11
Sep
09

KECEMASAN DALAM RENUNGAN

Catatan perjalanan pameran tunggal Topik Ajo
– Dipenuhi tokoh – tokoh besar

…………………………
May-day…, may-day….
Hukum di negeri ini tambah parah
Karena komplikasi: vertigo, mabuk laut, impotent,
Penyempitan pembuluh darah, cacar air,
Muntah-berak, demam berdarah, kudis-kurap, raja singa
Sehingga wajahnya bopeng dan koreng
…………………………

Petikan puisi “Tolong” karya Aat Soeratin yang dibacakannya sendiri untuk membuka pameran tunggal Topik Ajo The Remedy of Anxious di gedung Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung jalan Naripan. Pameran yang berlangsung dari tanggal 20–25 November 2007 terselenggara atas kerjasama Lembaga Seni Sampan Kayu Bengkulu dengan Komunitas Palang Dada Bandung. Petikan puisi itu memberikan arti tersendiri yang patut kita renungkan kembali. Dalam pembukaan pameran itu tak ketinggalan sederet tokoh seniman Bandung tampil dengan peformennya, sastrawan Ayi Kurnia meneriakkan kecemasan lewat puisi “kukuruyuk”, Hary Pochang melantunkan kecemasan dengan suara harmonica bernada blues yang membuat pengunjung terpukau. Hadir juga pada pembukaan pameran ini beberapa perupa besar, diantaranya Rahmat Jabaril, Isa Perkasa, Zufli Atmansyah, Donni Arifianto, Arman jamparing, Santang, Yoyok dan sederet tokoh-tokoh lainnya serta pemilik galeri yang ada di Bandung. Sebuah kecemasan yang terlihat dalam lukisan dan instalasi karya Topik Ajo ini, berkisah tentang kesakitan negara yang seharusnya membutuhkan pertolongan. Melalui karya ini, pengunjung diajak bercermin dan merenungi tentang sesuatu yang terjadi pada bangsa ini serta diri kita sendiri yang pada akhirnya menimbulkan sebuah pertanyaan besar, bagaimanakah cara kita mengobatinya.

Diskusi pun digelar pada tanggal 22 November 2007 guna membahas karya-karya yang digoreskan Topik Ajo melalui kuas ke kanvas serta beberapa instalasinya. Dalam diskusi ini pembicaranya tentu sudah tak asing lagi dikalangan perupa Indonesia, seorang penulis dan kritikus seni rupa Herry Dim, perupa Bambang Subarnas dan Diyanto yang juga dosen dibeberapa Universitas ini dimoderatori Ahda Imran seorang wartawan, penyair serta kritikus seni yang sebelumnya menyoroti karya-karyanya sebagai bentuk kecemasan konflik sosial yang terjadi dilingkungan sekitar. Sedikit banyak hal tersebut juga tersambung pada fenomena keseharian yang terjadi di Bandung. Dalam kesempatan diskusi ini, Herry Dim sebagai pembicara pertama memberikan ucapan selamat datang atas pameran tunggal pertama dari perupa Bengkulu di Bandung. Herry Dim melihat karya seni adalah patokan yang bisa dinilai secara langsung, tidak ada hal universal, cara hidup bisa jadi membuat cara berpikir berbeda. Membuka wacananya, ia melihat keberadaan karya Topik Ajo dengan karya–karya perupa lainnya, dimana ada sesuatu hal terjadi yang diangkat, bukan persoalan kemiripan karya tapi lebih mempertanyakan ada apa di balik karyanya. Jika orang melihat masalah yang sama, mengapa Topik Ajo berekspresi berbeda dengan orang lain?, di mana tempat subjektivitasnya?, yang akhirnya dari pernyataan tersebut malah memunculkan sebuah pertanyaan baru, apa yang terjadi dalam konstalasi seni rupa setelah perkembangan media.
Diyanto ternyata melihat sesuatu yang luar biasa dan cukup mencengangkan, bagaimana mungkin bisa menemukan perasaan akrab lewat karya Topik Ajo. Ia mencoba menebak apa yang merasuki, sampai akhirnya pada titik pertemuan inilah yang menegaskan kenyataan tentang adanya penyusutan jarak. Adakah diskusi-diskusi dalam sampan kayu juga memungkinkan akrabnya karya Topik Ajo dengan Bandung karena melihat referensi yang sama-sama diterima melalui media. Hal ini ternyata mampu membangkitkan semangat membangun kembali komunitas Palang Dada pimpinannya yang sempat stagnan. Diskusi inipun mencuatkan sebuah persoalan yang belum berujung “daerah versus pusat”. Bambang Subarnas melihat hal ini dikarenakan daerah selalu bercermin pada pusat, pusat adalah sesuatu yang besar, belum lagi media hanya mengungkap peristiwa seni rupa yang hanya terjadi dipusat (secara administrative) saja. Kita dihadapkan pada sesuatu yang tak terlawankan bagai hantu, yaitu ”pusat” ujar Kijoen ketua lembaga seni sampan kayu. Kata–kata pusat dikalangan perupa daerah sudah sampai pada tingkat yang mengerikan, bagaiman perupa daerah menganggap untuk menjadi ”terkenal” haruslah ke pusat (Jakarta, Bandung, Bali, Yogyakarta,Surabaya) di mana banyak sekali tumbuh galeri yang memajang karya-karya lukisan, serta iklim yang inginkan sudah tercipta, ada kurator, kritikus seni, galeri, serta keberpihakan media. Hal inilah yang menjadi akar persoalan perkembangan seni rupa daerah yang pada akhirnya memaksa perupa daerah berkiblat ke pusat.

Sedangkan budayawan Aat soeratin menanggapi, jika berbicara tentang seni rupa, seharusnya tidak disatukan dengan lokalitas. Kita hapus nama Topik Ajo, Isa Perkasa, Rahmad Jabaril, cukup apa yang ingin disampaikan saja yang dilihat, masalah daerah versus pusat hanyalah kiat memunculkan diri merebut publikasi, maka lengkapi saja dengan infrastruktur itu. Perhatikan cara Topik Ajo membuat tema The Remedy of Anxious, Remedy lebih dimaknai sebagai obat yang diupayakan diri sendiri seperti halnya household remedy, Anxious adalah proses kecemasan yang terus menerus menjadi kolektif, bukankah ini sebenarnya terasa lokal?. Jika tema seperti ini disajikan dan dibuat oleh perupa Jakarta, Bandung, Yogja kemungkinan besar akan berbentuk perlawanan, tapi Topik Ajo malah mengajak kita merenung. Kita selalu berfikir bahwa negara ini sedang sakit dan membutuhkan tabib dari luar. Secara seni rupa saya akui memang awam, apakah harus ada perbedaan antara gaya perupa Bengkulu dengan Jambi, Padang dan lainnya, yang menurut saya sama saja. Seharusnya kita berterima kasih pada Topik Ajo yang telah mengingatkan dan menyadarkan kita bahwa obat yang dibutuhkan sebenarnya adalah Remedy bukan Medicine.

Sebagai seorang sepuh tradisi pun abah Tjahja mengemukakan, kalau ingin membicarakan rupa dengan kearifan lokal, maka seharusnya kita bercermin kembali dengan memaknai apa wajah rupa nusantara sesungguhnya. Topik Ajo mengatakan, “pameran ini sebenarnya adalah mimpi buat kami, bahwa pusat itu juga Indonesia. Awalnya sangat tidak mungkin tapi ternyata hal itu bisa terwujud dan menjadi wacana besar. Kami di daerah hanya butuh keterbukaan pusat”. Sebagai moderator Ahda Imran menuturkan, persoalan yang paling pelik untuk membaca seni rupa di Indonesia adalah sulitnya mengakses, kuatnya persoalan Jawa-centris, dan kita pun harus berhadapan dengan hal-hal di luar objektifitas. Jika saja Hard choice nya Topik Ajo dibuat di pulau Buru, mungkin saja akan sama nasibnya dengan trilogi celeng Joko Pekik; diwacanakan besar dan didramatisir secara sosial politik. Menurutnya, apapun persoalan yang diangkat, kecenderungan tematik yang diangkat Topik Ajo banyak juga terjadi pada perupa di Bandung, mungkinkah kita menemukan suatu persoalan yang sama? Bagaimana persoalan itu muncul di Bengkulu? Apakah sama dengan yang terjadi di Bandung? Yang akan kita tarik ke wilayah lokalitas lain. Persoalannya mungkin sama, tetapi perbedaan letak geografi dan kultural yang membuat cara pandang orang lain berbeda. Perbedaan inilah yang kemudian akan menjadi lokalitas. Bisa jadi kita ciptakan pusat-pusat yang lain, sehingga jika pusatnya banyak, maka “pusat” yang ditakutkan itu akan hilang, dan mereka pun bermimpi juga pada akhirnya untuk bisa berpameran di Bengkulu.

Selama pameran berlangsung, ada pendapat dan masukan dari beberapa pengunjung pameran, salah satunya Saif Ahmad dari Mumbai India ”work in little different but new concept of expresionis”, Pradeed Kumar a.v dari New Delhi India ”something extra-virgin….”. Yang menggembirakan di akhir diskusi adalah, adanya kesepakatan antara lembaga seni Sampan Kayu dan komunitas Palang Dada untuk memfasilitasi pameran perupa Bengkulu satu tahun sekali di Bandung. Semoga ini merupakan mimpi yang berwujud.


0 Responses to “KECEMASAN DALAM RENUNGAN”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Laman

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 6 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: