26
Des
10

Penanggulangan Gangguan Ekspresi Bahasa

Kata bahasa berasal dari bahasa latin lingua yang berarti lidah. Awalnya pengertiannya hanya merujuk pada bicara, namun selanjutnya digunakan sebagai bentuk sistem konvensional dari simbol-simbol yang dipakai dalam komunikasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh suatu anggota masyarakat untuk bekerja bersama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri.
Bahasa berarti menyatakan dan menerima informasi dalam suatu cara tertentu. Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk mengerti apa yang dilihat dan apa yang didengar. Bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual (menulis, memberi tanda) atau auditorik. Seorang anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja ia dapat mengucapkan satu kata dengan jelas tetapi tidak dapat menyusun dua kata dengan baik, atau sebaliknya seorang anak mungkin saja dapat mengucapkan sebuah kata yang sedikit sulit untuk dimengerti tetapi ia dapat menyusun kata-kata tersebut dengan benar untuk menyatakan keinginannya.

Ekspresi bahasa memiliki enam komponen, yaitu:
1. Fonem, yaitu satuan terkecil dari bunyi ujaran yang dapat membedakan arti.
2. Morfem, merupakan unit terkecil dari bahasa yang mengandung makna.
3. Sintaksis, yaitu berkenaan dengan tata bahasa bagaimana kata-kata disusun untuk membentuk kalimat
4. Semantik, berkenaan dengan frasa, klausa, dan kalimat.
5. Prosodi, berkenaan dengan penggunaan irama yang layak, intonasi, dan tekanan pola-pola bahasa.
6. Pragmatik, berkenaan dengan cara menggunakan bahasa dalam situasi sosial yang sesuai.

Apabila ada anak yang mengalami gangguan ekspresi bahasa, maka langkah-langkah penanganan yang harus kita lakukan adalah:

1. Mendeteksi atau mengasesmen penyebab gangguan ekspresi bahasa anak, termasuk ke dalam kategori gangguan mana anak tersebut karena penyebab gangguan ekspresi bahasa ada lima kategori , yaitu:
a. Kekurangan Kognitif
1). Kesulitan memahami dan membedakan makna bunyi wicara. Anak sering memiliki problema auditoris, yaitu kesulitan untuk memahami dan membedakan makna bunyi wicara. Kondisi semacam itu menyebabkan anak rnengalami kesulitan untuk merangkai fonem, segmentasi bunyi, rnembedakan nada, mengatur kenyaringan, dan mengatur durasi bunyi.
2). Kesulitan membentuk konsep dan mengembangkannya ke dalam unit-unit semantik. Pemahaman terhadap unit-unit semantik (kata dan konsep) menunjukkan adanya pengetahuan tentang kekeluargaan kata secara tepat. Banyak di antara anak-anak berkesulitan belajar yang merniliki masalah dalam pembentukan konsep dan dalam menghubungkan unit-unit semantik.
3). Kesulitan Mengkiasifi kasikan Kata. Anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan dalam mengelompokkan kata-kata.
4). Kesulitan dalam relasi semantik. Anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan untuk menemukan dan menetapkan kata yang ada hubungannya dengan kata lain.
5). Kesulitan dalam memahami sistem semantik. Banyak anak berkesulitan belajar yang memiliki kesulitan dalam membaca pemahaman, dalam matematika, dan dalam penalaran ruang dan waktu. Kesulitan ini diduga berkaitan dengan adanya kesulitan dalam pemrosesan bahasa auditoris. Anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan dalam bercerita dan penjelasan mereka sering tidak tersusun secara baik dan benar.
6). Transformasi semantik. Anak berkesulitan belajar .sering mengalami kesulitan dalam pembuatan transformasi semantik sehingga mengalami kesulitan dalam menggunakan kata banyak makna, langgam suara (idioms), dan kiasan (metaphors).
7). Implikasi semantik. Anak berkesulitan belajar sering rnengalami kesulitan dalam memahami pepatah, cerita perumpamaan, dongeng, atau mitos.
b. Kekurangan dalam Memori
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa anak berkesulitan belajar sering memperlihatkan kekurangan dalam memori auditoris. Adanya kekurangan dalam memori auditoris tersebut dapat menimbulkan kesulitan dalam memproduksi bahasa. Sering memperlihatkan adanya kekurangan khusus dalam mengulang urutan fonem, mengingat kembali kata-kata, mengingat simbol, dan memahami hubungan sebab-akibat.
c. Kekurangan Kemampuan Menilai
Penilaian merupakan bagian integral dari proses bahasa karena menjadi jembatan antara pemahaman dengan produksi bahasa. Anak berkesulitan belajar sering memiliki kesulitan daiam menilai kemantapan atau keajegan arti dari suatu kata baru terhadap informasi yang telah mereka peroleh sebelumnya. Akibatnya, anak mungkin akan menerirna saja kalimat atau kata yang salah. Anak juga sering mengalami kesulitan dalam mengenal kesalahan-kesalahan sintaksis, dan setelah mereka tahu kesalahan-kesalahan tersebut, mereka juga tidak dapat memperbaikinya.
d. Kekurangan Kemampuan Produksi Bahasa
Produksi bahasa akan dipermudah oleh adanya kemampuan mengingat, perilaku afektif dan psikomotorik yang baik. Karena anak-anak berkesulitan belajar umumnya memiliki taraf perkembangan berbagai kernampuan tersebut secara kurang memadai, maka mereka banyak yang mengalami kesulitan dalam memproduksi bahasa. Ada dua jenis kemampuan produksi bahasa, kemampuan produksi konvergen dan kernampuan produksi devergen. Kemampuan produksi konvergen berkenaan dengan kemampuan menggambarkan kesimpulan logis dari informasi verbal dan memproduksi jawaban semantik yang khas. Kemampuan produksi devergen berkenaan dengan kelancaran, keluwesan keaslian, dan keluasan bahasa yang diproduksi. Kemampuan produksi konvergen dapat dilihat dari kernarnpuan anak dalam (1) mengucapkan kata-kata dan konsep-konsep, (2) melengkapi asosiasi verbal dan analogi, (3) merumuskan gagasan dan problema-problema verbal, (4) merumuskan kembali konsep dan ide, dan (5) merumuskan berbagai alternatif pemecahan rnasalah. Anak-anak berkesulitan belaiar umumnya rnemiliki kesulitan dalam produksi konvergen maupub devergen.
e. Kekurangan Pragmatik
Anak berkesulitan belajar umumnya memperlihatkan kekurangan dalam mengajukan berbagai pertanyaan, memberikan reaksi yang tepat terhadap berbagai pesan, menjaga atau mempertahankan percakapan, dan mengajukan sanggahan berdasarkan argumentasi yang kuat. Anak berkesulitan belajar umumnya juga kurang persuasif dalam percakapan, lebih banyak mengalah dalam percakapan, dan kurang mampu mengatur cara berdialog dengan orang lain.

2. Setelah kita mengetahui penyebab gangguan ekspresi anak tersebut, maka kita memberikan intervensi atau program remedial yang ditujukan untuk menanggulangi kesulitan bahasa dengan cara :
a. Pendekatan Proses
Pendekatan proses (process approach) adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk memperkuat dan menormalisir proses yang berkaitan dengan proses dasar bahasa yaitu proses penerimaan bahasa dan proses rnengekpresikan bahasa. Dalam pelaksanaannya, pendekatan proses menekankan pada intervensi dalam bidang persepsi auditori, ingatan. asosiasi. Interpretasi dan ekspresi verbal. Kegiatan remedial (penanggulangan masalah kesulitan belajar) ditujukan untuk memperkuat pemahaman bahasa dan keterkaitan integratif antara persepsi auditori, ingatan. asosiasi, interpretasi yang sangat diperlukan dalam ekspresi verbal. Kegiatan ini dilakukan secara lisan dan tertulis. Dasar pemikiran yang digunakan dalam pendekatan proses adalah prinsip-prinsip psycholinguistic (Lovit, 1989: l6), seperti yang dijelaskan di bawah ini:
1). Berbagai kemampuan psycholingistic dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur kemampuan bahasa.
2). Pengembangan kemampuan dalam bidang psycholinguistic adalah penting karena menjadi dasar dalam pencapaian hasil belajar di bidang membaca, menulis dan berbagai tugas akademik lainnya.
3). Pencapaian hasil belajar di bidang akademik secara signifikan adalah hasil dari latihan dalam bidang psycholingistic.
b. Pendekatan Analisis Tugas
Pendekatan analisis tugas (task analysis approach) yang dikembangkan oleh Dunn & Smith, 1965 dan Coughrah & Liles. 1974, merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam upaya penanggulangan kesulitan bahasa. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak berkesulitan bahasa dengan jalan menganalisis arti kata (semantik), struktur bahasa (sintak dan morphologi) dan fungsi bahasa (pragmatik) secara bertahap dan dalarn tugas yang diuraikan secara rinci. Sebagai contoh ” makan” untuk rnenjelaskan makna makan maka pada anak diperlihatkan baik secara kongkrit ataupun melalui media (gambar, rekaman. dll) kegiatan individu yang sedang makan, diperlihatkan proses yang dilakukan dalam kegiatan makan, diperlihatkan perbandingan kegiatan makan dengan kegiatan yang lain seperti kegiatan dalam mencuci piring. Dalam setiap proses yang dilakukan dalam kegiatan tersebut, guru menyebutkan nama kegiatan yang sedang berlangsung dan meminta anak untuk menanggulanginya. Kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan sampai anak dapat memahami berbagai konsep yang berkaitan dengan kata “makan”.
c. Pendekatan Perilaku
Pendekatan Perilaku (behavioral approach) yang dikembangkan oleh Gray & Ryan. 1973) ditujukan untuk mengatasi masalah bahasa yang dialami anak yang berkesulitan bahasa dengan jalan melakukan perubahan perilaku berbahasa dan berkomunikasi yang diperlihatkan anak atau behavior modification. Dalam prosedur pelaksanaannya, pendekatan ini dilakukan dengan memperhatikan interaksi interpersonal anak dengan teman-teman sebayanya atau orang ,vang berada di sekitarnya, dan ungkapan-ungkapan verbal yang diperlihatkan oleh anak. Hasil observasi tersebut akan menjelaskan apakah perilaku anak dalam melakukan ungkapan verbal sesuai atau tidak sesuai dengan konteksnya dan temuan ini menjadi dasar untuk program remedial yang ditekankan pada perubahan perilaku yang bertujuan untuk perbaikan atau perubahan perilaku berbahasa dalam berkomunikasi, khususnya. dalam bahasa verbal.
d. Pendekatan Interpersonal Interakfif
Pendekatan interpersonal interaktif (personal interactive approach) yang dikembangkan oleh Walker. et al, 1983) bertujuan untuk memperkuat kemampuan bahasa dalam bidang pragmatik dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi anak yang berkesulitan bahasa. Secara khusus, tuiuan dari pendekatan ini adalah untuk memperkuat kemampuan dalam menginterpretasikan isyarat-isyarat bahasa secara kontekstual yang dapat merubah makna dari suatu ekspresi verbal. Seperti dalam ungkapan “Bukakan pintu” adalah kalimat perintah. kalimat ini akan berubah maknanya apabila diungkapkan dalam ekspresi verbal yang rnembentak “Bukakan pintu!” yang dapat diinterpretasi suatu ungkapan verbal yang menunjukkan kemarahan.
e. Pendekatan Pengaturan sistem Lingkungan secara Menyeturuh
Pendekatan Pengaturan sistem lingkungan secara menyeluruh (total environment system approach) bertujuan untuk melakukan intervensi bahasa dengan melakukan pengaturan sistem lingkungan secara menyeluruh, yang mencakup situasi dan peristiwa-peristiwa yang ada di dalamnya yang dapat mendorong anak untuk melakukan berbagai interaksi dalam berkomunikasi dan mengekspresikan bahasa verbal. (Leigh, l980 dalam Lovitt, l989: 169) mengemukakan bahwa pendekatan holistik yang dilakukan melalui pengaturan sistem lingkungan secara menyeluruh atau disebut dengan istilah “A Whole Language Aproach” merupakan pendekatan yang sangat efektif, khususnya untuk memperkuat kemampuan dan adaptasi berkomunikasi dalam berbagai bidang pekerjaan dan berbagai profesi. A whole Language Aproach juga sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan bahasa dan komunikasi anak usia dini, terutama bagi anak yang telah menguasai kemampuan dalam aturan-aturan dasar berbahasa (basic linguistic rules), ekspresi verbal dan pemahaman ungkapan bahasa verbal. Dengan demikian kemampuan menulis dan ungkapan tertulis tidak menjadi prasyarat dalam pelaksanaan pendekatan ini.

3. Apabila asesmen dan intervensi sudah dilakukan tetapi hasilnya belum sesuai harapan, maka anak tersebut sebaiknya kita rujuk ke ahli di bidangnya (dokter, psikiater, terapis, dll).

Daftar Pustaka
Abdurrahman, Mulyono. (2009). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Dardjowidjojo, Soenjono. (2005). Psikolinguistik-Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Jamaris, Martini. (2009). Kesulitan Belajar-Perspektif, asesmen dan Penanggulangannya,. Jakarta: Yayasan Penamas Murni.
Pusat Bahasa. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia-Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.


0 Responses to “Penanggulangan Gangguan Ekspresi Bahasa”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2010
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Laman

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 6 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: