasi melalui indera peraba terhadap benda-benda yang bentuknya cukup kecil tetapi masih dapat diraba oleh satu atau dua belah tangannya dan analytic touch kemampuan sentuhan dengan indera peraba terhadap beberapa bagian tertentu dari suatu objek.

B. Teori motivasi belajar pada anak yang mengalami ganguan visual
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga Depdiknas Balai Pustaka 2005, pengertian motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu; usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu, tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Motivasi belajar sangat ditentukan oleh keadaan diri dan lingkungannya, maka secara umum Makmun (2001:37) mengemukakan bahwa “motivasi tersebut timbul dan tumbuh kembang dengan jalan:

1. Faktor intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor yang datang dari dalam diri individu itu sendiri tanpa dipengaruhi oleh orang lain atau timbul dengan sendirinya yang potensial dimiliki oleh individu yang bersangkutan sejak dilahirkan. Faktor intrinsik dinamakan oleh Cofe dan Appley (Daryono, 1996:51) dengan istilah “motivasi alamiah (motivasi dalam diri yang tidak disadari)”. Mengambil rujukan dari pendapat Frued bahwa motivasi itu adalah sebuah energi atau kekuatan yang sebenarnya sudah ada dalam diri individu yang mempengaruhi terhadap perilakunya.
Faktor intrinsik ini antara lain adalah minat, bakat, potensi yang dimiliki oleh anak yang mengalami gangguan visual sejak lahir. Faktor-faktor ini apabila dimanfaatkan secara optimal akan dapat mempengaruhi motivasi belajar untuk menggapai tujuan yang diinginkannya, namun melalui proses pembelajaran dan pengaruh pengalaman yang dia dapat dari lingkungan sekelilingnya, faktor-faktor ini dapat berubah dan berkembang ke arah yang lebih baik atau malah sebaliknya.

2. Faktor Ekstrinsik
Faktor entrinsik adalah faktor yang datang dari lingkungan sekitarnya yang sangat dipengaruhi oleh orang lain atau timbul karena ada stimulus lingkungan yang mengarahkan perbuatan tingkah laku seseorang ke arah tujuan yang diinginkan. Faktor entrinsik ini dinamakan pula oleh Cofe dan Appley (Daryono,1996:51) dengan istilah “motivasi yang disengaja (motivasi yang terencana untuk diri dan orang lain)”.
2.1. Lingkungan belajar
Apabila lingkungan belajarnya mendukung dalam pemenuhan aksesibilitas anak, maka ini akan meningkatkan motivasi belajar anak yang mengalami gangguan visual, karena mereka merasa terfasilitasi dalam belajarnya dan begitupun sebaliknya. Yusuf (2002:38) menyatakan “banyak hal yang belum mendukung kemungkinan penyandang tunanetra dapat hidup mandiri. Penyandang tuna netra sebenarnya mampu melakukan kegiatan seperti orang awas, namun karena fasilitas penunjang belum tersedia di lingkungan, seperti tempat penyebrangan khusus, dalam banyak hal mereka masih sering membutuhkan orang lain”.

2.2. Teman sebaya
Surya mengatakan (2003:1) “kelompok teman sebaya atau peer group adalah kelompok individu yang memiliki usia relatif sama”. Keterlibatan remaja ke dalam kehidupan kelompok teman sebaya memberikan manfaat yang dapat dipetik bagi remaja secara individual, yaitu:
a. memberikan rasa aman,
b. memberikan hiburan yang menyenangkan,
c. memberikan pengalaman dalam pergaulan yang cocok dengan orang lain,
d. membantu remaja untuk mengembangkan sikap toleransi dan saling memahami,
e. memberikan kesempatan untuk memperoleh dan mengambangkan keterampilan-keterampilan sosial,
f. memberikan kesempatan untuk menilai orang lain,
g. memberikan pola-pola dan standar perilaku remaja,
h. memberikan banyak peluang untuk mencapai kemerdekaan pribadi dan kesetiaan kelompok,
i. membantu remaja mengembangkan sikap kreatif.

Hurlock menambahkan (1999:215) bahwa “manfaat kehidupan teman sebaya yang ditandai dengan minat yang tinggi untuk terlibat dalam segala kegiatan kelompok teman sebaya dapat dijadikan tempat bagi remaja untuk mengasah keterampilan berinteraksi, sehingga melalui interaksi kelompok teman sebaya tersebut remaja dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan, keterampilan, dan sikap berani mengambil risiko, mengembangkan sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Selain itu juga mereka dapat saling membelajarkan, mengungkapkan ide-idenya dan bersikap secara kreatif.
2.3. Orang tua atau keluarga
Surya (2003:23) mengatakan bahwa “dalam kegiatan operasionalnya pihak sekolah khususnya para guru merupakan salah satu unsur pemerintah dan orang tua merupakan unsur keluarga. Keduanya mempunyai subyek yang sama yaitu peserta didik. Tujuannya pun sama yaitu perkembangan peserta didik demi keberhasilannya di masa yang akan datang. Kasih sayang pada hakikatnya merupakan kebutuhan asasi setiap anak. Dengan perlakuan yang baik, didasari dengan kasih sayang, maka besar harapan anak akan berkembang menjadi sumber daya manusia yang bertakwa dan dengan sendirinya akan menjadi produktif, kreatif sehingga menjadi manusia yang bermakna bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan pembangunan umat secara keseluruhan.
2.4. Guru
Guru yang sering diartikan dengan istilah “digugu dan ditiru” harus menjadi contoh yang baik bagi siswanya, begitupun guru harus berusaha memberikan stimulus-stimulus yang positif pada siswa agar siswa terus termotivasi dalam belajarnya. Oleh karena itu guru menjadi faktor ekstrinsik yang sangat penting dalam membangkitkan motivasi belajar siswa yang mengalami gangguan visual yang belajar bersama siswa yang nomal.

PEMBAHASAN
A. Strategi pelaksanaan pembelajaran sains bagi anak usia dini
1. Pengertian pembelajaran sains

Secara sederhana istilah pembelajaran bermakna sebagai upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui upaya dan berbagai strategi, metode dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan. Pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang mengkondisikan untuk merangsang seseorang atau kelompok orang agar bisa belajar dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Pembelajaran sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip tetapi juga merupakan suatu proses penemuan untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya. Pendidikan sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu memahami alam sekitar secara alamiah. Pendidikan sains di arahkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitarnya.

2. Fungsi dan tujuan pembelajaran sains
Fungsi dan tujuan pembelajaran sains pada anak usia dini :
2.1. Membantu anak usia dini menguasai produk sains :
– Membantu anak dalam pengenalan dan penguasaan :
a. Fakta, yaitu hal yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi.
b. Teori, yaitu pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi.
c. Konsep, yaitu rancangan; ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret.
d. Prinsip, yaitu asas kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir atau bertindak.
e. Hukum, yaitu peraturan atau adapt yang secara resmi dianggap mengikat yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah.
f. Istilah, yaitu kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang khas di bidang tertentu.
g. Proses, yaitu rangkaian tindakan, pembuatan atau pengolahan yang menghasilkan produk.
h. Problem solving, yaitu sebagai pemecah masalah yang dilakukan oleh hasil pemikiran sendiri.
– Membantu anak mengenali, menguasai kumpulan pengetahuan, menjelaskan yang diketahuinya itu secara memadai kepada orang lain dan menyampaikan cara-cara yang digunakannya.
2.2. Membantu anak usia dini menguasai proses sains :
– Membantu anak dalam penguasaan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam menggali sains sehingga anak menguasai cara kerja yang ditempuh dalam menyingkap alam dan menyelesaikan masalah yang terkait di dalamnya.
– Anak secara bertahap dan sederhana diperkenalkan dengan cara atau proses mengungkap sains yang benar, seperti proses :
a. Mengamati, yaitu melihat dan memperhatikan dengan teliti.
b. Menggolongkan, yaitu membagi-bagi atas beberapa golongan.
c. Mengukur, yaitu menghitung ukurannya (pangjang, besar, luas, tinggi, dsb) dengan alat tertentu.
d. Menguraikan, yaitu melepaskan hubungan bagian-bagian dari induk atau pusatnya.
e. Menjelaskan, yaitu menerangkan; mennguraikan secara terang.
f. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tentang alam.
g. Merumuskan problem, yaitu menyebutkan (menyimpulkan) suatu masalah dengan ringkas dan tepat.
h. Merumuskan hipotesis, yaitu menyebutkan (menyimpuklan) sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat, meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan; anggapan dasar.
i. Merancang penyelidikan termasuk eksperimen, yaitu membuat percobaan yang bersistem dan berencana untuk membuktikan kebenaran suatu teori.
j. Mengumpulkan dan menganalisis data, yaitu mengumpulkan dan melakukan penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya
k. Menarik kesimpulan, yaitu mengambil keputusan yang diperoleh berdasarkan metode berpikir induktif atau deduktif, dan sebagainya.
2.3. Membantu anak usia dini menguasai nilai sains :
– Membantu anak secara bertahap diarahkan pada suatu pembentukan pribadi atau karakter, seperti sikap jujur, kritis, kreatif, positif terhadap kegagalan, kerendahan hati, tidak mudah putus asa, keterbukaan untuk dikritik dan diuji, menghargai dan menerima masukan, berpedoman pada fakta dan data yang memadai, hasrat ingin tahu yang tinggi dan sebagainya.

3. Strategi belajar bagi anak yang mengalami ganggguan visual
Dalam mendukung aktivitas belajar anak yang mengalami gangguan visual, guru sebaiknya memilih pendekatan yang tepat dalam pengajaran dengan memperhatikan empat pokok utama yang dibutuhkan dalam optimalisasi sisa penglihatannya yaitu; cahaya, kontras, jarak dan ukuran. Pendekatan yang bisa digunakan guru adalah “pendekatan stimuli penglihatan, pendekatan efesiensi penglihatan dan pendekatan pengajaran menggunakan sisa penglihatan” (Hosni, 2002).
Dengan stimulasi penglihatan diharapkan anak memiliki kesadaran terhadap rangsangan dari luar dirinya baik dalam bentuk cahaya meupun objek. Setelah memiliki kesadaran anak yang mengalami gangguan visual akan memfokuskan perhatiannya, dan ada dorongan untuk mengeksplorasi lingkungan dan objek dan pada akhirnya akan mengenal objek dari wujud aslinya, simbol yang mewakilinya meskipun dalam bentuk simbol abstrak. Dengan sisa penglihatannya yang masih banyak biasanya mereka sudah memiliki kesadaran dan sudah memiliki pengalaman dalam memfungsikan matanya di lingkungan, karena itu tinggal mengefesiensikan penggunaan penglihatannya. Efesiensi penggunaan penglihatan tercipta bila objek yang akan dilihat dan lingkungannya memiliki keempat aspek tadi sesuai dengan yang dibutuhkan penglihatan anak yang mengalami gangguan visual.
3.1. Hosni (2002) menjelaskan keempat aspek yang dapat mengefesiensikan penglihatan dan memfungsionalkan lingkungan pada anak yang mengalami gangguan visual adalah :
1. Aspek cahaya
a. sepanjang masih memungkinkan, manfaatkan cahaya alamiah yang datang dari luar melewati jendela atau genting kaca,
b. menyesuaikan posisi duduk dan kebutuhan cahaya anak yang mengalami gangguan visual dengan datangnya arah cahaya,
c. cahaya yang tidak sesuai dengan kebutuhan, membuat anak akan mengalami kesulitan dan tidak efesien menggunakan matanya dalam membaca serta cepat lelah bila disuruh membaca,
d. menghindari tempat duduk yang menghadap cahaya,
e. cahaya sintesis dapat digunakan apabila cahaya alamiah tidak mendukung,
f. cahaya sintesis seperti lampu listrik, harus memperhatikan pula tentang intensitasnya, arahnya, tidak membuat panas dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
2. Aspek kontras
a. kekontrasan biasanya terlibat di dalamnya masalah warna,
b. kekontrasan berhubungan dengan warna latar belakang, makin menyolok perbedaan warna di antara objek dengan warna latar belakang makin tinggi tingkat kekontrasannya,
c. anak yang mengalami gangguan visual sering kehilangan objek bila objek tersebut berada di latar belakang yang sama atau sedikit berbeda warna dengan objek,
d. warna yang tidak memantulkan cahaya lebih dapat dilihat,
e. pengecetan warna ruangan (tembok, kusen, daun pintu dan jendela) yang memperhatikan aspek kekontrasan akan membuat anak yang mengalami gangguan visual merasa aman, aksesibel, dan fungsional di ruang tersebut.
3. Aspek jarak
a. anak yang mengalami gangguan visual dapat melihat objek dengan jelas bila jarak antara objek dengan penglihatannya sesuai,
b. biarkan anak yang mengalami gangguan visual melihat objek sedekat apapun. Setiap anak yang mengalami gangguan visual mempunyai jarak sendiri untuk melihat objek,
c. bila objek yang akan dilihat terlalu jauh dengan posisi anak yang mengalami gangguan visual, maka dekatkan objek lihat tersebut.
4. Aspek ukuran
a. suatu objek bisa terlihat oleh anak yang mengalami gangguan visual, tergantung dari ukuran objek tersebut,
b. pada sebagian anak yang mengalami gangguan visual, ukuran objek bisa terlihat lebih besar dan jelas bila didekatkan dengan matanya,
c. untuk bahan bacaan, ukuran huruf ditetapkan tergantung pada usia anak yang mengalami gangguan visual, untuk usia TK lebih besar ukuran hurufnya dengan usia kelas 1-3 SD, di atas usia kelas 3 SD ukuran hurufnya makin kecil.
5. Alat bantu untuk anak yang mengalami gangguan visual
Tarsidi (1999:19) “anak-anak penyandang ketunanetraan mungkin dapat terbantu dengan berbagai alat bantu low vision dan sebaiknya didorong untuk menggunakannya baik di rumah, di sekolah maupun ditempat bermain”. Alat-alat bantu tersebut adalah alat-alat proyeksi dan pembesar yang memberi kemudahan berupa lensa khusus, lensa ini dapat dijepitkan pada kacamata biasa atau dapat dipegang (kaca pembesar) yang sangat mudah digunakan dan bermanfaat untuk membaca bahan cetak.
3.2. Pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan visual
Pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan visual akan jauh lebih baik jika pembelajaran tersebut dilakukan dengan mengefesienkan penggunaan penglihatan (efisiency in visual functioning) seperti dijelaskan Corn (1986:99) “siswa low vision dimungkinkan belajar dengan berbagai pendekatan yang memaksimalkan penggunaan kemampuan penglihatannya. Efesiensi dalam penggunaan penglihatan disesuaikan dengan kemampuan penglihatan untuk mengerjakan tugas yang diingikan”. Pendekatan pembelajaran dengan menggunakan penglihatan bagi anak yang mengalami gangguan visual didasarkan pada model dimensi penggunaan penglihatan dari Corn (Corn’s model of visual functioning):

1. Program stimulasi penglihatan (vision stimulation programs)
Program ini digunakan untuk menstimulasi anak yang mengalami gangguan visual yang memiliki sisa penglihatan sangat minim dan tidak berkembang dengan tujuan untuk menstimulasi sisa penglihatan siswa dapat terangsang.
2. Latihan efesiensi penglihatan (vision efesiency training)
Latihan efesiensi penglihatan bertujuan untuk melatih anak yang mengalami gangguan vision agar dapat memfungsikan penglihatannya dalam situasi pendidikan dan interaksi dengan lingkungan.
3. Pengajaran pemanfaatan sisa penglihatan
Pengajaran pemanfaatan sisa penglihatan adalah sebuah upaya untuk mengajari siswa memanfaatkan sisa penglihatannya dengan memberikan bantuan atau alat koreksi (kaca pembesar, dll) sehingga proses pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan visual dapat lebih efektif dengan memaksimalkan penglihatan yang masih dimilikinya.

B. Media pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan visual
1. Pengertian media

Association of Education and Communication Technology atau AECT memberikan batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. Selanjutnya Gagne (1970) mengemukakan bahwa media adalah berbagia jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar.
Dalam proses belajar mengajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, guru menggunakan media pembelajaran untuk mengefektifkan komunikasi dan interaksi dengan siswanya. Media pembelajaran yang digunakan guru secara masal dapat berupa radio, televisi, film, slide, video, dan OHP, sedangkan secara individual atau perorangan guru dapat menggunakan media pembelajaran berupa modul, komputer, radio kaset, dan video recorder (Arsyad, 1977).

2. klasifikasi media pembelajaran
Dalam pengklasifikasian media pembelajaran ada tiga kelompok media, yaitu:
2.1. Media audio
Media yang termasuk pada kelompok ini hanya dapat menghasilkan bunyi atau suara saja, misalnya kaset, tape recorder dan radio.
2.2. Media visual
Media visual yaitu media yang hanya dapat memperlihatkan rupa dan bentuk. Media ini dibagi menjadi dua yaitu media visual dua dimensi dan media visual tiga dimensi. Media visual dua dimensi terbagi lagi menjadi dua bagian media, yaitu media dua dimensi pada non-transparansi yaitu gambar, lembaran batik, grafik, poster dan foto. Media visual dua dimensi pada bidang transparansi seperti slide, film strip dan lembaran trasparansi. Media visual tiga dimensi misalnya model dan benda sebenarnya.
2.3. Media audio visual
Media yang dapat menghasilkan rupa dan suara dalam satu unit, misalnya TV, film suara dan video (Sulaiman, 1988).

Pada hakekatnya media yang beraneka ragam macamnya akan dapat bermanfaat dalam pengajaran apabila mempertimbangkan jenis kemampuan yang akan dicapai sesuai dengan tujuan. Sebagaimana diketahui bahwa tujuan pengajaran itu menjangkau aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam memilih media pembelajaran, kegunaan dari berbagai jenis media itu sendiri harus pula dikembangkan, karena setiap jenis media mempunyai nilai sendiri-sendiri. Selain itu kemampuan guru dalam menggunakan jenis media harus pula diperhitungkan, sebab betapapun tingginya media, tidak akan memberikan manfaat sedikitpun bila berada ditangan orang yang tidak mampu menggunakannya.
Ada sepuluh langkah yang dapat ditempuh dalam memilih media pembelajaran agar dapat sesuai dengan bahan pelajaran yang akan diajarkan pada anak yang mengalami gangguan visual:
1. Merumuskan tujuan pengajaran,
2. Mengklasifikasikan tujuan berdasarkan domain atau tipe belajar,
3. Memilih peristiwa-peristiwa yang akan berlangsung,
4. Menentukan tipe perangsang untuk tiap peristiwa,
5. Mendaftar media yang dapat digunakan pada setiap peristiwa pengajaran,
6. Mempertimbangkan berdasarkan nilai kegunaan media yang dipakai,
7. Menentukan media yang terpilih akan digunakan,
8. Menulis rasional saat memilih media tersebut,
9. Menulis tata cara pemakaian pada setiap kegiatan,
10. Menyimpulkan hasil kegiatan.

3. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi anak yang mengalami gangguan visual dalam pelaksanaan pembelajaran
3.1. Faktor internal
Faktor internal dibagi menjadi empat faktor;
a. faktor kebutuhan primer manusia
Maslow (Slameto, 2003:74-74) menyatakan ada beberapa jenjang kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi, yaitu kebutuhan fisiologis (kebutuhan makan, minum, tidur, kesehatan). Kebutuhan akan keamanan (kebutuha keseimbangan emosi, sehingga perasaan aman dapat tercapai). Kebutuhan akan kebersamaan dan cinta (kebutuhan kasih sayang, diakui). Kebutuhan self-actualisation (kebutuhan yang dapat berguna untuk memenuhi kebutuhan sendiri, image seseorang). Kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti (kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu, mendapatkan pengetahuan, informasi, dan mengerti sesuatu)
b. faktor jasmaniah
Kesehatan dapat mempengaruhi proses belajar apabila kesehatannya terganggu. Cacat tubuh, yaitu kondisi yang menyebabkan organ-organ tubuh tertentu kurang berfungsi atau tidak berfungsi sama sekali.
c. faktor psikologis
intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar dalam situasi yang sama, siswa dengan tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah (Slameto, 2003:56). Walaupun demikian, siswa dengan tingkat intelegensi yang tinggi belum tentu berhasil dalam belajarnya, hal ini disebabkan faktor yang mempengaruhi proses belajarnya. Perhatian menurut Gazali (Slameto, 2003:56) adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu semata-mata tertuju kepada suatu objek atau sekumpulan objek. Minat sama artinya dengan kehendak atau kemauan seperti yang dijelaskan oleh Ahmadi dan Supriono (1991:38) yaitu fungsi jiwa untuk mencapai sesuatu dan merupakan kekuatan dari dalam. Bakat adalah kemampuan untuk belajar yang akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Motif berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai. Kematangan adalah suatu tingkat dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi yang timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan.
d. faktor kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani (terlihat dengan lemahnya tubuh) dan kelelahan rohani (terlihat dengan adanya kelesuan, kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang).

3.2. Faktor eksternal
Faktor eksternal dapat dibagi menjadi tiga faktor:
a. faktor keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
b. faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, metode belajar dan tugas rumah.
c. faktor masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa karena keberadaan siswa dalam masyarakat.

SIMPULAN dan REKOMENDASI
Para pendidik yang menangani anak-anak yang mengalami gangguan visual diperlukan kemampuan mengambil keputusan dalam strategi pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran sains untuk anak usia dini membutuhkan suatu pola tersendiri yang disesuaikan dengan tingkat kepekaannya, oleh karena itu sangat diperlukan pemahaman yang jelas mengenai hal-hal yang kompleks dalam penyusunan suatu program pembelajarannya.
Pembelajaran sebaiknya mengarah pada kemampuan mengkoordinir keseluruhan gerak jasmani dan ketepatan reaksi gerak, kemampuan gerak dengan menggunakan gerak halus atau fine motor, dan kemampuan mengkoordinir daya kekuatan otot-otot gerak sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga anak yang mengalami gangguan visual mempunyai kepercayaan diri, dalam pelaksanaan pembelajaran sains yang lebih banyak berhubungan dengan alam lingkungan dan orang-orang disekitarnya.
Pembelajaran yang disusun oleh pendidik sebaiknya mengarah pada:
1. Kemampuan orientasi mobilitas mengarah pada kemampuan mengkoordinir keseluruhan gerak jasmani.
2. Kemampuan gerak dengan menggunakan gerak halus atau Ifine motor.
3. Kemampuan mengkoordinir ketepatan reaksi gerak.
4. Kemampuan mengkoordinir daya kekuatan otot-otot gerak sesuai dengan kebutuhannya.

DAFTAR PUSTAKA
Delphie, B. (2006). Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: PT. Refika Aditama.
Jain, N. (2007). http://www.idp-europe.org/eenet/newsletter4 indonesia/page34.php.
Lembaga Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPM-ITB). (1999). Dunia Bermain Anak. Bandung: Lembaga Penelitian ITB.
Mubarok Abidin, H. (2006). Motivasi Belajar Tuna Netra Di SLBN-A Citeureup Kota Cimahi. Skripsi S1 pada PLB UPI Bandung.
Nugraha, A. (2008). Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini. Bandung: JILSI Foundation.
Nur Cahyani, S. (2005). Penerapan Metode Jarimatika Dalam Meningkatkan Kemampuan Berhitung Tuna Netra Kelas Rendah. Skripsi S1 pada PLB UPI Bandung.
Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional http://www.puskur.net/inc/mdl/130_model_KTsp_PKhs.pdf.
Ridayani. (2007). Pengaruh Media Foto Berwarna Dalam Pembelajaran Sains Untuk Meningkatkan Hasil Pada Anak Low vision. Skripsi S1 pada PLB UPI Bandung.
Sutejo, B. (2006). Strategi Belajar Yang Digunakan Siswa Low Vision Di Sekolah Dan Rumah. Skripsi S1 pada PLB UPI Bandung.
Wiki Pedia Indonesia. http://id.wikipedia.org/wiki/Tuna_netra.


0 Responses to “PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SAINS BAGI ANAK USIA DINI YANG MENGALAMI GANGUAN VISUAL”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Januari 2011
S S R K J S M
« Des    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Halaman

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 4 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: